Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

“Ini momentum yang paling tepat untuk reformasi antikorupsi. Ini kita gerakkan kembali. Saya berbahagia dan bangga berperan LSM dan pers. Partai-partai kita itu enggak bekerja, kalian (LSM) yang bekerja. Parpol secara institusional gagal berperan sehingga digantikan civil society.
Adnan Buyung NasutionKompas, 4 November 2009

“Dengan kasus ini, saya harap akan membuka mata presiden bahwa bidang hukum harus ditangani tidak kurang dari ekonomi. Bangsa ini tidak hanya butuh perutnya, tapi juga rasa keadilan bagi masyarakat.”
Adnan Buyung Nasution — Detiknews.

“Situasi terkini jelas membuktikan bahwa ketika DPR “tertidur ” dan politisi ’mati suri’, maka “DPR jalanan” bergerak sekaligus menjadi alternatif perjuangan rakyat untuk meneriakkan aspirasinya, antara lain melalui dunia maya."
Abdillah Toha — Kompas.

Baca juga analisis dan fakta: Adnan Buyung Nasution “Tampar” SBY-Demokrat

Ada Apa Dengan Munjid?!

26 May 2007 – 7:36 am · diperbarui: 5 Sep 2009

Sepanjang malam ini aku berkesempatan online melalui koneksi wireless yang tersedia; selama ini pula aku puas-puas berselancar ke berbagai web site; baca berita, melihat perkembangan dunia luar, update beberapa aplikasi, dan lain-lain. Tidak ketinggalan aku juga membaca berbagai informasi dunia Islam: apa saja yang sempat aku baca, sampai aku menjumpai dua artikel tentang kamus al-Munjid: satu artikel dipublikasi di situs www.eramuslim.com dan satu lagi di blog salafy yang pada dasarnya mengutip dari situs yang pertama.

Tampak dari isinya sebuah keterkejutan mengenai satu informasi yang mungkin bagi penulisnya sangat baru, dan ia ingin berbagi tentang informasi itu kepada orang lain. Padahal, orang-orang yang belajar di pesantren sendiri tidak sedikit yang sudah mengetahui bahwa kamus itu memang ditulis oleh seorang yang beragama Kristen, yaitu Louis Ma’luf. Selain kamus ini, sebenarnya masih ada beberapa kamus lain yang ditulis oleh kalangan non-Muslim. Namun tidak sepopuler Munjid. Bahkan, tidak hanya kamus, mereka juga berkontribusi pada beberapa bidang lain seperti Sejarah dan Sastra.

Jadi, hal-hal itu bukanlah persoalan yang aneh dan tidak perlu membuat orang Islam harus kebakaran jenggot. Memang, dalam kasus Munjid ada beberapa catatan yang harus diberikan kepada kaum muslimin agar mereka tidak terjebak ke dalam propaganda istilah yang mungkin mengelabui. Namun, pada prinsipnya tidak ada dari isi kamus itu yang mengganggu ajaran Islam. Semuanya hanya perbedaan pandangan dan anggapan yang dipengaruhi oleh beda keyakinan saja. Sama halnya dengan perbedaan Ibrahim dalam istilah Islam dan Abraham dalam istilah Barat, misalnya.

Karena itu, hingga kini tidak ada lembaga fatwa atau otoritas yang melarang kamus itu terbit. Bahkan lembaga Azhar sendiri membiarkan saja kamus itu terbit. Lebih lagi dengan adanya kebutuhan terhadap kamus tersebut pada kasus-kasus tertentu.

Penulis artikel tersebut tampaknya tidak memahami dengan baik kedudukan dan posisi suatu bahasa. Perlu dijelaskan bahwa justru sebuah kesalahan kalau kita selalu mengidentikkan bahasa Arab, bahkan setiap yang berkaitan dengan Arab, kepada Islam. Tidak setiap Arab itu Islam. Tidak setiap yang berbahasa Arab itu otomatis Islam. Kaitan Arab dan Islam hanya bahwa al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab, Rasulullah Saw dari kalangan Arab, dan Islam pertama kali menyebar dari tanah Arab.

Harus benar-benar dipahami bahwa al-Qur’an itu berbahasa Arab, tetapi tidak setiap yang berbahasa Arab itu punya kaitan dengan al-Qur’an. Injil-injil, Taurat, dan buku-buku spesifik bagi agama tertentu di tanah Arab sana juga menggunakan bahasa Arab. Tulisan Allah di dalam Injil Arab dan di dalam al-Qur’an juga ditulis sama. Jadi apa sebenarnya masalah kita dengan kamus Munjid?!

Kita sangat menghargai tulisan-tulisan yang mengkritisi kamus ini seperti tulisan al-Qaththan dan Ibrahim Awwad. Itu penting agar kaum muslimin paham yang sebenarnya dan tidak terjebak pada istilah-istilah yang bersifat teknis. Namun bahwa penulis artikel tersebut menyerukan kepada MUI untuk melarang kamus ini, jelas saya menolak dengan keras. Alasan-alasan yang diajukan dalam seruannya ini juga tidak rasional dan tidak realistis.

Penulisnya adalah seorang Kristen. Wajar jika dia tidak memulai dengan basmalah, memuat informasi yang berkaitan dengan ajaran dan persepsinya, tidak membahas tentang akidah Islam, tidak menulis SAW pada nama Nabi Muhammad, dan seterusnya. Tidak mungkin kita memaksakan hal itu kepada orang yang memang tidak seajaran dengan kita dan mempunyai keyakinan yang berbeda. Satu hal yang pasti, ini adalah bidang bahasa. Kebutuhan kita terhadap kamus ini adalah kebutuhan bahasa.

Satu catatan lagi, sebenarnya Munjid itu sudah bersifat ensiklopedia, tidak semata-mata kamus. Di dalamnya tidak hanya memuat tentang kata dan makna kata. Justru status kekamusannya lebih rendah kualitas entrinya daripada beberapa kamus lain. Untuk mencari makna suatu kata, misalnya, saya pribadi hampir tidak pernah mengandalkan kamus ini. Banyak kamus lain yang lebih memadai daripada Munjid. Namun, bukan berarti Munjid tidak perlu digunakan. Dalam kasus-kasus tertentu seperti mencari nama tokoh, nama daerah, atau informasi lain, bagaimana tulisan Latin atau Arabnya, saya sering merujuk kamus ini. Itulah kelebihannya yang jarang kita temukan di dalam kamus yang lain.

Orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang bahasa, para penerjemah, dan mereka yang mempunyai hubungan tertentu dengan masalah Arab, sangat merasakan betapa mereka membutuhkan kamus ini. Karena itu semua, seruan penulis artikel tersebut untuk melarang peredaran kamus ini di Indonesia sama sekali tidak bisa diterima, hanya dorongan emosional keagamaan, dan sama sekali tidak beralasan. Seruan itu muncul karena sudut pandang yang sempit, dan keliru mengambil posisi sama persis dengan kelirunya seseorang yang membaca novel yang mengandung nilai sejarah sebagai buku sejarah.

Tags: , ,

2 Responses to “Ada Apa Dengan Munjid?!”

  1. 1
    papabonbon Says:

    doooh mas, kok ndak pernah kelihatan lagi hehehehe … btw, komen mas aman sama dengan pendapatku ttg tulisan di swaramuslim ttg al munjid itu. tapi saya sangat kurang pengetahuan, untuk mampu counter seperti mas aman.

  2. 2
    Aman Says:

    Wah hari ini terbaca tulisan ini ada komentar rupanya. Sudah dua tahun yang lalu euy, maaf. Sama aja, Mas. Kebetulan karena saya belajar bahasa aja. Btw, kemana aja sekarang?

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Here my code for Widget that taking main area. There are a two option toggle on or off this widget area on single and index page.

Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker