Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Laporan tentang 4 orang relawan wanita Tiongkok berjuang di Banda Aceh.

26 January 2005 – 5:49 am

Di Banda Aceh, 4 orang anggota tim relawan wanita asal Tiongkok masing-masing selalu menarik perhatian. Tiap kali mereka melaksanakan tugas pertolongan medis, mereka beserta rekan-rekan prianya sama-sama memanggul ransel berat di punggung masing-masing; tiap kali menghadapi & mengobati para korban luka akibat Tsunami, raut wajah mereka dari awal hingga akhir tak pernah absen dari senyum manisnya.. Ini merupakan kali pertama Tiongkok mengirim tim medis wanita untuk bersama-sama relawan Internasional lainnya melakukan kegiatan pertolongan.

[@more@]
Berikut adalah pengakuan polos dari mereka :

Wang Xi : Tak Menyia-Nyiakan Kesempatan Yang Diberikan Oleh Negara.
33 Tahun, profesi dokter ahli yang bertugas di unit gawat darurat Rumah Sakit Pusat Kepolisian RRT.

“Saya bukanlah seorang yang kaya, juga tak punya kemampuan ekonomi lebih untuk membantu korban bencana. Negara memberi saya kesempatan ini, menyediakan anggaran bagi saya guna berangkat menuju daerah bencana, menolong penduduk yang terluka akibat bencana, bagaimana saya bisa punya alasan untuk tidak melakukan kewajiban ini sebaik-baiknya ? ” Wang Xi setelah selesai berucap, nampak sepasang matanya berkaca-kaca.

Sesaat setelah tiba di Banda Aceh, ia segera mengobati korban luka-luka selama 4 jam nonstop tanpa istirahat di tenda posko bandara. Wang Xi yang sudah berkiprah sebagai dokter selama 10 tahun pada saat melihat kondisi para korban bencana, sangat terharu dan trenyuh: “Begitu banyak warga yang terluka, seandainya mereka bisa memperoleh pengobatan lebih dini, masalah yang dihadapi mungkin bisa diperkecil. Namun sekarang mayoritas warga yang terluka semuanya mengalami infeksi dan bernanah, lukanya harus dibersihkan terlebih dahulu, lalu dijahit dan diberi obat baru, bahkan ada yang harus dioperasi. Apabila luka-luka mereka terlalu lambat diobati, ada kemungkinan harus dilakukan amputasi terhadap beberapa anggota tubuhnya.”

Demi menyelamatkan lebih banyak nyawa para korban luka, selama beberapa hari berikutnya, Wang Xi dan rekan-rekan prianya sesama dokter harus sama-sama “berjuang” keras. Selama 9 hari, terhitung dia telah mengobati lebih dari 500 orang.

Di siang hari Wang Xi pergi ke lokasi bencana menolong para korban luka, malam harinya ia juga masih amat sibuk. Di antara rekan-rekan sesama timnya, dia dikenal karena kecermatan dan ketelitiannya.

Sejumlah besar perlengkapan baik alat-alat maupun obat-obatan, dipisah-pisahkannya dalam beberapa puluh kotak besar. Tiap malam, Wang Xi selalu berada di tenda sambil menyiapkan dan memilah-milah semua keperluan pengobatan yang dimasukkan ke semua ransel rekan-rekan relawan medisnya.

Suatu kali, tiba-tiba terjadi perubahan susunan tim pengobatan, ransel-ransel yang sudah terisi rapi, detik itu juga harus dibongkar ulang isinya dan disesuaikan lagi. Saat itu udara di dalam tenda sangat panas, di raut wajah Wang Xi bercucuran peluh dan keringat.

Sekonyong-konyong ada sebuah pesawat helikopter yang baru tinggal landas dari markasnya terbang rendah melewati tenda, kekuatan angin yang begitu kuat dari baling-baling helikopter menyebabkan tenda yang didiami Wang Xi terangkat seolah-olah mau tercerabut, botol botol cairan infus yang masih tergantung seketika jatuh menimpa punggung atasnya, ia jatuh tertelungkup di lantai, telapak tangannya mengalami luka lecet-lecet, obat-obatan yang baru selesai disusun rapi semuanya berantakan di lantai. Wang Xi segera membalut lukanya secara sederhana, lantas tetap meneruskan pekerjaannya sampai larut malam.

Keesokan harinya, anggota tim relawan lainnya dengan mudah menemukan obat-obatan yang telah dimasukkan rapi ke dalam ransel masing-masing. Sedangkan Wang Xi sendiri akibat kelelahan yang amat sangat sekujur badannya membengkak, “raut wajahnya nampak seperti orang obesitas”.

Liu Yahua : membawakan senyum ramah Tiongkok untuk daerah bencana.
28 tahun, profesi dokter di unit gawat darurat Rumah Sakit Pusat Kepolisian RRT.

“Beberapa hari ini, yang paling membuat saya gembira adalah tatkala menyaksikan anak-anak di daerah bencana sudah mulai melepaskan diri dari penderitaan akibat bencana, saya lihat mereka sudah mulai menampakkan gairah kehidupan. Mereka adalah semangat untuk membangun kembali daerah bencana ini, senyum dan tawa mereka menjanjikan kesempatan kehidupan yang baru.”

Liu Yahua yang secara alami bersifat periang sangat menyukai anak-anak. Di kalangan tim relawan Internasional Tiongkok dia dijuluki sebagai “Duta Besarnya Anak Anak”. Pada hari pertama setibanya ia di Banda Aceh, di tengah-tengah saat mengadakan pengobatan pertama kalinya, ada seorang anak perempuan Aceh berusia kurang lebih 10 tahun bernama Tuti dibawa oleh ibunya menemui Liu Yahua. Liu Yahua segera memeriksa kondisi anak ini dengan teliti, kelihatan sekujur tubuh anak ini membiru kecoklatan, kulit tubuhnya terluka terkena air laut dan sudah terinfeksi.

Liu Yahua segera membersihkan semua lukanya dan mengganti obatnya. Gadis kecil ini mulai tersenyum, berkata kepada ibunya bahwa ia sudah tak begitu merasakan sakit lagi. Senyum dan tawa gadis kecil ini sungguh meninggalkan kesan amat dalam bagi Liu Yahua. Dia bertekad akan mengupayakan agar lebih banyak lagi anak-anak bisa tertawa dan tersenyum.

Di Banda Aceh di lokasi Lhok Nga ada lokasi pengungsian, tiap kali Liu Yahua datang mengadakan pengobatan disini, di belakangnya selalu mengekorinya suara-suara riuh rendah anak-anak kecil. Nampak sekali di sanubari anak-anak itu, Liu Yahua adalah orang yang paling disukai mereka. Tiap kali di tengah-tengah proses pengobatan, dia selalu berusaha berkomunikasi dengan anak-anak baik dengan kata-kata maupun isyarat tangan, dia selalu tersenyum untuk menghibur anak-anak, selain itu juga mengajari anak-anak itu beberapa kosa kata bahasa mandarin.

Pada saat ia bersiap-siap meninggalkan mereka, tak sedikit diantara anak-anak itu menggandoli tangannya sambil berucap dalam bahasa mandarin : “Zhongguo, Wo Ai Ni..”

Ketangkasan dan kesigapan dalam menunaikan tugas yang dilakukan oleh para dokter Tiongkok ini sangat mengetuk hati para penduduk di wilayah ini, pada saat wartawan ini datang berkunjung sekali lagi ke lokasi ini, banyak warga menyunggingkan senyumnya sambil sabar menunggu di depan lokasi pengungsian..

Gao Ge: dengan keahliannya sehingga memperoleh pujian dari anggota relawan Internasional lainnya.
28 tahun, profesi perawat di Rumah Sakit Pusat Kepolisian RRT.

Sebagai seorang peneliti di bidang perawatan medis, keahlian yang dimiliki oleh Gao Ge ternyata diakui dan dipuji oleh relawan dari berbagai negara yang bertugas mengevakuasi korban luka-luka.

Tanggal 3 Januari, tim relawan medis Tiongkok memperoleh undangan dari para relawan evakuasi dari berbagai negara yang berposko di lokasi bandara, untuk membantu melakukan tugas merawat para korban luka-luka. Tim evakuasi terdiri atas relawan dari 7 negara diantaranya Tiongkok, Amerika, Australia dan sejumlah negara lain.

Pada siang hari tanggal 4 Januari, helikopter datang mengangkut 6 orang pasien. Karena lama terendam air dan kekurangan nutrisi, mereka harus segera memperoleh tambahan nutrisi via infus, namun apa daya pembuluh darah mereka sudah berkontraksi, sehingga untuk mencari jalur pembuluh darah yang benar di tubuh mereka sungguh suatu kesulitan yang luar biasa.

Di tengah kondisi seperti itu, pasien juga berada dalam keadaan bahaya, jika jarum infus sampai ditusukkan di tempat yang salah maka akan berakibat fatal. Saat itu, beberapa perawat dari berbagai negara hanya bisa saling memandang satu sama lain, ada seseorang yang mengajukan usul untuk langsung dievakuasi ke tempat lainnya.

Saat itu Gao Ge yang sedang membantu dokter memeriksa pasien sama sekali tidak menampakkan rasa ragu-ragu, sambil menggenggam plester untuk menghentikan pendarahan, dengan teliti dicarinya pembuluh darah di tubuh pasien, kemudian dikeluarkannya jarum infus, dengan satu kali tusuk langsung tepat di pembuluh darah pasien !

Demikianlah selanjutnya 3 pasien sekaligus sukses beruntun memperoleh cairan infus dengan cara yang sama satu kali tusuk. Beberapa perawat yang berbeda warna kulit saat itu sambil terbelalak memandang ke arahnya, mereka sampai sulit berkata-kata, beberapa orang dokter di ruang itu serempak memuji : “Very Good” !

Seiring dengan kedatangan petugas / relawan medis secara terus-menerus ke Banda Aceh, kekurangan tenaga dokter nampaknya bisa teratasi, namun kekurangan tenaga perawat merupakan masalah yang sangat memusingkan departemen kesehatan setempat terutama rumah sakit yang terkait.

Gao Ge diundang oleh perawat lokal guna memberikan bimbingan kepada mereka secara kilat. Gao Ge berkata : “Pada saat seperti itu, saya sudah lupa berapa banyak orangnya, saya hanya berpikir apa yang saya kuasai dan mengerti sebisa mungkin saya ajarkan kepada mereka .. ”

Wu Min : Hati Kasih Tak Mengenal Batas-Batas Negara
27 tahun, profesi perawat di Rumah Sakit Pusat Kepolisian RRT.

Tanggal 8 Januari, di sebuah rumah sakit di Banda Aceh, seorang bayi yang baru berusia 8 hari diserahkan kepada Wu Min. Dia merupakan pasien yang menderita kekurangan nutrisi yang parah, juga merupakan pasien termuda yang dirawat oleh tim relawan medis asal Tiongkok.

Memandang ke sosok tubuh mungil nan kurus dan kulitnya yang keriput itu, hati Wu Min merasa sangat iba ” Untuk bayi-bayi yang dilahirkan tepat di saat saat bencana Tsunami melanda, kehidupan manusia sungguh dipenuhi cobaan.” Setelah membantu dokter mengobati bayi tersebut, dengan sangat hati-hati Wu Min memberi susu bayi kepada bayi itu. Setelah bayi itu cukup kenyang, barulah dia bisa menghela napas lega ..

Bayi itu adalah salah satu dari sekian banyak bayi dan anak-anak yang diserahkan kepada Wu Min untuk dirawat. Jangan memandang bahwa dia termasuk paling muda di antara tim relawan medis asal Tiongkok, sesungguhnya dia sudah berprofesi sebagai perawat semenjak 5 tahun silam, boleh dikata dia sudah cukup kenyang pengalaman.

Pada tahun 2003 saat wabah SARS melanda, dia juga termasuk salah satu dari barisan perawat yang berada paling depan. “Bencana Tsunami disini dengan wabah SARS di Tiongkok, sama-sama merupakan musibah yang besar bagi umat manusia.” Begitulah Wu Min yang selama karirnya menghadapi 2 kali bencana besar, apapun yang dikatakannya, begitu pula dilaksanakannya.

Suatu kali, di tengah-tengah tim evakuasi dari berbagai negara, Wu Min melihat seorang anak yang patah tulang paha kanannya dan lama terendam air. Segera ia membawakan makanan dan air, dengan pelan-pelan ditegakkannya anak itu, sedikit demi sedikit disuapinya makanan. Ayah dari anak itu melihat Wu Min begitu penuh perhatian, dengan jari-jarinya ia memberi isyarat kepada Wu Min bahwa sebelumnya ia punya 5 anak, dan kini hanya tersisa 1 anak di depannya ini yang masih selamat.

Sembari demikian wajah ayah dari anak itu tenggelam dalam kesedihan, tak terasa Wu Min pun juga merasa air mata hangat mengalir dari kelopak matanya. Justru pada saat itu, tanah tiba-tiba mulai bergetar, sisa-sisa gempa bumi terjadi lagi. Anak itu dengan panik mulai berteriak ketakutan, Wu Min segera mendekap anak itu dan memeluknya erat-erat…

Di Banda Aceh, bencana maha dahsyat menyebabkan korban jiwa dan luka-luka demikian besar, begitu banyak penduduk yang mengalami luka di tubuhnya, hati dan pikiranpun dipenuhi bayang-bayang ketakutan.

Dalam kondisi seperti itulah, meskipun bahasa dan komunikasi kadang menjadi kendala, namun Wu Min tetap yakin : “Hati kasih tak kenal batas negara, hanya dengan hati tuluslah, warga di lokasi bencana dapat merasakannya !”

(ditulis oleh wartawan khusus Harian Rakyat Renmin Ribao yang bertugas di Indonesia. Zhao Yahui)

Dikutip dan diterjemahkan dari Harian Qiandao Ribao terbitan Surabaya edisi 17 Januari 2005.

One Response to “Laporan tentang 4 orang relawan wanita Tiongkok berjuang di Banda Aceh.”

  1. 1
    a0z0ra Says:

    What a nice story. Kepedulian tidak mengenal politik dan suku bangsa.

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker