Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Dapatkan Cash Back 10% Dari Biaya Pendaftaran Bagi Pendaftar Yang Mengajak Satu Orang Lainnya Sebagai Peserta. Berlaku Kelipatannya.

Archive for 2003

Agama Modern

Thursday, 17 July 2003 | 777 views

Ini hanya pikiran yang sempat lewat dalam perenungan. Memikirkan bagaimana sebenarnya eksistensi agama di setiap nurani orang. Baragkali selama ini agama memang memicu polemik tak hanya pada tingkat sosial, tapi juga pada tingkat psikis setiap individu. Diakui atau tidak sebenarnya itu terjadi. Memang mendasar pada dialektika IDEALISME versus REALITAS kiranya. Tapi tanpa bukti sangkaan ini tak begitu berdasar.
Baca selengkapnya »

Setan Melingkar di Gedung DPR

Friday, 4 July 2003 | 665 views

Kutipan artikel dari yang tersebut dibawah.. penting buat dibaca. Saingan LINGKARAN SETAN-nya segi tiga saya PEJABAT-PENGUSAHA-PREMAN. Cuman ini lebih proporsional dan cakupan luas.. Eh artikel SEGI TIGA lingkaran SETAN saya itu mana yah..:P Oh iya kategori Politik saya lupakan rupanya, karena mendesak ya sudah masuk budaya deh. Keterlanjuran yang disengaja. Karena problem ini bukan lagi politik tapi sudah menjadi budaya Gila. [@more@]
Para anggota DPR pada mangkir lagi. Sidang paripurna tak mencapai kuorum lagi. Maka perubahan UU tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pun mentah lagi. Lalu sejumlah 219 anggota DPR yang pada datang terlambat itu pulang lagi, menyusul 268 rekannya yang raib entah ke mana. Dan Pak Tua Soetardjo Soerjogoeritno, Wakil Ketua DPR yang mimpin sidang, hanya bisa manyun menyaksikan ratusan kursi yang tetap melompong sekalipun jadwal sidang sudah dimolorkan beberapa jam. Dan semua media massa mencatat peristiwa Senin 23 Juni 2003 itu di halaman kertas biasa, sebagai peristiwa biasa.

Kini tinggal kita yang terbengong-bengong menyaksikan kejadian itu. Ada apa dengan para anggota DPR kita? Apakah mereka tidak tahu bahwa ongkos untuk mengirimkan mereka ke Senayan alangkah beratnya? Tahukah mereka bahwa rakyat tetap bersedia mengongkosi mereka meskipun harus meneteskan darah, keringat dan air mata? Dan tahukah mereka bahwa rakyat yang terus menderita mau membiayai mereka karena rakyat banyak berharap pada mereka?

Berani taruhan, separuh lebih anggota DPR kita tak akan bisa menjawab rangkaian pertanyaan itu. Bukan karena mereka demikian bodohnya. Tetapi karena mereka memang tak ingin ditanya-tanya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab semua pertanyaan itu bagi mereka seperti “Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung, goblok…!”

Soalnya mereka merasa bisa jadi anggota Dewan atas perjuangan sendiri. Dan kenyataannya memang berjuang sendiri. Ada yang karena keluarganya pengurus partai, ada yang pakai sistem bayar di muka pada petinggi partai agar namanya dicantumkan dalam daftar “nomer jadi”. Ada juga yang modal nekat, mengandalkan kekuatan fisik, berani berhadapan dengan penguasa. Ini terjadi di partai-partai yang dulunya ditekan penguasa (Orde Baru). Jadi ini memang lingkaran setan.

Maka masuk akal cerita teman saya yang anggota DPR. Katanya, ia mendengar rekannya dari partai yang tersebut di atas bicara lantang pada teman-temannya. “Kita harus bikin pernyataan keras tentang RUU Pemilihan Presiden, kita ngotot 20%. Agar dalam menghadapi Panja Sukhoi kita punya gardaning power…!” Teman saya bingung. Apa maksudnya “gardaning power” itu. Usut punya usut ternyata yang dimaksud bargaining power. Dan anggota DPR yang bicara lantang itu sebelumnya adalah montir mobil. Biasa dengan istilah gardan, oli gardan….

Ya, bicara tentang anggota DPR memang menyedihkan. Bukan saja karena kualitasnya rendah dan tidak memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Tapi karena mereka itulah denyut jantung kehidupan bangsa. Di tangan mereka tata kehidupan kita dirancang, diarahkan. Sebagai anggota jaringan legislatif, tugas mereka memang membuat, merancang dan menentukan aturan apa yang harus kita ikuti. Memilih orang kayak apa yang harus kita junjung tinggi sebagai pemimpin bangsa, dan sebagainya.

***
Di atas DPR masih ada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Tapi karena 500 dari total 700 anggotanya adalah anggota DPR, terang saja warna MPR setali tiga uang. Artinya, sama-sama lebih mementingkan fasilitas dan uang dibandingkan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Dan studi banding ke negara-negara tujuan wisata di Asia dan Eropa, bersama keluarga, adalah pekerjaan paling disuka. Tidak penting rakyat dan bangsa ini masih dalam keadaan genting.

Kritik dari publik atas tingkah-laku mereka bukannya tak ada. Mulai dari yang halus, jenaka sampai kasar, bahkan tak jarang disatroni ribuan demonstan, mereka bergeming. Mereka juga tidak perduli dalam ratusan polling, jajak pendapat, yang diselenggarakan berbagai lembaga survei dari waktu ke waktu menunjukkan kadar kepercayaan rakyat yang terus anjlok. Makin lama makin parah.

Saya pernah bertanya kepada teman saya anggota DPR dari partai yang pernah berjaya di masa silam tentang hal ini, tentang kenapa DPR tidak mau memperdulikan nasib rakyat. Pertanyaan saya dijawab dengan pertanyaan lagi: “Lho, apakah masyarakat punya keperdulian kepada nasib kami setelah tidak jadi anggota Dewan?” Itulah sebabnya dari awal ia sudah berbulat tekad akan memanfaatkan empat tahun kedudukannya sebagai anggota Dewan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya.

Teman saya tidak sendirian. Mayoritas anggota Dewan berpikir seragam. Dan kita bisa buktikan ini dengan membandingkan kekayaan mereka, saat sebelum dan sesudah jadi anggota Dewan. Kekayaan beberapa anggota DPR yang saya kenal memperlihatkan kenaikan kekayaan yang signifikan. Bila dihitung sampai setelah berhasil melengserkan Gus Dur lewat SI MPR pada Juli 2001, dugaan saya, paling sedikit terjadi kenaikkan 200%.

***
Setiap bicara soal lembaga legislatif periode sekarang, saya selalu teringat pada peristiwa yang terjadi beberapa hari menjelang SI yang melengserkan Gus Dur itu. Ketika itu datang politisi pengusaha sukses ke rumah pengusaha yang dekat dengan Gus Dur yang juga saya kenal baik. Dalam pembicaraan malam itu, dapat disimpulkan begini: Sebaiknya Gus Dur datang saja ke SI dan ngomong apa saja. Nanti akan divoting, dan ia menjamin Gus Dur akan lolos. “Kami akan membeli sejumlah 400 suara mereka seharga dua kali lipat dari yang mereka terima. Sebagai imbalan, ia minta tiga departemen (Dalam Negeri, Keuangan dan Perindustrian dan Perdagangan).

Pembicaraan ini kemudian disampaikan ke Gus Dur. Dan setelah terdiam beberapa saat, Gus Dur menjawab, “Kalau begitu caranya, ya biarin saja, kita lawan mereka…” Rupanya Gus Dur lebih memilih mempertaruhkan jabatannya dibandingkan menggadaikan kekuasaannya hanya agar posisinya sebagai Presiden RI selamat.

Makanya, sampai saat ini saya tetap berpendapat Maklumat yang dikeluarkan Gus Dur di hari menjelang SI, yang isinya antara lain pembekukan (ingat, bukan pembubaran) DPR/MPR untuk kemudian mempercepat pemilu, adalah keputusan yang tepat dan strategis bagi perjalanan bangsa ini ke depan. Sebab dengan pengetahuan tentang politik dan demokrasi yang lebih baik, dalam pemilu yang dipercepat itu rakyat bisa menentukan pilihannya secara lebih rasional.

Tapi biasakah rakyat berpikir lebih jernih dan rasional di saat kondisi perekonomian nasional begini parah? Ini memang lingkaran setan. Tepatnya, ada setan melingkar di DPR, melingkari nasib bangsa. Karena itukah kita jadi susah keluar dari penderitaan yang sudah menahun ini?

(Koran Tempo, 30/6/2003)

Adhie M Massardi

Agama dan Kehidupan

Monday, 30 June 2003 | 998 views

Sebenarnya ini hanyalah artikel lepas buat yang terhormat Abu Ihsan yang mengisi di tag dengan komentar islamisnya. Barangkali aku agak mengerti khalfiyat kehidupannya. Orang-orang seperti ini biasanya orang yang terkurung di dunianya dengan surga sehingga Sunnah lah selalu yang menjadi topik perbincangannya.

Aku sendiri tak terlalu mengerti, coba tanya mereka? Pasti karena ingin Surga di akhirat. Akhirat itu sendiri mungkin mereka tak mengerti seperti apa. Sejujurnya aku sama sekali tak pernah memprotes Sunnah. Malah yang seringkali menjadi pertanyaanku, kenapa sunnah itu terbatas sedemikian rupa, symbolis sesuai keinginan yang menafsirkannya. Bolehlah akan terjadi perbedaan yang berdasar.
Baca selengkapnya »

BackOrifice2 Fixing

Monday, 30 June 2003 | 1,319 views

This guide will describe how to remove the Back Orifice Backdoor
Version 2 (also referred to as BO) from your system.
Brought to you by #hackfix @EFNet, written by Disturbed and Snowz.
Baca selengkapnya »

Rumah Mahasiswa

Friday, 20 June 2003 | 389 views

"Pak Duta sudah berhasil mengumpulkan dana 2 Milyar.." Dan ia pun semakin kukuh kedudukannya, pikirku. Sedikit banyaknya ini adalah prestasi. Semoga saja priyayi jabatan dan uang sudah cukup baginya. Dan ini murni karena moral sesama anak bangsa. Semoga saja..!

Temanku satu ini berusaha mengajakku bicara. Sudah dua kali dia mondar mandir ke kamar dan mencoba membuka topik yang sama. Tapi kali ini agak lama. Menunggu perhatian, pikirku. Dan bila aku mengeluarkan kata, tentu saja percakapan ini berlanjut biasanya sampai pagi pula. Sayang jarang sekali aku temukan kesimpulan. Aku masih acuh. Pikiranku sedang melayang memikirkan keterhubungan bentuk kolonialis lama dan bentuk yang ada sekarang. Kalau dulu agak kentara. Sekarang berubah menjadi halus dan tak terasa, tapi dampaknya sudah menjalar kemana-mana. Bolehlah kita namakan bentuknya Win-Win Solutions.
Baca selengkapnya »

Seribu Wajah

Friday, 20 June 2003 | 686 views

Aku coba-coba mendalami hati dan alam pikirannya setelah kejadian siang ini. Adakah Ia menyesal mengenalku yang keras kepala seperti ini? Dan sangat kebetulan sekali perkenalan ini dekat bahkan sangat dekat. Bisa jadi juga dia merasa terjebak karena terpaksa kenal dekat dari wajahku yang lain. Ketika muncul wajah lain lagi—apalagi ituyang mendekati wajah yang sebenarnya—dia tak sanggup memahaminya.

Bukan begitu. Ini terlalu kasar. Tapi katakanlah dia bingung menghadapinya. Dari mana munculnya? Adakah dia orang yang sama? Dan itu mungkin saja untuk sementara waktu.
Baca selengkapnya »


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker