Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Catatan Perjalanan

20 September 2005 – 3:33 am · diperbarui: 18 Aug 2009

Tengah hari ini sangat panas. Terik sinar matahari betul-betul terasa menyengat. Aku terjebak dalam dalam Tram Listrik yang penuh sesak. Badanku tersisih ke pojok, dan sedikit lagi terjatuh seandainya tidak ada tiang. Namun aku tetap bertahan mengiringi goyangan Tram yang seperti begitu malas bergerak. Bajuku basah penuh keringat. Kerongkonganku terasa kering. Aku haus. Di depanku duduk seorang perempuan setengah baya. Di sampingnya lagi seorang wanita sambil menggendong anak kecil. Aku taksir umurnya tidak lebih dari dua tahun. Hanya tiga sosok itu yang jelas dalam penglihatanku. Semua orang terdiam dalam suasana dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kecuali panas yang sesekali membuat sebagian mengeluh.

Tepat di persimpangan jalan, tiba-tiba Metro terhenti. Semua terperanjat dari lamunannya. Entah berapa kepala yang berpaling kiri kanan seperti sedang mencari tahu ada apa gerangan. Aku tetap duduk di tempat. Ujung kursi terasa sayang untuk dikorbankan walau cukup untuk sebelah pantat. Perjalanan masih jauh. “Sialan! Listrik lagi-lagi mati,” keluhku. Aku menjadi gelisah. Waktuku berangkat sudah terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Kadang kondisi seperti ini membuatku berpikir gila. Apa gunanya aku berangkat menahan terik dengan tubuh bermandi keringat. Andai aku bisa menentukan kenyataan, semestinya tidak harus seperti ini. Paling tidak, aku bisa meraba kapan aku harus mengikat janji. Ah nasib manusia tak punya duit. Punya mobil pribadi tidak bisa. Mau naik taksi, kemahalan. Kenyataannya, nasib sudah sejak lama mendapatkan tempatnya dalam kamus bahasa, dan kehidupan.

Orang-orang masih terlihat tenang. Mereka tetap berada di tempat mematung seperti salju yang mencair kepanasan. Atau kejadian seperti ini sudah bisa bagi mereka. Sudah biasa menjalani hidup sebagai manusia pinggiran. Sabar menatap mobil-mobil yang berkeliaran. Aku kebingungan. Kegelisahanku menyerbu dengan berbagai macam pertanyaan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebagian mata usil memandangku. Di sebelah pojok dekat pintu sekelompok anak muda tampak bercanda. Sesekali mataku memergoki tatapan nakal mereka. Lalu mereka bercakap-cakap sesama temannya dan kemudian tertawa. Kebiasaan! Jujur saja aku sangat jengkel. Mereka seperti sedang menertawakanku. Apa mereka tidak sadar bahwa kita sama-sama pingiran. Apa karena aku orang asing yang bertubuh kecil? Atau rambutkan yang panjang terurai, lalu mereka anggap aneh karena tidak seperti rambut-rambut mereka yang ikal kaya supermie.

Mungkin hanya aku terlalu berprasangka. Namun tatapan nakal mereka begitu menusuk. Apa salahnya aku yang seperti ini. Aku pikir barangkali mereka sedang membicarakan sesuatu seperti kebiasaan iseng anak-anak muda Arab yang tidak ada kerjaan setiap kali bertemu orang asing, apalagi perawakan asia. Mereka selalu merasa hebat. Kadang-kadang juga hal-hal itu menjadi lucu. Bayangkan saja, dalam sebuah perjalanan di eltramko (angkot) saya sering berkenalan dengan mereka. Setelah basa-basi sejenak, muncul pertanyaan yang aku sendiri tidak habis pikir harus menjawab apa. “Di Indonesia ada ngga gedung-gedung tinggi seperti itu?” tanyanya sambil menunjuk gedung-gedung apartemen yang berjejer rapi. Atau saat mobil eltramko melintas di atas jembatan layang, mereka iseng bertanya, “Ada ngga sih di Indonesia jembatan layang seperti ini?”

Dalam beberapa kesempatan, aku sendiri tidak pelit untuk memuji karena banyak hal yang memang patut untuk dipuji. Di Indonesia aku sering menemukan orang yang menjawab dengan rendah hati setiap kali pujian dilontarkan. Kalau tidak mengatakan, “ah kamu bisa aja” atau “biasa aja, kawan” paling tinggi jawaban yang aku dapatkan adalah terima kasih. Di Mesir kebiasaan seperti itu sangat jarang aku temukan. Sekali anda melontarkan pujian terhadap Pyramid misalnya, maka anda akan mendengarkan banyak hal yang barangkali tidak anda ketahui, tapi bagi mereka juga layak untuk dipuji. Puncaknya mereka akan mengatakan, “Mesir ummud dunya (Mesir Ibu Dunia).” Kadang aku iseng juga menyahut, “Benar, Mesir ibu dunia. Indonesia bapaknya.”
“Kamu di sini dalam rangka apa?”
“Kuliah.”
“al-Azhar?”
“Ya.”
“Kamu pasti tahu ada hadits Nabi mengatakan: berbuat baiklah kepada ibumu. Kemudian siapa lagi? Ibumu. Sampai tiga kali, kemudian baru Nabi mengatakan: ayahmu.”
“Jadi?”
“Lebih hebat ibu dong!”
Dia terbahak-bahak menikmati kemenangannya persis raksasa yang mengaum bergema di depan tubuh musuhnya yang terkapar tak bernyawa.

Lebih sialan lagi suatu kali terjadi di Tram Listrik dalam perjalanan dari Kheder Tony ke Ramsis. Tramnya lebih bagus dari yang aku tumpangi sekarang. Gerbongnya lebih besar bewarna hijau dan kursi berwarna merah yang tersusun rapi saling berhadapan. Waktu itu tidak berdesakan seperti ini. Aku lihat samping kiri dan kanan masih banyak kursi yang kosong. Di sebuah stasion kereta, dua orang pemuda Mesir bertubuh tinggi besar dan berambut ikal naik. Entah alasan apa mereka memilih duduk di depanku yang memang kosong. Padahal masih banyak kursi-kursi lain. Tram berangkat. Dua orang ini saling berpandangan kemudian tersenyum-senyum sambil menatapku. Aku pasang muka cuek. Salah seorang dari mereka membuka pembicaraan. Basa-basi klasik bermula dengan bertanya jam.

“Pukul berapa sekarang?”
Aku reflek menatap pergelangan tangannya. Sebuah jam tangan merk Casio melingkar. Dia hanya tersenyum tanpa dosa.
“Jam di tanganmu mati?”
“Aku hanya ingin tahu bahasa Arabmu. Kamu di sini dalam rangka apa?”
“Kuliah.”
“Kuliah apa? Azhar?”
“Ya, Azhar. Fakultas Bahasa Arab.”
“Aku kuliah di Ain Syam. Fakultas Sejarah dan Peradaban.”
Aku diam. Tatapanku sengaja kualihkan ke luar jendela.
“Kamu dari mana? Jepang?” tanyanya lagi.
“Bukan, Aku dari Indoensia.”
“Oh, negri yang indah. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Kenapa orang-orang Indonesia itu tubuhnya kecil-kecil dan rambutnya rata-rata lurus seperti rambutmu? Bahkan orang-orang Asia rata-rata?”
“Aku juga tidak mengerti. Sudah design takdir seperti itu.”
“Ah masa sih. Kalau menurut dosenku, itu ada kaitannya dengan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.”
“Kamu mengada-ada aja.”
“Eh sumpah. Itu kata dosenku. Ada dalam diktat kok.”
“Kamu mau mencandaiku saja.”
“Benar. Jadi katanya, setelah bom Hiroshima itu dampak negatif mulai dirasakan orang-orang di sana. Bahkan pengaruhnya sampai ke wilayah Asia yang jauh. Salah satu dari akibatnya kemudian, tubuh orang-orang Asia menjadi kecil-kecil.”
“Ah sialan kamu. Memang mau mengejek aja.”
“Lho kamu tidak percaya?! Nanti aku bawakan diktatnya. Dalam diktat itu juga disebutkan, bahwa rambut orang-orang Asia itu rata-rata lurus, tidak ikal keriting seperti kami, itu pengaruh bom Nagasaki.”
“Aku tidak percaya. Kamu bohong. Apa hubungannya bom atom dengan rambut.”
“Nah makanya kenapa perawakan kalian itu kecil-kecil dan rambut kalian lurus-lurus.”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Aku tidak memperdulikan lagi. Di stasion Ghamra mereka turun. Tram kembali bergerak perlahan. Dari luar jendela mereka masih menunggu gerbongku lewat sambil tertawa puas.
“Makanya nanti kalian harus lebih hati-hati. Kalau ada bom atom seperti Hiroshima dan Nagasaki lagi, tubuh kalian akan semakin kecil,” katanya setengah berteriak.
“Sialan!”

Menemukan Kertas-Kertas lama: Catatan Perjalanan [1]
26 September 1996

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker