Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Dapatkan Cash Back 10% Dari Biaya Pendaftaran Bagi Pendaftar Yang Mengajak Satu Orang Lainnya Sebagai Peserta. Berlaku Kelipatannya.

Himpitan Ekonomi dan Ayat-ayat

1 May 2007 – 6:43 am · diperbarui: 5 Sep 2009

Ustadz Jefri melantunkan ayat-ayat al-Qur’an bahwa Islam memerintahkan untuk hidup sehat dan memakan makanan yang baik. Islam melarang setiap makanan yang memudaratkan. Beliau pun membacakan sebuah ayat dari Surah al-Nisa. Inilah yang aku dengarkan sore ini dalam sebuah acara TV berkaitan dengan keanehan seorang Yanto. Tidak ada yang salah dalam hal ini.

Ustadz Jefri hanya memberikan komentar terhadap sebuah fenomena yang terjadi pada salah seorang saudara kita, yaitu bagaimana pandangan Islam dan ajaran al-Qur’an berkenaan dengan fenomena itu. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi sekali atau dua kali saja. Banyak peristiwa yang kita lewatkan. Setiap kali menjumpai sesuatu yang seperti ini kenyataannya, kita pun mengukurnya dengan pandangan al-Qur’an. Dan begitulah seterusnya.

Pernahkah kita beranjak ke arah yang lebih jauh dari itu? Coba kita perhatikan tentang kehidupan PSK. Sepanjang yang kita lakukan adalah mengukurnya dengan konsep ajaran, tidak ada yang perlu diperdebatkan atau dibicarakan lagi. Hukumnya sangat jelas: haram! Namun persoalan tidak berhenti sampai di sini saja, bukan? Bisakah kita mencoba memahami dari sudut lain sekiranya bisa jadi kita dapat menemukan solusi yang lebih konkrit daripada sekadar menyatakan haram, tidak baik, dilarang, dan sebagainya.

Minimal, kita bisa memahami kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya berpikir mencari solusi yang konkrit. Hukum-hukum agama selamanya tidak akan mengalami perubahan, apalagi hal-hal yang sudah bersifat tetap secara pasti. Jadi, tidak semua bentuk kehidupan, fenomena, kasus, dan apa pun selalu linier dengan aturan hukum dan ajaran. Kehidupan manusia begitu kompleks, bahkan begitu kontradiktif dan tidak logis jika kita perhatikan baik-baik.

Memang, tugas utama ulama dalam konteks ini adalah memberi penjelasan, arahan, peringatan, dan kewaspadaan. Inilah yang terus berlangsung sejak lama. Namun, ini tidak berarti seluruhnya harus berhenti di sini. Bukan sesuatu yang mustahil atau terlarang untuk melangkah lebih jauh. Kita bisa melakukan sesuatu tanpa meninggalkan tugas utama. Misalnya, melakukan langkah konkrit untuk mengatasi semua fenomena aneh ini.

Di sinilah betapa pentingnya ulama jaman sekarang untuk tidak membatasi diri pada ilmu-ilmu agama konvensional saja. Tuntutan dan tantangan semakin berat. Dalam upaya mengatasi kenyataan minor seperti kasus ini, misalnya, seseorang bisa memulainya dengan menelaah tentang faktor sosial, ekonomi, lingkungan, dan bahkan politik. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu pun semestinya dapat didayagunakan untuk kepentingan ini.

Kasus Yanto yang aneh dan unik ini merupakan fenomena yang diliputi banyak faktor: mental, ekonomi, sosial, dan kebijakan politik. Pemiskinan rakyat yang berlangsung terus menerus sangat berperan besar terhadap kenyataan ini. Kemudian, kondisi sosial yang individualis turut serta mendukungnya untuk terus berkembang. Faktor ekonomi sudah jelas. Dan semuanya berpengaruh pada mental seseorang.

Seorang wanita PSK yang masih berusia 14 tahun, misalnya, dengan wajahnya yang cantik dan lugu harus mengorbankan diri dan kehormatan karena himpitan kehidupan. Kesiapannya setiap malam untuk menyambut laki-laki hidung belang bukanlah kehendak hati dan keinginan sendiri. Apalagi jika Anda bersedia mendengarkan kisahnya. Ibunya harus menjalani operasi. Biayanya dengan terpaksa diperoleh dari utang. Begitu besarnya jumlah uang yang harus dibayar dan di bawah tekanan pihak peminjam, memaksanya melakukan sesuatu yang ia sendiri akan melawan seandainya punya kekuatan. Namun, apa daya ia tak mampu dan terpaksa melakukannya.

Dalam konteks agama, jelas berzina itu haram; mengemil lipstik atau minum jus bedak jelas tidak baik. Tidak ada yang mengubah ketentuan ayat-ayat al-Qur’an terhadap hal ini. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh ayat-ayat untuk mengatasi kenyataan ini? Sekali lagi, inilah tantangan ulama jaman sekarang: tidak menjadi tukang khutbah dan menunggu amplop semata.

Tags: , , ,

4 Responses to “Himpitan Ekonomi dan Ayat-ayat”

  1. 1
    Jono Says:

    Assalaamu’alaykum,

    Saya kutip kembali kalimat2 anda: “Tidak ada yang mengubah ketentuan ayat-ayat al-Qur’an terhadap hal ini. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh ayat-ayat untuk mengatasi kenyataan ini?”

    Tampaknya anda maunya permisif. Kalau orang miskin terjepit hidupnya dan butuh uang segera, bolehlah mencuri atau jadi PSK. Wah ini ada lanjutannya: Kalau mau jadi pegawai negeri, bolehlah menyogok petugas, karena jaman lagi susah cari pekerjaan dan para pelamar PNS lainnya juga menyogok, dst. dst…. Apa anda ingin kondisi permisif itu harus terjadi untuk jaman sekarang?

    Yang kedua, tentang “ayat-ayat” itu… apakah anda belum mengerti siapakah yang membuat “ayat-ayat” itu? Dan untuk “ayat-ayat” itu perlu dibuat oleh Sang Pembuatnya?

    Analoginya adalah, jika anda seorang pembuat mobil Toyota (misalnya), tentulah anda tahu seluk beluk mobil itu sedetail-detailnya hingga sekrup dan bautnya. Jika saya yang tak begitu mengerti perihal mesin mobil akan susah mengatasi problem sewaktu mobil Toyota yang saya kendarai tiba-tiba mogok, tak tahu apa sebabnya. Lha bensin masih penuh, oli ok, dll dll sip semua tapi kok masih mogok. Tapi bagi anda sebagai pembuatnya tentu akan merasa mudah mengatasinya, mungkin dalam waktu 10 menit mobil itu akan jalan lagi, tok cer.

    Nah, bagi saya sebagai orang yang tak paham benar soal mesin, kewajiban saya ya bertanya dan minta tolong anda sebagai pembuat mobil itu. Konsekuensinya saya musti baik-baikin anda dan patuh apa perintah anda (termasuk membayar jasa keahlian anda), agar anda segera menservis mobil dan mobil itu bisa jalan lagi.

    Demikianlah… semoga bermanfaat dan membuka cakrawala pemikiran kita.

    Wassalam.

  2. 2
    Rif Says:

    Yah, Pak Jono,..

    Anda sama saja dengan para ustadz yang disebutkan Aman apalagi dengan analogi Toyota nya. Dan juga…anda Salah tangkap pesan yang ingin disampaikan Aman. sama sekali bukan permisif – kutipan artikel dia: “Hukumnya sangat jelas: haram! Namun persoalan tidak berhenti sampai di sini saja, bukan?”

    Intinya, correct me if i were wrong ‘Man, …jangan berhenti di ayat saja!. Do something even more. Jangan hanya bisa melarang – bilang ini haram dan terus dapat amplop :) .

    Demikianlah… (silakan dibaca lagi tulisan aman ini,)…semoga bermanfaat dan membuka cakrawala pemikiran (Anda).

  3. 3
    mirna Says:

    Itu lah islam agama yang universal, agama yang benar….sehingga apa-apa yang dinyatakan dalam al-quran itu JELAS!!! setiap orang bisa membuktikannya siapapun itu….jika anda orang yang selalu ingin maju…coba anda baca al-quran, g’da masalah di dunia ini yang g’ da dalam al-quran!!!
    KESIMPULANNYA kita semua pasti bisa baca….jangan nyalahin para ustad aja donk!!! coba ANDA YANG JADI USTAD BISA g’????
    sebagai ornga yang berpendidikan pasti kenal dengan kata TIDAK ADA YANG TIDAK BISA TERJADI DI DUNIA INI JIKA BERUSAHA DAN BERDOA””’
    mau tau solusi tentang haram??? mungkin bisa dibilang anda menanyakan apa yang bisa perbuat jika itu haram..seperti PSK!!!
    di dunia ini banyak rangan pekerjaan kita bisa pilih salah satunya yang penting HALAL!!! INSYAALLAH RIZKI itu ALLAH yang mengatur semuanya…
    jadi pemulung aja anda, jika ALLAH berkehendak anda kaya.. TIDAK ADA YANG SULIT BAGINYA.
    SARAN DARI SAYA JIKA ANDA BELUM PUAS PELAJARILAH AL-QUR’AN ITU SECARA SEMPURNA…
    terimakasih moga bermanfaat dunia dan akhirat bagi kita semua.

  4. 4
    Aman Says:

    @Jono: Saya pikir tanggapan yang diberikan oleh @Rif sudah cukup jelas.

    @Rif: Terima kasih atas komentar dan tanggapannya.

    @Mirna: Terima kasih juga atas komentar dan tanggapannya. Saya sepakat bahwa agama Islam itu universal, bukan agama menara gading, bukan? Bukan semata agama dalam masjid, bukan? Sekiranya saya tidak bermaksud menyalahkan para ustad, hanya ingin mengatakan bahwa semata membaca ayat kepada orang miskin tidak akan mengubahnya menjadi kaya, dan seterusnya.

    Contoh kasus yang saya kemukakan cukup jelas. Apa solusi kita terhadap perempuan berzina yang terhimpit utang, sebagaimana saya sebutkan? Cukup bacakan kepadanya bahwa menurut al-Qur`an perbuatan itu haram, dan selesai?

    Persoalan terbesar kita, secara konsepsional, sangat filosofis. Kita dengan mudah mengatakan sesuatu berdasarkan apa mau kita atau apa yang kita alami. Begitu, bukan? Mudah mengatakan banyak pilihan, karena Anda tidak mengalami.

    Anda akan selalu mengatakan batu yang dilepaskan itu akan terjatuh ke tanah—berdasarkan Empirisme Hume—karena hanya itu yang Anda lihat (alami) dan secara persepsi merasa ’selalu’ demikian. Padahal, bisa saja tidak selalu demikian. Anda tidak pernah mengalami ’selalu’ itu.

    Kita hanyalah bagian dari kehidupan, bukan kehidupan itu sepenuhnya. Barangkali bisa dimengerti maksud saya ini. Terima kasih.

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker