Ketika Banyak ‘Rumah Allah’ Selamat
6 January 2005 – 12:25 amGEMPA tektonik yang disusul gelombang tsunami, Minggu pagi, 26 Desember lalu, telah memporak-porandakan sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), merenggut puluhan ribu nyawa dan lebih dari 300.000 lainnya terpaksa mengungsi. [@more@]
Tapi di antara puing-puing reruntuhan rumah dan bangunan yang roboh digoyang gempa dan dihantam tsunami, masih cukup banyak masjid yang berdiri kokoh di hampir seluruh penjuru Aceh. Malah, rumah Allah sempat menjadi tempat bernaungnya warga sehingga mereka selamat.
Di beberapa tempat, masjid pula yang dijadikan warga sebagai tempat penampungan para pengungsi. Selain masjid, pengungsi juga menempati meunasah atau gedung sekolah. Mereka juga mendiami lapangan terbuka berdekatan dengan masjid.
Memang rakyat Aceh yang mayoritas pemeluk agama Islam, tidak bisa lepas dari masjid. Sebelum bala dan cobaan Allah datang, mungkin banyak dari umat yang melupakan masjid.
Banyak keajaiban yang sulit diterima akal manusia dengan selamatnya masjid. Padahal rumah-rumah dan bangunan di sekitarnya sudah ambruk dan rata dengan tanah. Banyak pula kisah-kisah, yang bernuansa gaib dialami mereka ketika mencari perlindungan dalam rumah Allah. Hanya orang-orang berimanlah yang mempercayainya!
Sebut saja mengenai pengalaman yang dialami ratusan warga Desa Pasi Lhok di Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie. Desa di pesisir pantai Selat Malaka yang terletak sekitar 20 kilometer timur Sigli, ibukota Pidie, luluh-lantak diterjang gelombang tsunami. Tetapi, dua masjid yang terletak sekitar 30 meter dari bibir pantai di desa itu tetap tegak berdiri hingga kini.
Ajaib memang. Air bah yang disebabkan gelombang tsunami sama sekali tidak menyentuh lantai masjid padahal saat bencana terjadi, menurut warga setempat, ketinggian air mencapai tiga meter. Seratusan warga setempat yang bernaung dalam rumah Allah itupun selamat. Warga baru meninggalkan masjid untuk mengungsi setelah air surut.
Ketika Serambi bertandang ke Pasi Lhok, Jumat (31/12) silam, lantai masjid yang terbuat dari keramik warna putih terlihat bersih. Tidak ada sama sekali tanda-tanda air masuk ke dalam masjid yang dibangun warga setempat, yang berprofesi sebagai nelayan dan petambak udang.
Apakah lantai masjid itu sudah dibersihkan warga? Jawabannya tidak! Sebab, semua warga Pasi Lhok bersama enam desa lainnya meninggalkan kampungnya untuk mengungsi di pusat pasar kecamatan Kembang Tanjung yang jaraknya, sekitar 8 kilometer. Kalau memang sudah dibersihkan, pasti terdapat sisa-sisa bekas air meluap. Tapi, itu tidak ada sama sekali. Bekas air hanya terlihat pada anak tangga kedua masjid. Dan di beberapa rumah yang dalam kondisi rusak parah terlihat bekas air dua hingga tiga meter. Saat gelombang menerjang, menurut warga setempat, sekitar 100 orang lebih berlindung dalam masjid baru.
Di Banda Aceh dan Aceh Besar juga masih banyak masjid tetap berdiri kokoh. Begitupun, beberapa di antara mengalami rusak parah, seperti Masjid Al-Makmur di kawasan Lampriet, Kota Banda Aceh, dimana kubah masjid ini ambruk ke lantai. Pekarangan masjid juga dipenuhi lumpur yang dibawa air dari gelombang tsunami.
Begitu juga Masjid Raya Baiturrahman. Masjid bersejarah masih tetap selamat meski halamannya dipenuhi puing-puing dan batang kayu, yang diseret gelombang. Di Beberapa sudut lantai masjid kebanggaan orang Aceh ini juga jadi tempat penampungan jenazah-jenazah korban hingga beberapa hari setelah bencana. nurdin hasan
——————————————————————————–
Copyright © 2003 Banjarmasin Post











