Mutu Siaran
3 January 2007 – 3:31 pmSebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda semua, apa manfaat yang bisa Anda dapatkan dari berita-berita tentang selebritis? Apa yang Anda butuhkan dari informasi si A bercerai dengan si B, atau si C meninggal karena tabrakan, atau si D sedang menjalin asmara dengan si E? Saya pikir tidak ada manfaatnya sama sekali.
Kita kadang-kadang berpikir, barangkali ada baiknya kita mengetahui informasi-informasi aktual. Mungkin agar jangan disebut ketinggalan informasi, atau tidak ingin disebut kurang pergaulan. Menurut saya, informasi-informasi yang termuat di dalam acara-acara berita sudah sangat cukup, sekadar informasi bukan. Tidak ada manfaat atau tujuan lain di balik itu yang bisa kita dapatkan selain semata-mata informasi.
Jadi, cukup mengherankan bahwa acara-acara televisi kita menyuguhkan informasi-informasi yang lebih detail dari artis-artis dan selebritis. Untuk apa? Saya tidak tahu persis. Sehingga di Indonesia sekarang ini, acara-acara yang khusus menayangkan berita-berita semacam itu sangat banyak. Bahkan hampir seluruh saluran televisi mempunyai acara itu, dan bahkan lebih dari satu kali dalam sehari. Si A putus dengan si B dan bagaimana perasaan dan tanggapan si B. Kenapa si C putus, kenapa si D cerai, bagaimana proses cerainya, si A kawin dengan si E, si D sedang pdkt dengan si F, dan entahlah. Coba Anda tanyakan secara jujur kepada diri Anda sendiri, apa manfaatnya?
Memang kita membutuhkan informasi, tetapi yang bermanfaat. Informasi yang seyogyanya mempunyai pengaruh dalam kehidupan kita sendiri. Misalnya, produk minumam A mengandung bahan pengawet. Si B berolah raga secara teratur sehingga badannya selalu bugar dan sehat. Si C sedang shooting film dan tidak ketinggalan dengan kegiatan-kegiatan sosial atau tetap aktif kuliah. Ini masih informasi biasa, tetapi ada manfaat yang bisa kita dapatkan sebagai pelajaran, anjuran, teladan, menekankan kehati-hatian, landasan dalam memilih, dan sebagainya.
Ironis sekali, di samping acara-acara yang begitu banyak, hanya 0,10% acara pendidikan atau bersifat mendidik. Hitungan ini hanya prakira sederhana saya ketika menghitung-hitung sekian banyak jenis acara dan jam tayang. Acara-acara televisi kita lebih banyak dipenuhi dengan pembodohan dan peninaboboan daripada peningkatan kesadaran dan memberi manfaat.
Kita tahu bahwa kebutuhan kita dalam menonton televisi itu hanya ada 3 tujuan: hiburan, pendidikan, dan informasi. Informasi sudah diwakili oleh acara berita, baik berkenaan dengan perkembangan masa, teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Hiburan sudah diwakili oleh sinteron-sinetron, komedi-komedi, dan musik-musik. Sedang pendidikan? Mungkin televisi kita ini semuanya sealiran dengan pikiran Jean Jacques Rosoue.
Namun ini pembicaraan lain. Ide JJ. Rosoue terkait dengan jenis suatu seni, katakanlah sastra. Misalnya, satu acara hiburan apakah menjadi penting sebagai media pendidikan juga? Menurut Rosoue, tidak. Orang menontot hiburan semata-mata karena ia ingin menikmati hiburan. Meski pendapat ini benar, tetapi bukan sesuatu yang salah jika suatu hiburan yang bisa dinikmati juga mengandung nilai pendidikan. Perdebatan tentang soal ini mungkin akan panjang jika kita teruskan di sini.
Persoalan yang kita hadapi sekarang, sudah seberapa besar peran media kita dalam keikutsertaan membangun Indonesia. Secara jujur saya bilang tidak ada perannya sama sekali, bahkan sebaliknya. Media kita lebih berperan meruntuhkan dan menghancurkan mental bangsa. Acara-acara yang ditayangkan 95% tidak bermutu, membosankan, memuakkan, dan tidak berguna.
Jika di atas sudah kita sebutkan, bagi penonton itu hanya ada 3 tujuan dari acara tv, maka secara lebih jelas bisa kita petakan beberapa acara yang sekarang ada di televisi-televisi kita. Tentu saja ini berdasarkan penilaian subyektif saya pribadi. Namun saya yakin, dalam ukuran relatif, Anda setuju dengan pendapat ini. Untuk hiburan misalnya, yang biasa saya tonton adalah Extravaganza, Bajaj Bajuri, News dot Com, Empat Mata, Tawa Sutra/Asal Plesetan, OB, dan kadang-kadang SBY-nya Eko, Jojon, dan Bolot cs.
Di antara acara hiburan ini, saya lebih senang Extravaganza. Acara ini murni hiburan yang tidak ada nilai pendidikan, meski minim kritik. Namun ide-ide kreatifnya sangat bagus sehingga ada saja cerita yang ditampilkan dan semata-mata hiburan. Bajaj Bajuri juga cukup bagus dalam menghibur. Acara ini sebenarnya mengandung kritik sosial meski dalam bentuk siratan yang jauh sehingga bisa kita sebut murni hiburan karena orang lebih senang untuk tertawa menonton acara ini dibanding mencari nilai yang terkandung.
News dot Com termasuk acara hiburan, tetapi penuh dengan kritik. Saya memang senang acara-acara model begini. Bahkan di acara ini juga ada nilai informasi aktual dibandingkan dengan Extravaganza yang kadang berisi informasi sejarah terbatas yang manfaatnya hanya informasi. Empat Mata juga cukup menghibur disamping ada informasi-informasi sosok dan kiat-kiatnya. Kalau OB, saya senang karena benar-benar menghibur, juga kritik kepribadian. Sayangnya acara ini monoton dan ide-idenya tidak banyak variasi, persis seperti Empat Mata. Kelucuannya sebatas pada gaya individuanya, bukan terikat dengan ide ceritanya. Berbeda dengan Asal Plesetan/Tawa Sutra, ada unsur ide cerita yang menghibur.
Sinetron tidak banyak yang saya tonton karena membosankan. Ide-idenya garing, manja, dan kekanak-kanakkan. Beberapa sinetron atau film yang saya tonton sangat terbatas. Menurut saya, beberapa yang bagus hanya Ujang Wati dan Mat Jiung. Selain itu, malas saya menontonya. Beberapa orang kawan saya juga senang menonton film-film seri atau sinetron Hidayah atau Hikayah. Saya sendiri tidak senang kecuali beberapa seri saja yang tidak terlalu norak dan lebih realistis. Padahal ide atau gagasannya bagus dan berguna. Hanya cara penceriteraannya yang kadang-kadang atau sering–menurut saya–garing, berlebihan, dan tidak realistis. Cerita-cerita semacam ini memang riskan, kalau tidak menyentuh ya menjadi cemoohan dan olok-olokan.
Untuk informasi, jelas diwakili oleh berita-berita. Informasi yang lebih berguna dan aktual mungkin ada pada acara-acara dialog dan ini sangat minim sekali. Saya ukur-ukur, saluran tv yang banyak variasi dan lebih bermutu informasinya adalah Metro TV. Memang di saluran yang satu ini, hiburan minim. Sekali ada hiburan juga dimasukkan nilai-nilai yang cukup bermutu. Di sini, misalnya, saya bisa dapatkan informasi kesehatan.
Selebihnya, selain penuh acara gosip yang tidak bermutu, satu hal lagi yang penting untuk digarisbawahi bahwa acara televisi kita juga banyak mempropagandakan judi sms. Acara kuis yang bagus saya pikir hanya di Antv, acara 1 milyar dan superdeal 2 milyar. Sedangkan acara 3 milyar juga tidak terlepas dari unsur judi. Darimana kita mengukur suatu kuis mengandung judi atau tidak? Sederhana saja, ketika Anda harus mengeluarkan modal untuk mendapatkan hadiah, maka itu adalah judi. Anda harus kirim sms seharga Rp 2000/sms. Padahal biaya standard untuk sms tidak sebanyak itu.
Kalau Anda tidak ingin terlibat judi, maka jangan mengirimkan sms untuk mendapatkan hadiah pada bentuk kuis yang seperti ini. Anda sama saja duduk berempat, kumpul duit Rp 2000 dan bermain kartu. Siapa yang menang, maka dia yang mengambil akumulasi uangnya. Kalau Anda bertanya, jika kita duduk berempat saja, maka jumlah uang menang yang diperoleh adalah Rp 8000, sedangkan acara kuis itu menyediakan hadiah jutaan hingga ratusan juta. Jawabannya, itulah permainan Bandar Judi.











Salam kenal Bang Aman (saya panggil Bang boleh ya ..)
)
Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa terhadap acara yang ditayangkan TV.
Marilah kita lihat: di dalam masyarakat ada kelompok orang berdagang, yaitu pedagang, kelompok pendidik, kelompok ilmuwan, kelompok seniman, kelompok agamawan, dan banyak kelompok lagi. Mereka hidup dan berusaha hidup dalam dan dengan kelompoknya.
Dalam tugas mereka terhadap anggota kelompok dan masyarakat lain diluar kelompok ini, banyak konsep, kegiatan, dan cara yang mereka lakukan. Kelompok pendidik misalnya, akan menggunakan sekolah dan tempat kursus untuk mendidik anggota kelompok dan masyarakat. Kelompok seniman, akan menggunakan sanggar-sanggar untuk kegiatan mereka. Kelompok agamawan, akan menggunakan masjid, gereja, pure dan tempat ibadah lain untuk kegiatan mereka. Bagaimana dengan orang-orang dibelakang televisi?
Banyak masyarakat salah menilai terhadap “barang” atau “alat” ini. Benda ini adalah sah dimiliki oleh semua orang, semua kelompok. Kelompok pendidik boleh memiliki benda ini, kelompok agamawan boleh juga menguasainya. Sebenarnya benda ini tidak akan ada gunanya juga jika tidak “dihidupkan” oleh benda lain yang kita kenal sebagai pemancar TV. Siapa yang boleh mempunyai pemancar ini? Jawabnya: semua orang, semua kelompok boleh mempunyai benda pemancar ini.
Dalam kenyataanya, Bang,
Pemancar ini dimiliki oleh pedagang.
Jika misalnya, saya pedagang emas. Pada suatu saat, pemerintah membuat undang-undang (atau boleh juga pasar membuat undang-undang): keuntungan jual beli emas tidak boleh lebih dari seperseribu persen …… dst dst …… dan Bulog akan membeli kotoran kerbau basah Rp.10.000.000 per kwintal. Ya …. semua akan setuju kalau besok pagi saya akan jadi pedagang kotoran kerbau.
Jika misalnya seseorang berjualan “pendidikan” di TV, dengan keuntungan sejuta sebulan, sementara kalau jualan “gosip selebriti” menghasilkan semilyar sebulan, mana yang harus dipilih oleh seorang pedagang penyiaran?
Kalau misalnya kita mencoba untuk menyalahkan si pemilik pemancar TV bahwa mereka tidak mendidik masyarakat dengan acara-acaranya, tentu saja bisa kita bayangkan bahwa mereka adalah pedagang dan bukan pendidik. Mereka “tidak punya kwajiban” untuk mendidik.
Jadi, apakah kita harus menyerah dan pesimis menghadapi semua ini.
Tidak perlu sejauh itu.
Semua kelompok tadi hidup di dalam sebuah koloni yang besar bersama-sama. Kita sebuat masyarakat, kita sebut negara atau kita sebut komunitas. Tentulah interaksi antar kelompok akan terjadi. Keharmonisan kehidupan bersama ini mungkin menjadi salah satu hal yang perlu disepakati. Untuk lebih mudahnya, dibuatlah kesepakatan-kesepakatan. Selain itu, sebenarnya di dalam diri manusia-manusia itu sendiri ada rasa dan nurani yang mencerminkan kelompok-kelompok lain.
Jadilah, adalah menjadi kewajiban terbesar pengelola komunitas, yang kita kenal sebagai pemerintah, untuk mengendalikan kesepaktan-kesepakatan tersebut. Dan menjadi kewajiban kita semua untuk menjaganya juga.
Pemerintah dengan kekuasaan yang besar bisa memberi sebagian kekuasaan kepada kelompok pendidik untuk menguasai materi penyiaran. Demikian juga untuk kelompok lain. Dan ini semua bergantung kepada tujuan jangka panjang yang ingin kita capai bersama.
Jadi, jangan lagi para guru, para pendidik, bersembunyi terus di dalam kelas, para agamawan jangan bersembunyi terus di dalam masjid dan wihara, para seniman jangan bersembunyi terus di dalam sanggar. (Bagaimana dengan para blogger …
Bari kita bangun Indonesia bersama-sama .