Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

PENELITIAN BUDAYA DAYAK atau PENINDASAN BUDAYA DAYAK? (Tanggapan Atas Buku Terbitan LIPI)

2 March 2005 – 7:28 am · diperbarui: 11 Nov 2009

Oleh: Marko Mahin*

“Kami menghormati adat, budaya dan keyakinan yang mungkin berbeda dengan Dayak. Kami berharap pula penghargaan serupa bisa kami dapatkan. Tentu saja kami senang jika setiap suku bangsa di Indonesia ini mencintai leluhurnya masing-masing.”

(Nila Riwut, Harian Suara Pembaruan tanggal 31 Januari 2005).

I. PENDAHULUAN

Pada tanggal 18 Desember 2004, ketika sedang sibuk-sibuknya menangani acara Art’ Suku Kencan Budaya Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dari petugas resepsionis hotel Alia tempat saya menginap saya tas plastik yang katanya dititipkan untuk saya. Tas plastik, yang berisi beberapa buku tentang Dayak dan Kalimantan, itu berasal dari Akiko Morisitha mahasiswa S3 Kyoto University-Jepang yang sedang melakukan penelitian di Kalimantan. Semua buku itu terbitan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan-Lembaga Penelitian Indonesia (PMB-LIPI).

Sebagai seorang yang haus akan informasi dan ilmu, saya membaca buku itu satu demi satu. Dari sekian buku itu ada satu judul yang menyentak diri saya, membuat saya resah dan tidak bisa tidur tenang. Judul buku itu adalah: Agama dan Pandangan Hidup: Studi Tentang “Local Religion” DiBeberapa Wilayah Indonesia (Studi Tentang Kaharingan di Masyarakat Dayak Kalimantan dan Sunda Wiwitan di Masyarakat Badui Banten) [Selanjutnya disebut Buku LIPI]. Satu bab dari buku yang di edit oleh Ibnu Qoyim (editor) ini, ada memuat tulisan Muhammad Saleh Buchari, BM (selanjutnya disebut Buchari) yang berjudul Pendukung Agama Kaharingan di Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Sejujurnya, tulisan ini betul-betul membuat saya marah. Dalam benak saya hanya ada dua kata yaitu “Penindasan Budaya”. Sayangnya saya tidak bisa ke LIPI untuk bertemu dengan pengarang karena harus kembali ke Kalimantan. Sesampai di Kalimantan, karena kesibukan menghadapi Natal dan Tahun Baru, apa yang membuat saya marah, gelisah dan tidak enak tidur itu terlupakan. Pada minggu keempat bulan Januari 2005, seorang wartawan Suara Pembaruan datang ke rumah saya. Ia datang atas rekomendasi dari seorang kolega baik saya yaitu Ibu Nila Riwut yang bertempat tinggal di Jogyakarta. Dengan suara yang lembut ia memperkenalkan diri sebagai orang yang ingin meneliti tentang tempat-tempat ibadah orang Kaharingan.

Sebagai orang yang selama ini menggeluti agama dan budaya Dayak, secara khusus Dayak Ngaju, saya mengeluarkan lap-top saya serta memperlihatkan beberapa foto tempat-tempat ibadah orang Kaharingan. (Sebenarnya itu bahan saya kalau mengajar Dayakologi) mulai dari Pasah Batu, Masigit Jata, Pasah Kambe, Human Oloh Gaib, hingga tepi-tepian sungai, bukit batu dan tengah hutan rimba yang selalu di beri tanda dengan kain kuning. Kami berbicara banyak tentang agama dan kebudayaan. Karena itu aku tahu bahwa ia adalah orang Sunda yang beragama Sunda, yang disebutnya sebagai Penghayat Ketuhanan.

Entah kenapa, ada banyak kecocokan antara saya dan Aa Sudirman, demikian nama sang wartawan. Kami bisa berbicara tentang seni, agama, makanan, politik hingga ke tulisan-tulisan tentang budaya. Karena tahu bahwa ia wartawan Suara Pembaruan, saya ada mengajukan keberatan atas di bajaknya salah satu tulisan saya mengenai Hausmann Baboe oleh BBU responden Suara Pembaruan yang bertempat tinggal di Palangka Raya. Kebetulan tulisan itu mendapat tempat terhormat yaitu diletakan pada halaman pertama Suara Pembaruan tanggal 29 Januari 2004 (Tulisan yang sama juga dibajak oleh M, wartawan Barito Post).

Tidak hanya itu, secara spontan saya juga mengajukan keberatan saya terhadap tulisan-tulisan orang Jakarta tentang agama dan Budaya Dayak. Lalu muncullah kembali tulisan Buchari, yang pada tahun 2004 telah membuat saya resah dan gelisah. Semua kekesalan muntah keluar bagaikan lahar vulkanik; panas dan berapi. Tampaknya, hampir semua kata-kata yang terlempar dari mulut saya berkesan kuat bagi Aa Sudirman sehingga ia harus menurun tulisan yang berjudul “Upacara Tiwah Budaya Dayak” dalam Harian Suara Pembaruan tanggal 31Januari 2005. Tulisan Aa Sudirman ini kemudian saya teruskan ke mailinglist dayak yang dikelola oleh Meddy Bundun dan dimasukkan ke web site Lembaga Studi Dayak-21: www.dayak21.org oleh Ronny Teguh.

II. LAPORAN BUKU

Buku dengan judul utama Agama dan Pandangan Hidup: Studi Tentang “Local Religion” Di Beberapa Wilayah Indonesia (selanjutnya disebut APH) ini, adalah kumpulan tulisan-tulisan hasil penelitian yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan-Lembaga Penelitian Indonesia (PMB-LIPI) tahun anggaran 2003. Dalam Kata Pengantar, Dr. Muhamad Hisyam, Kepala PMB-LIPI, mengatakan bahwa laporan hasil penelitian yang menjadi cikal-bakal APH ini, telah dibahas secara mendalam pada seminar hasil-hasil penelitian PMB-LIPI, yang diselenggarakan pada bulan Desember 2003. Buku dengan sampul bergambarkan laki-laki Dayak dan Badui (menurut Aa Sudirman kata Badui ini adalah nama hinaan atas orang Kerakas), adalah kumpulan 4 tulisan atau 4 makalah. Buku yang terdiri dari 6 bab, yang masing-masing bab ditulis oleh orang yang berbeda, kecuali bab pendahuluan dan penutup ditulis oleh satu orang penulis, yaitu:

Bab I adalah Pendahuluan, yang berisi tentang Latar Belakang Pemikiran, Permasalahan, Tujuan dan Harapan Penelitian, Pembatasan Konsep, Metode Penelitian dan Sistematikan Penulisan. Bagian ini ditulis oleh Ibnu Qoyim. Bab II, ditulis oleh Abdul Rachman Patji, berbicara tentang Agama dan Pandangan Hidup Masyarakat Dayak Ma’anyan di Kalimantan Tengah. Bab III membahas tentang Pendukung Agama Kaharingan di Palangka Raya kalimantan Tengah. Bagian ini ditulis oleh Muh. Saleh Buchari, BM.. Bab IV membicarakan Agama dan masyarakat Dayak Kanayatn di Pontianak Kalimantan Barat. Bab ini ditulis oleh Ibnu Qoyim dan Dwi Purwoko. Bab V, yang ditulis oleh Dr. Muhamad Hisyam, membahas Agama Sunda Wiwitan dan Pandangan Hidup Masyarakat Baduy. Bab VI yang merupakan kesimpulan dari pembahasan kelima bagian sebelumnya, dan bagian ini ditulis oleh Ibnu Qoyim.

Seperti yang diuraikan pada Bab I yaitu bagian Pendahuluan, buku yang berjumlah 191 halaman ini bertujuan untuk mendiskripsikan agama dan pandangan hidup penganut Kaharingan pada masyarakat Dayak di Kalimantan dan Sunda Wiwitan pada masayrakat Baduy di Banten, yaitu hubungan antara kepercayaan dan pemaknaan terhadap berbagai persoalan kehidupan yang fundamental, seperti kebutuhan dasar manusia yang dihadapi sehari-hari dan pandangan mereka tentang masyarakat dan negara. Untuk keperluan praktis, apa yang ditulis dalam buku ini diharapkan dapat memberi masukan pada pengambil kebijakan atas keberadaan agama Kaharingan dan Sunda Wiwitan yang masih eksis di Kalimantan dan di Baduy, Banten. Demikian pula para penganut agama lain dapat memperoleh pengetahuan tentang pandangan, aspirasi dan cita-cita para penganut agama lokal yang pada gilirannya dapat menjadikannya sebagai landasan sikap positif untuk saling mengerti dan memahami satu dengan lainnya (APH hlm. 8, bold dari penulis–MM).

Untuk dapat menulis buku ini, para penulis menggunakan pendekatan etnografi, yaitu seperti yang didefinisikan oleh Spradley sebagai suatu kegiatan kerja mendiskripsikan kebudayaan, yang tujuannya adalah memahami pandangan hidup menurut persepektif mereka. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah interview mendalam terhadap para pemuka agama dan telaah atas teks-teks yang dihasilkan oleh para pemuka agama itu atau organisasi yang dipimpinnya (APH hlm. 14-17).

Bab III Saja
Bab III dari buku ini berjudul Pendukung Agama Kaharingan di Palangka Raya Kalimantan Tengah. Adapun isi dari tulisan karya Buchari ini adalah:

A. Gambaran Umum.
Bagian ini terdiri atas dua bagian yaitu

1. Pendahuluan. Bagian ini memaparkan sejarah ringkas terbentuknya provinsi Kalimantan Tengah dan data penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2001.
2. Kaharingan: Manusia dan Agama Dayak Bagian ini memuat tentang konsep agama Kaharingan yang diambil dari kata-kata Tukang Tawur ketika melakukan Upacara Manawur dan Buku Suci Panuturan [sic. Seharusnya Panaturan]

B. Kondisi Lingkungan Sosial Dan Ekonomi Kalimantan Tengah.
Bagian ini terdiri dari 7 bagian yang memuat tentang data-data umum Kalimantan Tengah yaitu tentang:

1. Keadaan Wilayah dan Kependudukan.
2. Kependudukan dan Kegunaan Lahan.
3. Ketenagakerjaan.
4. Pendidikan dan Kesehatan
5. Kesehatan6.Bidang Pertanian
7. Ekonomi dan Perdagangan.

C. Perkembangan Agama Kaharingan Di Kalimantan Tengah.
Bagian ini terdiri dari 5 bagian yaitu:

1. Kebebasan Beragama.
Bagian ini dimulai dengan paparan tentang pengaruh negara (state) terhadap para penganut Kaharingan. Hal ini menurut Buchari tampak pada upaya para penganut agama Kaharingan untuk mendapat legitimasi dari pemda setempat dan pusat. Kemudian tampak pada upaya untuk mendapatkan dana operasional yaitu dengan mencantumkan diri sebagai Agama Hindu Kaharingan. Namun upaya mendapat dana ini menuai mendapat ketika dana yang diminta diberikan, karena Agama Hindu (Bali) menganggap itu adalah untuk mereka dan bukan untuk Hindu Kaharingan. Karena itu ada upaya untuk memisahkan agama Kaharingan dari agama Hindu Dharma. Alasan lain dari pemisahan juga karena adanya budaya Bali dalam ajaran Hindu yang tidak diinginkan masuk dalam Kaharingan Dayak (APH, hlm. 84, 91-92). Pada bagian ini juga muncul penilaian penulis bahwa kendatipun memiliki nilai-nilai ajaran yang universal, agama Kaharingan hanya untuk orang Dayak Ngaju saja dengan alasan bahasa ritualnya adalah bahasa Dayak Ngaju (APH hlm. 84).

Pada bagian ini Buchari menulis tentang tujuan agama Kaharingan berdasarkan Ayat-ayat Tawur. (APH, hlm. 85). Dan ditulis juga mengenai Tiwah (APH, hlm. 87) yang oleh Buchari ditulis sbb.: “Juga penganut agama Kaharingan amat memperhatikan “TIWAH”untuk menyelamatkan “Roh” leluhur yang sudah meninggal dunia dan mengantarkan roh tersebut ke alam baqa (nirwana) melalui upacara adat yang dilakukan oleh pihak keluarga yakni pesta besar mengantar Tiwah. Ritual yang sifatnya sakral itu diharuskan para keluarga yang masih hidup di dunia melaksanakan Tiwah agar roh para leluhur tidak gentayangan di alam fana ini dan diharapkan bersemayam di alam nirwana (alam baqa).”

Kemudian Buchari (APH, hlm. 88) berbicara tentang rusaknya kehidupan harmonis orang-orang dayak dengan meletusnya peristiwa Sampit 2001, yang ditulis demikian: “Peradaban yang dimaksud adalah pembantaian secara massal atas kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Golongan yang dimaksud adalah Suku Dayak Membantai suku Madura di Sampit (Kalimantan Tengah) dan sekitarnya yang dilatarbelakngi sejumlah persoalan yang dianggap menyakitkan hati etnik Dayak.” Sehubungan dengan kerusuhan dan aksi pembantaian oleh etnik Dayak itu, kemudian Buchari menulis (APH, hlm. 89): “Nampaknya pengaruh agama Kaharingan tidak dapat membendung dan mengatasi persoalan tersebut di atas. Upacara Tiwah justru dimohonkan agar arwah leluhur turut datang dan berperan serta dalam mengenali suku Madura dengan cara merasuk dalam diri kelompok Dayak yang sedang marah (amuk). Etnik Dayak yang keserupan (dimasuki roh nenek moyang-nya) benar-benar mencari satu persatu orang Madura di mana saja mereka berada.

Di kota Palangka Raya diinstruksikan semua etnik Madura yang mau selamat dipersilakan meninggalkan kota itu, namun ada beberapa yang bertahan dengan dalih tidak mau meninggalkan harta bendanya dan merasa tidak bersalah. Oleh karena sudah terlanjur secara kolektif suku Madura akan dibantai, maka yang bertahan di kota tersebut mengalami nasib yang sama di Sampit. Pelampiasan kepedihan yang dimanifestasikan dalam bentuk amuk massa itu tidak lagi memperhatikan Agama Kaharingan sebagai sumber kehidupan, justru diwujudnyatakan sebagai sumber kekuatan. Bukannya memelihara kerukunan dan menjaga sikap moral, melainkan seratus delapanpuluh derajat menjadi amoral dan tak berbelas kasihan lagi. Bahkan ada yang mengucapkan sebagai tak berprikemanusiaan atas pembantaian ribuan sesama manusia hamba Allah”.

Tampaknya Buchari sangat terobsesi dengan kata pembantaian dan amuk massa. Ketika mencoba menghubungkan dengan agama yang dianut oleh pelaku pembantaian atau amuk massa, ia mengatakan “Hal ituterpulang pada personalitas manusia itu sendiri atas kadar kemampuanya menahan emosi dan lebih khusus amarahnya” (APH, hlm. 90). Namun ketikaia mencoba menghubungkannya dengan Tiwah maka muncullah tulisan yang demikian:”Umumnya manusia yang memegang teguh agamanya baik Kaharingan, Kristen Protestan , Katolik, Hindu, Budha dan agama Islam senantiasa bermusyawarah terlebih dahulu bila hendak melaksanakan hajat besar dan sejenisnya.

Dalam peristiwa tersebut di atas, hampir semuanya suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah sebelum melakukan amuk massa mengadakan musyawarah ritual secara utuh dan mereka memanggil leluhurnya dengan upacara sacral disebut Tiwah. Upacara ini biasanya digunakan mengantar roh bersemayam ke alam baqa. Namun justru memanggilnya roh tersebut untuk membantu menyelesaikan persoalannya dengan kelompok yang dianggapnya lawan. Roh tersebut merasuk dalam diri orang dayak tertentu dan mampu menemu kenali individu yang dicarinya. Setelah selesai melaksanakan tugas yang diembannya itu, maka diantar roh tadi kembali ke asalnya dengan upacara pemotongan kerbau atau sapi sebagai ucapan terimakasih kepada sang leluhur (itulah bahagian dari upacara Tiwah bagi suku dayak)”.

2. Paradigma Antropologi sebagai Konsep.
Pada bagian ini penulis memaparkan tentang tiga paradigma yang terdapat dalam ilmu sosial secara khususnya Antropologi yaitu positivisme, inter-pretivisme dan kritik (APH, hlm. 93). Khusus pada bagian 2 ini diuraikan apa dan bagaimana pendekatan positivisme itu.

3. Interpretivisme
Pada bagian 3 ini diuraikan apa dan bagaimana pendekatan interpretivisme.

4. Kritikal.
Pada bagian 4 ini diuraikan apa dan bagaimana pendekatan kritikal.

5. Agama dan Kebudayaan.

Pada bagian ini Buchari memaparkan bagaimana agama mengajarkan kepada manusia agar memperhatikan keseimbangan, keharmonisan dan hubungan sesama manusia, hubungan terhadap lingkungannya dan mahluk lainnya yang ada di muka bumi ini (APH, hlm. 98). Sehubungan dengan Kaharingan, Buchari merujuk pada artikel yang ditulis oleh Rangkap I Nau dalam Harian Lokal Palangka Pos 05-06 Mei 2003 dengan judul “Agama dan Agama Kaharingan” (APH, hlm 99). Kemudian dipaparkan mengenai kebudayaan dan konsep kebudayaan.

D. Kesimpulan dan Implikasi

1. Kesimpulan
Pada bagian disimpulkan bahwa agama Kaharingan sulit dikatakan sebgai agama lokal karena ada pendukungnya di luar Kalimantan Tengah, namun persebarannya terbatas karena menggunakan bahasa Ngaju.Kemudian dipaparkan tentang budaya rumah Betang, yang toleran dalam hal agama. Kenapa bisa begitu toleran? Menurut Buchari (APH, hlm. 101) adalah sbb.: “Alasan yang fundamental mendasari etnik Dayak pada sikap toleransi beragama adalah masing-masing individu akan mempertanggung-jawabkan perbuatan kepada sang pencipta dikemudian hari (dihari perhitungan di padang Masy’har)”.

Menurut Buchari (APH, hlm. 102), para penganut Kaharingan mentaati seluruh rambu-rambu yang ada dalam ajaran agama Kaharingan, tanpa mempersoalkan perbedaan latarbelakang sosio-budaya dan ekonomi. Secara konsisten aturan agama itu dijalankan oleh para penganut Kaharingan. Sebagai contohnya kata Buchari adalah:

“Tercermin di bulan Januari – Maret tahun 2002 [sic. 2001] ketika terjadi amuk massa di kalangan komunitas Dayak terhadap suku Madura di kota Sampit dan Palangka Raya. Suku Dayak secara tidak serampangan melakukan pembantaian , melainkan terlebih dahulu melakukan upacara ritual yang mereka sebut “Tiwah” untuk meminta kepada leluhur agar aksi yang dijalankan dapat diijinkan oleh pihak leluhur. Ternyata setelah selesai ritual roh leluhur mereka menyertainya melakukan seleksi dan dideteksi bahwa yang dibantai adalah benar suku Madura dan bukan suku bangsa lainnya. Meskipun yang dilakukan menyimpang dari kebiasaan dari prilaku sehari-hari, tetapi roh leluhurnya menyertai perbuatannya sehingga tidak ada penyesalan melakukan tindakan yang tidak selayaknya dilakukan itu.”

2. Implikasi
Pada bagian ini disampaikan beberapa saran dan usul agar tidak terjadi lagi konflik, misalnya: penghormatan terhadap agama, pemerataan pembangunan, kajian atas otonomi daerah hingga subsidi dari wilayah yang surplus ke wilayah minus.

III. TANGGAPAN

Seperti yang telah disampaikan di atas, tulisan pada Bab III yang berjudul Pendukung Agama Kaharingan di Palangka Raya Kalimantan Tengah yang paling banyak membuat saya resah. Karena itu saya membatasi diri untuk menanggapi hanya pada tulisan ini saja.

Tags: , , , , , , , , , ,

2 Responses to “PENELITIAN BUDAYA DAYAK atau PENINDASAN BUDAYA DAYAK? (Tanggapan Atas Buku Terbitan LIPI)”

  1. 1
    dhany Says:

    ereterte

  2. 2
    Dayak Kalbar Says:

    sabar bung Marco Mahin. tidak usah marah. Mereka hanya memancing kita saja. Mereka mengatakan kita Dayak ini kejam, bengis dan tidak berprikemanusian itu karena mereka sudah melihat betapa hebatnya dayak. Dibalik apa yang mereka ucapkan itu tersirat pujian yang tidak pernah mereka lontarkan.

    Jadi jangan kuatir, bukan baru ini saja Dayak dihina dan dibenci. memang sejak Indonesia merdeka pun Dayak sudah menjadi ancaman negara. Kalau begitu mari kita lepaskan diri kita dari Indonesia. Buat negara sendiri toh jaminan pulau kita lebih menjanjikan daripada tanah mereka.

    Indonesia tinggal menunggu waktu saja. ingatlah apa yang saya katakan ini. Banyak sudah yang melirik Kalimantan sebagai sumber income baru. Jadi jangan kuatirlah bung Mahin. Kita bersatu itu yang ditakuti mereka. Kerusuhan kemarin baru sebagian kecil, masih belum semua terlibat. Kalau semua terlibat wah hancur mereka dalam sekejap.

    Itulah dayak, tidak suka cari permusuhan tetapi selalu dipancing-pancing. Saya ingatkan tidak usah gusar dengan apa ocehan mereka, mereka itu iri tidak memiliki apa yang kita miliki. Mana ada jin mereka sekuat roh-roh Dayak yang agung agung itu. Sampai saatnya barulah mereka sadar nanti dari tidurnya.

    Sekali lagi Dayak memang tidak suka cari masalah tetapi jangan coba dipancing.

    Sekarang saatnya generasi Dayak bersatu dan kuatkan ikatan persatuan kita. Rebut kembali tanah-tanah kita yang dirampas oleh mereka.

    Salam perjuangan.

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker