Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

“Ini momentum yang paling tepat untuk reformasi antikorupsi. Ini kita gerakkan kembali. Saya berbahagia dan bangga berperan LSM dan pers. Partai-partai kita itu enggak bekerja, kalian (LSM) yang bekerja. Parpol secara institusional gagal berperan sehingga digantikan civil society.
Adnan Buyung NasutionKompas, 4 November 2009

“Dengan kasus ini, saya harap akan membuka mata presiden bahwa bidang hukum harus ditangani tidak kurang dari ekonomi. Bangsa ini tidak hanya butuh perutnya, tapi juga rasa keadilan bagi masyarakat.”
Adnan Buyung Nasution — Detiknews.

“Situasi terkini jelas membuktikan bahwa ketika DPR “tertidur ” dan politisi ’mati suri’, maka “DPR jalanan” bergerak sekaligus menjadi alternatif perjuangan rakyat untuk meneriakkan aspirasinya, antara lain melalui dunia maya."
Abdillah Toha — Kompas.

Baca juga analisis dan fakta: Adnan Buyung Nasution “Tampar” SBY-Demokrat

Cina Apa Caina?

5 January 2007 – 5:15 pm · diperbarui: 12 Aug 2009

Dalam beberapa waktu terakhir ini telingaku menangkap suara yang janggal kedengarannya. Setiap kali aku menyimak berita atau reportase di MetroTV, setiap kali itu juga aku mendengarkan kejanggalan ini. Semenjak pertama kali datang ke Indonesia, aku pikir ini hanya kasus-kasus parsial atau berkaitan dengan oknum pembawa acara saja. Namun, semakin lama aku perhatikan, rupanya dugaanku itu salah. Hampir setiap pembawa acara MetroTV membaca Cina dengan Caina. Mana yang benar?


Mencari ejaan mana yang benar mungkin kita harus kembali kepada para ahli bahasa. Namun dalam ukuran yang sederhana dan berdasarkan kebiasaan bahasa yang selama ini sudah berlangsung, tidak ada orang Indonesia yang sedang berbicara Bahasa Indonesia menyebut Cina itu dengan Caina. Pada saat puncak kejanggalan ini menyerang batin, saya repleks berkomentar kepada teman di sebelah saya dengan gregetan, “Kenapa Jepang tidak dibaca Japan aja sekalian?” atau “Kenapa Eropa tidak dibaca Yurop aja sekalian?”

Saya pikir reaksi spontan ini wajar saja terjadi karena keasingan ejaan dari sebuah media resmi yang berbeda dengan kebiasaan yang kita gunakan selama ini. Namun demikian, saya masih terus mencari tahu mana yang benar di antara dua bacaan ini. Jika memang kedua-duanya benar, tentu bukan persoalan. Perlu untuk digarisbawahi bahwa lingkup pembicaraan kita adalah dalam koridor Bahasa Indonesia dan sesuatu yang sudah baku–minimal dalam pemakaian umum– sejak lama.

Jika memang ejaan Cina—dengan grafem i—itu salah, maka perlu penegasan dari lembaga bahasa. Mungkin saja ini sudah ada dan saya yang karena terlalu lama tidak berada di Indonesia tidak mengetahuinya. Kalau memang demikian adanya, sebaiknya mulai sekarang kita menyebut Caina—dengan grafem ai—bukan Cina seperti yang selama ini sudah biasa gunakan. Namun jika sebaliknya, maka sudah semestinya pihak MetroTV memperhatikan persoalan ini.

Persoalan lain, apakah yang diberlakukan apa yang sudah baku sejak lama dalam pemakaian masyarakat atau menyesuaikan dengan ejaan aslinya—dari sudut bahasa mana pun—meski hal tersebut terasa janggal dengan yang berlaku umum di masyarakat. Mungkin kita bisa membuat perbandingan sebagai contoh. Kata ‘mukmin’ di dalam bahasa kita merupakan bentuk baku yang kata aslinya diambil dari bahasa Arab. Kalau kita merujuk ejaan bahasa asli, jelas ini salah karena di dalam bahasa asli kata ini adalah mu`min.

Dalam beberapa kasus, ada beberapa kata yang sudah baku di dalam bahasa kita dan apabila kita rujuk ke ejaan aslinya, maka tidak hanya salah dalam ejaan, tetapi juga bermakna sebaliknya. Contohnya, kata nikmat yang berasal dari Bahasa Arab, ni’mat. Maknanya adalah sesuatu yang menyenangkan. Akan tetapi, ejaan nikmat ini apabila kita kembalikan ke Bahasa Arab, justru bermakna siksa. Itu terjadi jika memang kata nikmat yang sudah baku di dalam Bahasa Indonesia tidak diperhatikan kebakuannya dan dikembalikan ke Bahasa asal serapannya.

Namun kita semua sudah mengerti bahwa kata nikmat ini adalah baku di dalam Bahasa Indonesia yang bermakna sesuatu yang menyenangkan sehingga ejaan inilah yang kita gunakan tanpa merujuk kepada kata asli serapannya. Ketika kita menyebutkan bahwa aslinya adalah kata ni’mat dari Bahasa Arab, ini semata-mata untuk menjelaskan serapannya, bukan untuk mengubah ejaan bakunya. Apalagi kata baku tersebut sudah dipergunakan sejak lama.

Mungkin ada persoalan lain? Kata Cina adalah sebuah nama. Saya tidak tahu apakah hal ini juga berpengaruh dalam perubahan ejaan yang terjadi. Nyatanya, ini bukan satu-satunya kata yang mengalami perubahan ejaan secara formal. Saya juga mendengar beberapa stasiun televisi menyebut dialog dengan dailog, kata diet dengan daiet, dan mungkin masih ada beberapa kata lainnya.

Sejauh mana kebenaran ejaan itu, saya tidak tahu persis kecuali kelatahan menggunakan ejaan Bahasa Inggris yang simbol <i> digunakan pada banyak kata sebagai lambang fonem /ay/. Apakah di dalam Bahasa Indonesia ada grafem <i> untuk fonem /ay/? Sepanjang pengetahuan saya, /ay/ adalah sebuah diftong yang simbolnya ditulis <ai> untuk melambangkan satu fonem. Sedangkan simbol <i>, bagaimanapun juga tetap dibaca /i/, dan tidak pernah ada di dalam Bahasa Indonesia simbol <i> itu menjadi lambang /ay/. Dari segi variasi bunyi pun, fonem /i/ hanya mempunyai dua alofon yang tidak termasuk di dalamnya bunyi [ay].

Dengan ketentuan ini, jelas suatu kata yang mengandung /ai/ sebagai satu fonem dieja berbeda dengan ai yang terdiri dari dua grafem untuk melambangkan dua fonem: /a/ dan /i/. Contohnya, kata mulai dibaca mu-la-i, berbeda dengan pakai yang dibaca pa-kai (pakay). Lebih jauh, coba bandingkan antara mau dan harimau, atau gulai (jenis masakan) dan gulai (diberi gula). Dengan demikian, manakah yang benar sesungguhnya, dialog atau dailog, diet atau daiet, dan Cina atau Caina?

Penjelasan:
• Fonem adalah satuan bahasa terkecil berupa bunyi atau aspek bunyi bahasa yang membedakan bentuk dan makna kata. Berdasarkan konvensi, fonem ditulis di antara garis miring: /contoh/.
• Alofon adalah dua atau lebih bunyi bahasa yang secara fonetik mirip, tetapi tidak membedakan kata. Atau secara sederhana alofon adalah variasi bunyi. Bunyi ditulis di antara [ dan ].
• Grafem adalah huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambang fonem dalam sistem ejaan. Grafem biasanya ditulis di antara <dan >. Tidak setiap satu grafem melambangkan satu fonem. Contohnya grafem <e> digunakan untuk melambangkan fonem /e/ pada /pena/ dan fonem /&04D9;/ pada /belah/.

Tags: , , , ,

7 Responses to “Cina Apa Caina?”

  1. 1
    Ari Condro Says:

    lha, yg ditonton metro shinwen, jadinya caina, soale daribahasa inggrisnya china.

    ada tulisan menarik kenapa suku tionghua jadi musuh masyarakat di indoensia ini.

    1. http://www.socineer.com/indo-mestizo2.html

    2. http://www.indonesiamedia.com/lipsus/related.html

  2. 2
    Wijono Says:

    Mungkin ketularan jiran …

  3. 3
    Aman Says:

    Iyah bisa juga tuh. Namun mungkin juga karena MetroTV ingin go internasional. Jadi, ya harus disesuaikan. Salam kenal, Bang Wijono.

  4. 4
    Agungk Says:

    MetroTV memang sok english gito lho.
    Mosok acara yang maksudnya menyelamatkan bangsa diberi judul: Save Our Nation.
    Wong, menggunakan bahasa saja malu, tidak mau, atau tidak tahu. Bagaimana kita mau percaya kalau mereka mampu dan mau bersusah payah untuk kepentingan bangsa yang bernama Indonesia ini?

  5. 5
    erikeren Says:

    ah emang dasar cina.
    ini sih pasti titipan dari salah satu orang WNI keturunan. mungkin dia nggak enak denger panggilan itu.
    jadi metro disogok deh.

    padahal menurut KBBI dan aturan2 perbahasaannya, seharusnya bahasa indonesia dilafalkan sesuai dengan tulisannya. cina ya dibaca cina bukannya caina.
    saya sangat menyesalkan emang, kalo emang kantor pemberitaan jurnalisitik yang seharunya ngerti banget ama tata bahasa malah kyk gini. masalahnya kalo emang mo go internasional, kenapa yg laen nggak dibaca sok2 asing gitu. kyk jepang dibaca japan dkk
    payah deh……

  6. 6
    Aman Says:

    Saya pikir kalau soal sogok-menyogok atau titipan pihak lain terlalu jauh. Saya justru melihatnya memang faktor mental. Bahasa adalah bagian mental yang paling menyertai manusia sejak ia lahir dan itu yang tidak mereka sadari. Kalau di dalam berbahasa, apalagi forum resmi, terjadi seperti yang kita lihat sekarang ini, maka itu menunjukkan ada perubahan dalam mentalitas kita. Erikeren benar, kalau alasannya ingin ‘Go International’, kenapa tidak semuanya saja. Itu juga bukan alasan, karena ‘Go International’ berarti menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat internasional, bukan mencampur aduk apa yang berlaku di dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Jadi, silahkan saja menilai bagaimana sebenarnya mental pengguna bahasa itu: merdeka, terjajah, atau memang tidak perduli sama sekali.

    Btw, sejak beberapa bulan yang lalu saya ada rencana menulis KKBI, variasi baru dari KBBI.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Aug 13, 2008: Why they said Caina instead of Cina in bahasa? « Almaokay’s Weblog

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Here my code for Widget that taking main area. There are a two option toggle on or off this widget area on single and index page.

Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker