Friday, 4 July 2003 | 665 views
Kutipan artikel dari yang tersebut dibawah.. penting buat dibaca. Saingan LINGKARAN SETAN-nya segi tiga saya PEJABAT-PENGUSAHA-PREMAN. Cuman ini lebih proporsional dan cakupan luas.. Eh artikel SEGI TIGA lingkaran SETAN saya itu mana yah..:P Oh iya kategori Politik saya lupakan rupanya, karena mendesak ya sudah masuk budaya deh. Keterlanjuran yang disengaja. Karena problem ini bukan lagi politik tapi sudah menjadi budaya Gila. [@more@]
Para anggota DPR pada mangkir lagi. Sidang paripurna tak mencapai kuorum lagi. Maka perubahan UU tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pun mentah lagi. Lalu sejumlah 219 anggota DPR yang pada datang terlambat itu pulang lagi, menyusul 268 rekannya yang raib entah ke mana. Dan Pak Tua Soetardjo Soerjogoeritno, Wakil Ketua DPR yang mimpin sidang, hanya bisa manyun menyaksikan ratusan kursi yang tetap melompong sekalipun jadwal sidang sudah dimolorkan beberapa jam. Dan semua media massa mencatat peristiwa Senin 23 Juni 2003 itu di halaman kertas biasa, sebagai peristiwa biasa.
Kini tinggal kita yang terbengong-bengong menyaksikan kejadian itu. Ada apa dengan para anggota DPR kita? Apakah mereka tidak tahu bahwa ongkos untuk mengirimkan mereka ke Senayan alangkah beratnya? Tahukah mereka bahwa rakyat tetap bersedia mengongkosi mereka meskipun harus meneteskan darah, keringat dan air mata? Dan tahukah mereka bahwa rakyat yang terus menderita mau membiayai mereka karena rakyat banyak berharap pada mereka?
Berani taruhan, separuh lebih anggota DPR kita tak akan bisa menjawab rangkaian pertanyaan itu. Bukan karena mereka demikian bodohnya. Tetapi karena mereka memang tak ingin ditanya-tanya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab semua pertanyaan itu bagi mereka seperti “Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung, goblok…!”
Soalnya mereka merasa bisa jadi anggota Dewan atas perjuangan sendiri. Dan kenyataannya memang berjuang sendiri. Ada yang karena keluarganya pengurus partai, ada yang pakai sistem bayar di muka pada petinggi partai agar namanya dicantumkan dalam daftar “nomer jadi”. Ada juga yang modal nekat, mengandalkan kekuatan fisik, berani berhadapan dengan penguasa. Ini terjadi di partai-partai yang dulunya ditekan penguasa (Orde Baru). Jadi ini memang lingkaran setan.
Maka masuk akal cerita teman saya yang anggota DPR. Katanya, ia mendengar rekannya dari partai yang tersebut di atas bicara lantang pada teman-temannya. “Kita harus bikin pernyataan keras tentang RUU Pemilihan Presiden, kita ngotot 20%. Agar dalam menghadapi Panja Sukhoi kita punya gardaning power…!” Teman saya bingung. Apa maksudnya “gardaning power” itu. Usut punya usut ternyata yang dimaksud bargaining power. Dan anggota DPR yang bicara lantang itu sebelumnya adalah montir mobil. Biasa dengan istilah gardan, oli gardan….
Ya, bicara tentang anggota DPR memang menyedihkan. Bukan saja karena kualitasnya rendah dan tidak memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Tapi karena mereka itulah denyut jantung kehidupan bangsa. Di tangan mereka tata kehidupan kita dirancang, diarahkan. Sebagai anggota jaringan legislatif, tugas mereka memang membuat, merancang dan menentukan aturan apa yang harus kita ikuti. Memilih orang kayak apa yang harus kita junjung tinggi sebagai pemimpin bangsa, dan sebagainya.
***
Di atas DPR masih ada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Tapi karena 500 dari total 700 anggotanya adalah anggota DPR, terang saja warna MPR setali tiga uang. Artinya, sama-sama lebih mementingkan fasilitas dan uang dibandingkan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Dan studi banding ke negara-negara tujuan wisata di Asia dan Eropa, bersama keluarga, adalah pekerjaan paling disuka. Tidak penting rakyat dan bangsa ini masih dalam keadaan genting.
Kritik dari publik atas tingkah-laku mereka bukannya tak ada. Mulai dari yang halus, jenaka sampai kasar, bahkan tak jarang disatroni ribuan demonstan, mereka bergeming. Mereka juga tidak perduli dalam ratusan polling, jajak pendapat, yang diselenggarakan berbagai lembaga survei dari waktu ke waktu menunjukkan kadar kepercayaan rakyat yang terus anjlok. Makin lama makin parah.
Saya pernah bertanya kepada teman saya anggota DPR dari partai yang pernah berjaya di masa silam tentang hal ini, tentang kenapa DPR tidak mau memperdulikan nasib rakyat. Pertanyaan saya dijawab dengan pertanyaan lagi: “Lho, apakah masyarakat punya keperdulian kepada nasib kami setelah tidak jadi anggota Dewan?” Itulah sebabnya dari awal ia sudah berbulat tekad akan memanfaatkan empat tahun kedudukannya sebagai anggota Dewan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya.
Teman saya tidak sendirian. Mayoritas anggota Dewan berpikir seragam. Dan kita bisa buktikan ini dengan membandingkan kekayaan mereka, saat sebelum dan sesudah jadi anggota Dewan. Kekayaan beberapa anggota DPR yang saya kenal memperlihatkan kenaikan kekayaan yang signifikan. Bila dihitung sampai setelah berhasil melengserkan Gus Dur lewat SI MPR pada Juli 2001, dugaan saya, paling sedikit terjadi kenaikkan 200%.
***
Setiap bicara soal lembaga legislatif periode sekarang, saya selalu teringat pada peristiwa yang terjadi beberapa hari menjelang SI yang melengserkan Gus Dur itu. Ketika itu datang politisi pengusaha sukses ke rumah pengusaha yang dekat dengan Gus Dur yang juga saya kenal baik. Dalam pembicaraan malam itu, dapat disimpulkan begini: Sebaiknya Gus Dur datang saja ke SI dan ngomong apa saja. Nanti akan divoting, dan ia menjamin Gus Dur akan lolos. “Kami akan membeli sejumlah 400 suara mereka seharga dua kali lipat dari yang mereka terima. Sebagai imbalan, ia minta tiga departemen (Dalam Negeri, Keuangan dan Perindustrian dan Perdagangan).
Pembicaraan ini kemudian disampaikan ke Gus Dur. Dan setelah terdiam beberapa saat, Gus Dur menjawab, “Kalau begitu caranya, ya biarin saja, kita lawan mereka…” Rupanya Gus Dur lebih memilih mempertaruhkan jabatannya dibandingkan menggadaikan kekuasaannya hanya agar posisinya sebagai Presiden RI selamat.
Makanya, sampai saat ini saya tetap berpendapat Maklumat yang dikeluarkan Gus Dur di hari menjelang SI, yang isinya antara lain pembekukan (ingat, bukan pembubaran) DPR/MPR untuk kemudian mempercepat pemilu, adalah keputusan yang tepat dan strategis bagi perjalanan bangsa ini ke depan. Sebab dengan pengetahuan tentang politik dan demokrasi yang lebih baik, dalam pemilu yang dipercepat itu rakyat bisa menentukan pilihannya secara lebih rasional.
Tapi biasakah rakyat berpikir lebih jernih dan rasional di saat kondisi perekonomian nasional begini parah? Ini memang lingkaran setan. Tepatnya, ada setan melingkar di DPR, melingkari nasib bangsa. Karena itukah kita jadi susah keluar dari penderitaan yang sudah menahun ini?
(Koran Tempo, 30/6/2003)
Adhie M Massardi
Posted in Intermezzo | No Comments »