Jin dan Manusia; Tahayul [1]
19 June 2005 – 1:50 pm · diperbarui: 5 Sep 2009Ini adalah beberapa tulisan dari diskusi yang ingin saya rekam apa adanya. Diskusi ini dimulai dari wacana yang diangkat oleh Abdul Muiz tentang penafsiran Jin dalam ayat-ayat al-Qur`an yang dilakukan oleh Ahmad Chodjim.[@more@]
Lebih lengkapnya, Abdul Muiz menuliskan:
Ok. Pak Chodjim,
mumpung kontak dengan narasumbernya (penulis tafsir qs annas), saya coba ganti thread berkaitan akal dan wahyu yang disinggung sampeyan. Mengapa pak Chodjim menawarkan tafsiran mengenai "jin" dalam surat annas sambil dikaitkan dengan qs al ahqaf, berbeda dengan penafsiran referensi tafsir klasik yang semuanya menafsirkan bahwa jin adalah makhluq halus semata, bunyi textual rasulullah berdakwah kepada golongan jin ditafsirkan oleh pak Chodjim tidak selalu golongan makhluq halus, tetapi golongan yahudi non arab, jadi golongan manusia juga adanya. Hal yang sama juga demikian penafsiran pak Chodjim tentang jin ifrit yang disebutkan dalam surat Anaml (dialog Nabi/raja sulaiman dengan peserta tender istana) ditafsirkankan kaum manusia yang memiliki keahlian arsitektur.
Apa benar sih tradisi atau kultur arab selalu menyebut orang asing itu dengan jin ??? mungkin pak Aman Fatha atau teman-teman di tim teng dapat nimbrung nih.
wassalam
Abdul Mu’iz
Atas email ini, pak Chodjim memberikan ulasan yang singkat dan argumentatif. Beliau mengatakan:
Jika kita mau membuka-buka kamus di antaranya "lisan al-’arb" yang berjilid-jilid itu, maka kita akan tahu makna jin dari segala aspeknya. Di situ kita mendapatkan penggunaan kata "jin" dari berbagai segi. Kita juga akan tahu bahwa ternyata "jin" itu tidaklah seperti yang kita pahami dewasa ini. Sejarah telah mengeliminasi makna "jin" untuk hal-hal yang konkret ke hal-hal yang metafisik.
Kita juga harus mempelajari kitab Taurat yang ada kisah Sulaiman-nya itu. Lha, ternyata di Taurat Sulaiman itu mempekerjakan orang-orang asing dan bahkan jumlah orangnya disebutkan. Mereka itu disebut sebagai ahli bangunan dan lain-lain. Di Taurat tidak disebutkan yang bekerja pada Nabi Sulaiman itu itu makhluk halus, tapi para ahli taklukan Sulaiman. Jadi, pekerjaan para ahli itu dikontrol dan diawasi oleh orang-orangnya Nabi Sulaiman, sehingga mereka bisa dicacah banyaknya.
Dan pada bagian akhirnya tujuan penafsiran ini jelas. Penafsiran jin pada masa Sulaiman sebagai orang asing yang ditaklukkannya itu dimaksudkan untuk membawa umat Islam keluar dari kehidupan tahayul.
Sebelum melanjutkan pembicaraan ke dalam persoalan tahayul ini, saya mencoba membaca kembali penafsiran itu. Jelas ini adalah suatu penafsiran yang berbeda dengan penafsiran mainstream. Saya mencoba memberikan tanggapan secara singkat:
Sebenarnya persoalan jin ini memang agak susah. Namun terkait dengan penafsiran jin yang disebutkan dalam al-Qur`an seperti yang diutarakan pak Chodjim untuk kontek-kontek tertentu sah-sah saja. Memang banyak ungkapan bahasa termasuk al-Qur`an yang bermakna hakiki dan majazi sekaligus. Bisa jadi maksud pak Chodjim dalam penafsiran seperti ini lebih mengacu kepada makna hiperboliknya.
Namun kalau saya membaca penjelasan Pak Chodjim di sini (saya tidak membaca buku tafsir beliau), tampaknya makna jin yang dimaksud adalah makna yang disebutkan oleh pak Chodjim dan bukan makhluk halus seperti yang kita pahami hingga sekarang. Tentu saya tidak sependapat dengan ini karena beberapa hal:
1. Definisi para ulama tentang jin menunjukkan bahwa jin adalah makhluk tersendiri yang berbeda dengan manusia.
2. Beberapa ayat (dan juga hadits) menunjukkan seperti itu. Salah satu kita ambil contoh, ayat yang mengatakan "Tidaklah Aku ciptakan Manusia dan Jin kecuali untuk menyembahku.."Ayat ini menjelaskan adanya penciptaan Manusia dan Jin. Dalam prinsip gramatikal bahasa Arab, al-Athaf Yaqtadhi al-Mughayarah, yaitu menghubungkan (Athaf) satu kata dengan kata lain menuntut adanya perbedaan antara kedua kata tersebut. Dengan demikian, Manusia berbeda dengan Jin dan dua-duanya sama-sama ciptaan Allah dan dua-duanya sama-sama mendapatkan taklif (untuk menyembah). Penafsiran ala pak Chodjim fiihi wajhun.. maksudnya bisa jadi ada benarnya, yaitu dengan menggunakan kaidah "athaf al-khas ala al-’am". Maksudnya, jin adalah salah satu jenis dari jenis manusia dan athaf pada dua kata itu adalah menghubungkan yang khusus kepada yang umum. Namun kaidah seperti ini (baik "athaf am ala khas" atau "athaf khas ala am") digunakan karena ada penekanan makna tertentu seperti misal "Ya Allah, Ampuni aku, dan kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin (laki-laki dan perempuan). Kata "aku" dan "kedua orang tuaku" pada dasarnya sudah termasuk dalam "orang-orang mukmin" tapi disebutkan karena penekanan makna.
Kalau kita kembali kepada ayat di atas dengan menggunakan kaidah ini, maka pertanyaan kita tertuju kepada "penekanan makna apa yang ditujukan kepada Jin jika jenis itu sendiri sudah masuk ke dalam kata Manusia?" Apalagi ayat ini berbicara tentang penciptaan dan dasar utama dari penciptaan itu. Tidak ada suatu qarinah yang menunjukkan suatu penekanan tertentu kepada Jin (berdasarkan makna suatu jenis manusia juga). Karena itu saya lebih berpendapat bahwa Jin adalah makhluk tersendiri yang berbeda dengan manusia. Apa yang berlaku pada ayat ini juga berlaku pada banyak ayat-ayat lain yang menyebutkan "Jin dan Manusia."
3. Kenyataan-kenyataan empiris yang banyak dialami manusia. Dalam bagian ini banyak kasus, karena saya sering menghadapi sendiri secara langsung. Baik yang bentuknya orang tersebut berteman baik dengan jin, atau yang bermusuhan, atau ada yang mencoba menggoda atau mengganggu manusia.
<br /><br />
Soal Nabi Sulaiman dan para ahlinya dan jin itu sendiri bisa dihitung jumblahnya, ya itu sih menurut saya suatu kelebihan. Jangan lupa Nabi Sulaiman juga punya tentara Hudhud. Kalau dari guru sejarah saya, memang di dunia ini ada 4 tokoh yang mampu menguasai dunia (maksudnya tidak hanya manusianya). Salah satunya Nabi Sulaiman, kemudian Syaddad, dua lagi saya lupa. Intinya kalau jin tunduk kepada Sulaiman waktu itu, bahkan binatang juga tunduk. Dan orang-orang yang ada di sekitar Sulaiman pun bukan orang-orang "biasa" sampai ada yang mampu memindahkan istana Balqis sekejap mata.</string>












assalammualaikum…
saya ingin menanyakan pak:
-dirumah saya,kata orang(yg bs melihat) ada jin islam. Dan orang itu mengatakan klo jin tersebut baik. Apakah salah kalau seandainya saya berkomunikasi dengan jin tersebut?
terimakasih atas jawabannya.
di INdonesia ini banyak sekali Jin , ironisnya di negara yang klaimnya banyak orang beragama Islam …!
Contoh anggota DPR mayoritas Muslim, pejabat Pemerintahan mayoritas Muslim lihat tingkah lakunya yang bahkan lebih tidak beradab dari pada Jin
Kalo Jin paling 2 minta Sesajen Kembang 7 rupa kopi pahit dan Teh kalo ditotal harganya tidak lebih 100 ribu
tapi para Anggota DPR / Pemerintahan yang terhormat minta sajennya tidak tanggung2 , 1 milyar 2 milyar ….!
jadi ternyata lebih beradab Jin daripada Manusia