Memahami Kalimat Arab
13 January 2006 – 7:55 am · diperbarui: 12 Aug 2009Suatu kali kawanku pernah bertanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan aktivitasku akhir-akhir ini, “Selama kamu membaca atau menerjemahkan suatu buku berbahasa Arab, bagian mana saja yang kamu rasakan sangat susah?†Aku merenung beberapa saat, dan mengingat-ingat kembali sekian banyak kesulitan-kesulitan yang pernah kutemui. Salah satu persoalan yang paling melekat hingga ini adalah persoalan istilah-istilah dalam pemahaman bahasa. Dan ini tidak hanya saya temui dalam penerjemahan beberapa buku Arab, tetapi juga merupakan kesulitan yang sejak lama saya renungi.
Selama kuliah di Universitas al-Azhar misalnya, tidak sedikit dari diktat-diktat yang bisa saya pahami dengan baik. Namun ketika saya harus berbicara tentang masalah-masalah dalam bahasa Indonesia, saya harus berpikir keras bagaimana caranya untuk memberikan pemahaman yang akurat. Tentu saja sangat berbeda dengan kondisi ketika saya harus menjawab soal-soal ujian. Bahkan pada bagian yang satu ini, saya menerapkan berbagai macam metode yang selama ini santer di kalangan kawan-kawan.
Saya pernah menguasai diktat dengan teknik hapalan, pernah juga dengan teknik Insya, yaitu kita cukup memahami dan nantinya mengungkapkan sendiri pemahaman tersebut dengan bahasa kita sendiri. Dan pernah juga saya menggunakan kedua teknik itu sama rata dalam satu diktat. Tidak banyak persoalan yang menjadi kendala, karena bagaimanapun saya tetap menuliskannya dalam bahasa Arab.
Uniknya, persoalan-persoalan yang saya temui dalam penerjemahan selain istilah-istilah secara umum, justru adalah istilah-istilah bahasa sendiri. Mungkin ini disebabkan statusnya sebagai istilah bahasa sehingga dalam buku-buku yang tidak secara khusus membicarakan bahasa pun akan menggunakannya dalam keperluan tertentu, dan lebih lagi dalam bidang ushul fiqih. Dulu, saya pernah memetakan tingkat kandungan suatu ungkapan dalam bahasa Arab.
Secara sederhana, suatu ungkapan Arab adalah susunan kata-kata. Kemudian setiap kata mengandung makna yang khas, dan mempunyai pengaruh terhadap makna umum kalimatnya sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat tersebut. Satu kalimat ini kemudian secara global adalah kalimat dan makna kalimat.
Banyak pembaca bahasa Arab—tentu saja yang saya maksud adalah teks-teks serius, bukan percakapan sehari-hari—hanya terhenti pada batas ini. Dia membaca suatu kalimat kemudian menemukan maknanya. Padahal, dalam bahasa Arab masih ada tingkatan yang harus dilalui, yaitu dilأ¢lah, mafhأ»m, dan maqshأ»d. Jadi, kata –> kalimat –> makna –> dilأ¢lah –> mafhأ»m –> maqshأ»d. Dan ini masih dalam kontek umum, masih belum lagi menjangkau lebih jauh konsep-konsep sastra, khususnya ilmu balaghah yang dari sana bisa kita jumpai istilah makna al-makna (secara umum dalam ilmu bahasa sangat berkaitan dengan persoalan konotatif dan denotatif), kemudian zhilأ¢l al-makna—atau menggunakan istilah lain dari dosen saya, Prof. Dr. Sayyid Taqiyuddin, adalah ma’أ¢ni hأ¢misyiah â€کmakna-makna sekunder atau bias makna’.
Pada kajian ushأ»l fikih, beberapa konsep-konsep ini terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dalam membaca dan memahami teks-teks agama. Pada tingkatan mafhأ»m di atas misalnya, dalam ushul fikih kita kenal lagi beberapa pembagian ke dalam beberapa cabang yang sebagian berkaitan dengan konsep bahasa dan sebagian lagi berkaitan dengan konsep logis atau ilmu manthiq. Maka, dari sudut ushul fikih, kita mengenal mafhأ»m ibأ¢rah, mafhأ»m isyأ¢rah, mafhأ»m dilأ¢lah, mafhأ»m iqtidhأ¢, dan mafhأ»m mukhأ¢lafah. Bayangkan saja jika konsep-konsep ini muncul dalam suatu kitab Arab yang ingin kita terjemahkan, tetapi buku itu tidak membahas persoalan itu, tetapi hanya memberikan pengantar kepada masalah lain yang menjadi pembahasannya.
Tags: Belajar, Editorial, Gramatika, translation, Transliterasi











