Backup PC, Nero BackItUp, dan Laptop Hewlett-Packard
4 August 2008 – 1:41 amSuatu kali PC Anda mengalami kerusakan atau diserang virus ganas sehingga harus melakukan instalasi ulang, maka sudah saatnya sejak saat ini Anda memikirkan untuk melakukan backup. Banyak software yang bisa Anda gunakan untuk keperluan ini. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mendiskusikan setiap program itu satu per satu. Ini hanya cerita pengalaman lama yang sudah hampir terlupa.
Dahulu, selagi masih mengelola warnet di Cairo, beberapa aplikasi pernah saya coba. Salah satu di antaranya adalah GoBack. Namun, setelah beberapa bulan menggunakannya, saya merasa aplikasi ini terlalu banyak memakai resource dan cukup berat. Sampai suatu ketika saya terkesan dengan Norton Ghost. Memang tidak sepraktis GoBack, tetapi cukup mudah dan tidak mengganggu system yang sedang berjalan.
Hingga kini pun saya masih terkesan dengan aplikasi ini. Selama hampir dua tahun saya selalu menggunakannya dan hanya bermodalkan satu disket. Bayangkan betapa mudahnya pada masa sekarang yang sudah menggunakan media DVD-RW. Beberapa hari terakhir ini saya mencoba aplikasi yang lain. Pertama kali adalah Nero BackItUp. Kompresinya cukup tinggi sehingga backup kita tidak terlalu besar. Namun sayang, opsi-opsinya tidak terlalu jelas.
Salah satu proses yang fatal pernah saya alami dengan aplikasi ini. Ceritanya, saya sudah install Win XP di partisi standar (disk0/partition1 atau C) yang berkapasitas 36 GB. Setelah aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan selesai saya install, proses backup pun dimulai. Tidak ada kendala. File-file image backup itu saya kumpulkan ke dalam satu file .iso yang dibuat bootable bersama image boot milik Nero.
Saya teledor dengan tidak memastikan apakah restore-nya bisa berjalan dengan baik. Hanya boot lewat DVD hasil burning file .iso yang sudah saya buat di atas, saya periksa file-file image terbaca dengan baik tanpa mencoba restore.
Selanjutnya, saya coba mengembalikan Win Vista Home Premium yang sudah bundle dalam produk HP laptop. Sebelumnya, melakukan modifikasi sistem ini betapa sulitnya. Laptop HP yang dijual lengkap dengan Vista OEM tidak menyediakan driver-driver untuk XP. Seminggu lebih bolak-balik internet untuk mencari driver-driver yang sesuai. Alhamdulillah berhasil juga mendapatkannya. Windows XP itulah yang saya backup.
Persoalan dengan Laptop HP
Proses backup restore ini bermula dari laptop HP yang sangat protektif, bahkan tidak disertakan CD/DVD driver atau backup recovery dalam kemasannya. Kemasannya dipaket dengan M$ Vista OEM. Recovery to Factory Default disimpan di salah satu partisi hard disk. Memang HP menyediakan beberapa aplikasi, termasuk membuat CD/DVD recovery. Hebatnya, ini hanya bisa dilakukan satu kali. Saya coba gunakan fasilitas ini dan berkali-kali gagal. Ah, masa harus kontak ke technical support HP!
Dari pengalaman ini, saya menyarankan Anda tidak memilih laptop merk HP dengan OS Windows OEM. Partisi Anda sudah ditetapkan dan akan sulit untuk membagi-baginya. Selain itu, tidak ada CD atau DVD driver yang disertakan. Setiap kali melakukan recovery, partisi Anda akan dikembalikan seperti semula.
Misalnya, kapasitas hard disk laptop HP adalah 160 GB. Pada laptop HP, file-file recovery factor default disiapkan di partisi D yang berstatus primary dengan kapasitas 7—20 GB. Sisanya menjadi bagian partisi C yang juga primary partition. Tipe orang seperti saya tidak suka file-file sistem berada di satu tempat dengan file-file dokumen. Alasannya, ketika terjadi masalah pada sistem, dengan mudah kita melakukan restore atau install ulang. Bayangkan saja jika file-file pribadi Anda berada di partisi C semua. Apa ngga ilang tuh!
Di laptop HP, membagi partisi C menjadi sangat susah. Memang ada fasilitas shrink disediakan oleh Windows. Namun tidak selalu pas dengan keinginan kita tentang ukuran kapasitasnya. Keperluan setiap orang berbeda-beda. Jelas sekali.
Ketika saya melakukan partisi kembali pada C, otomatis boot berpindah ke partisi D yang menyimpan OS bayangan dengan segala fasilitas recovery milik HP. Apabila partisi C sudah kita alokasikan, maka dengan recovery milik HP akan dikembalikan ke ukuran semula. Kita benar-benar dibuat pusing olehnya.
Karena saya termasuk orang yang baru terhadap BCD, otomatis perlu waktu yang cukup lama untuk melakukan gutak-gatik sistem boot baru milik Vista ini. Sampai akhirnya berganti-ganti GUID yang dituliskan dan beragam cara dicoba hingga berhasil boot dengan partisi baru yang sudah dimodifikasi. Setelah itu, saya recovery dulu sistem Vista dari partisi D. Kemudian saya install Windows XP. Di sinilah proses backup dimulai dan mengalami masalah pada saat restore.
Masalah Backup dengan Nero BackItUp
Nah, persoalan muncul pada Nero BackItUp. Setelah Vista berhasil diinstall dan di-backup, saya ingin mengembalikan laptop HP ini ke Windows XP. Rupanya oleh Nero dianggap tidak sesuai sizenya. Bolak-balik saya lakukan, tidak juga berhasil. Sampai akhirnya saya gunakan disk utility untuk melakukan resize partisi. Kapasitas partisi sistem yang menjadi target restore saya tambah.
Tentu saja saya merasa aneh dengan hal ini karena partisi tersebut tidak mengalami perubahan sama sekali kecuali pergantian OS belaka. Bagaimana Nero menghitungnya seperti itu? Inilah yang tidak mampu saya jawab. Kelebihan Nero BackItUp terletak pada kecepatannya melakukan restore. Dibandingkan dengan Norton Ghost, misalnya, kurang lebih 30% lebih cepat.
Selain di atas, kekurangan Nero BackItUp tidak bisa menulis NTFS karena boot recovery yang disediakan menggunakan linux. Memang ini kisah lama yang sampai sekarang belum tuntas diselesaikan. Linux vs NTFS. Egoisme Microsoft! Kemudian, pembuatan image boot untuk boot recovery tidak bisa disatukan dengan file image yang sudah dibuat. Akibatnya, banyak kapasitas media yang terbuang percuma, apalagi kalau DVD.
Aplikasi kedua yang cukup berbobot adalah produk Paragon. Memang saya belum sempat mencoba restore karena image backup lebih besar daripada yang dihasilkan oleh Norton Ghost. Bisa jadi, karena saya masih menggunakan default. Coba deh nanti.
Artinya, sampai sekarang saya masih menomorsatukan Norton Ghost dalam hal backup partisi. Ada beberapa aplikasi backup yang berukuran kecil dan unik. Sayangnya, tidak dilengkapi dengan sistem boot yang memadai. Saya pernah mencoba satu aplikasi yang bisa membuat image dengan kompresi .gzip dan .bzip2. Namun restorenya susah, khususnya jika disiapkan untuk kalangan pengguna komputer pemula.
Terbayang sih untuk mengadopsi sistem linux dan otomatis restore hanya dengan mengetikkan restore di command prompt, misalnya. Toh Nero yang non-free saja menggunakan linux untuk boot recovery. Kapan ya punya waktu untuk ekspolarasi hal-hal beginian lagi? Kangen Linux, euy!
Kombinasi Nero BackItUp dan Laptop Hewlett-Packard yang tidak friendly dan cenderung menyulitkan benar-benar menyita waktu. Saat menulis ini, saya baru merapikan kembali Windows XP yang sudah berhasil di-restore dengan susah payah. Entah bagaimana nanti ketika saya kembali ke Windows Vista. Masih banyak hal yang menimpa saya berkenaan dengan laptop HP dengan Windows OEM ini dan tidak sempat saya tuliskan satu per satu.
Paling menjengkelkan di antaranya adalah soal driver-driver. Kadang-kadang kita merasa lebih mudah untuk mendapatkannya di website vendor. HP sendiri tidak menyediakan dukungan diver-driver selain apa yang sudah ditanamkannya ke dalam sistem operasi. Ada paling-paling versi updatenya.
Sialnya, seringkali driver baru dari vendor tidak dikenali oleh sistem operasi. Tidak jarang harus modifikasi file .inf atau menggunakan trik-trik lainnya. Berjam-jam waktu terbuang hanya untuk mengurus hal-hal begini. Payah deh! Jika tak percaya, Anda bisa melihat sendiri ke forum di website HP. Betapa banyak persoalan dan komplain yang diajukan.
Tipikal HP dengan sistem ini sama dengan Microsoft yang lebih senang menyediakan semua serba praktis. Katanya seh. Jika ada masalah, akhir dari troubleshooting-nya adalah panggil petugas dukungan teknis dari vendor yang bersangkutan. Siapa kira akan selalu mudah. Nyatanya juga tidak, apalagi dalam kasus negara seperti Indonesia. Jangan berharap banyak.
Coba saja buktikan. Seseorang yang beli komputer jenis apa pun, dan hanya menggunakannya tanpa tahu mekanisme operasionalnya selain klik dan klik, memang tidak akan mengeluh selama tidak ada masalah dan baginya apa yang ada sudah memenuhi apa yang dibutuhkannya. Jika ada masalah, dia bisa minta bantu teman yang lebih mengerti atau ke service komputer. Lalu, apa gunanya segala macam dukungan teknis?
Saya tidak membayangkan sebelumnya kalau OS legal bertipe OEM ternyata menyusahkan dibanding versi bajakan. Memang, sangat mudah jika kita beli lalu tinggal pakai saja. Namun, apakah terbayang oleh perusahaan-perusahaan itu suatu kasus yang sangat sederhana. Seseorang membeli laptop merek HP dengan Vista OEM dan dia tidak terbiasa menggunakan Vista yang tergolong baru. Karena itu, ia ingin downgrade saja ke Windows XP.
Mudah saja untuk mengatakan, kenapa tidak beli laptop yang XP OEM saja? Kalau seri laptopnya memang menyediakan pilihan itu tanpa ada perbedaan pada spesifikasi hardware-nya, barangkali tidak akan menjadi masalah. Namun, mungkinkah itu ada pada saat seseorang membeli? Tau ah!
Nah gara-gara in semua yang semata-mata pengalaman, saya menyarankan Anda untuk tidak membeli komputer atau laptop dengan Windows OS OEM, khususnya merek HP sebagaimana pengalaman ini. Merek lain apakah juga sama, saya tidak tahu persis. Bisa saja ada fleksibelitas yang lebih baik. Mungkin sekali. Saran ini pun menjadi bahan Anda untuk menimbang dan ada baiknya untuk memeriksanya sebelum membeli.
Saran kedua, jangan menggunakan Nero BackItUp untuk membuat backup partisi OS. Saya pikir masih ada ketidakstabilan dalam membaca sector hard disk, khususnya setelah Anda melakukan backup kedua. Untuk bagian ini, saya lebih senang menggunakan Norton Ghost. Opsi-opsinya jelas dan menggunakan pengaturan asli tanpa perubahan sudah cukup untuk melakukan backup.
Hanya satu persoalan saja pada Norton Ghost, yaitu booting menggunakan PC DOS. Masalahnya kadang-kadang muncul jika file image kita berada di hard disk lokal yang menggunakan NTFS. Cara paling mudah adalah menggunakan CD/DVD utilities. Saya punya CD/DVD yang booting menggunakan sistem BCD Vista dan dilengkapi dengan aplikasi milik Symantec, termasuk Norton Ghost, software-software Paragon, dan beberapa aplikasi lainnya untuk keperluan maintenance.
Menggunakan sistem booting ini, saya pikir, backup dan restore menggunakan Norton Ghost sudah tidak ada masalah lagi. Tinggal bagaimana menyimpan file image saja. Bisa di lokal disk atau di media DVD. Tergantung mana yang paling mudah dan sesuai keperluan masing-masing.
Update: 3 Agustus 2008 05:23
Gila! Hingga pagi ini saya masih belum berhasil restore Vista Home Premium bawaan Hewlett-Packard. Image hasil backup menggunakan Nero BackItUp tidak berhasil menuliskan MBR buat Vista, padahal sewaktu backup, MBR ini saya masukkan untuk disertakan dalam backup. Untungnya partisi HP_RECOVERY masih ada. Itu pun saya kesulitan bagaimana bisa akses boot lewat partisi ini.
Pikir punya pikir, daripada buang-buang waktu menuliskan GUID device dengan BCD, saya gunakan boot manager punya Paragon. Saat boot, aplikasi ini menampilkan partisi mana saja yang bisa kita lewati untuk boot. Tertulis partisi C dan partisi HP_RECOVERY. Partisi C yang ada Vista justru tidak bisa digunakan. Hanya HP_RECOVERY yang bisa.
Kalau ingin gampang dan mengikuti saja apa maunya HP, kita cukup recovery ke factor default. Tidak! Ngga mutu sekali dan banyak aplikasi yang mendukung keperluan sudah ada di partisi C hasil restore image backup. Akhirnya, saya pilih command prompt. Keanehan dan kesialan tetap saja muncul. Ini saya sedang sial apa Hewlet-Packard yang kurang ajar ya?
Dengan BootRec.exe saya periksa OS yang terinstall. Partisi Vista berubah ke drive E. Sial, benar-benar sial. Masa saya harus masuk diskpart.exe lagi untuk remove letter dan assign letter. Cukup saya gunakan /fixMBR dan /fixboot dulu. Rupanya, command ini hanya menghilangkan boot record punya Paragon dan laptop sialan ini langsung booting ke HP_RECOVERY. Tidak banyak membantu dan hanya buang-buang waktu. Gimana lagi ya?! Call HP center! Hahaha.
Yah, menggunakan diskpart juga tidak banyak menolong. Harus reboot dan reboot. Payah sekali. Benar kan saran saya: kalau tidak ingin repot, jangan beli laptop Hewlett-Packard. Vendor ini pelit dan sangat restricted sehingga kita hanya akan mudah untuk mengikuti apa maunya dia, bukan apa yang kita inginkan sesuai keperluan. Untung sekali saya beli Acer Free OS.
Sudah sejak 2006, laptop Acer saya masih melaju kencang. Baterainya OK, bisa bertahan selama 4 jam pemakaian, dan baru drop 5%. Itu pun karena sempat teledor. Nah, baterai Hewlett-Packard yang baru berusia 4 bulan ini sudah drop 20%. Gila banget! Hal lain, DVD-RW sertaannya tidak terlalu bagus dalam hal baca-tulis.
Memang aplikasi asli HP yang disertakan cukup untuk mewakili kebutuhan: backup, recovery, system check-up, dan lain-lain. Help Vista saja sudah memuat Help punya HP. Namun, nyatanya juga tidak banyak berfungsi. Hanya menyusahkan dan memenuhi isi hard disk. Partisi untuk HP_RECOVERY sudah berapa hard disk yang terpakai, plus aplikasi-aplikasi HP lainnya.
Melanjutkan diskpart.exe di atas, saya gagal melakukan mount-dismount dan remove-assign volume letter. Saya kembali menggunakan Paragon Hard Disk Manager dan melakukan proses serupa. Tidak tahu, apakah nanti…. Ahha, masih gagal! Setelah primary dipindah dari E menjadi C, MBR pun menjadi bingung. Jelas tak bisa boot.
Dulu, sewaktu bongkar-bongkar BCD, saya sempat mengekspor konfigurasi BCD ke dalam bentuk file. Hari ini saya coba import, ternyata juga gagal. Gagal dan gagal terus. Solusi apa lagi yang bisa dilakukan? Laptop Hewlett-Packard memang gila, membuat system menjadi sebegini susah. Sambil ngetik ini, saya mikir. Onani otak di depan tiga laptop yang berbeda merek dan system. Huh!
Konklusinya, DVD-RW menjadi macet daya baca-tulisnya karena kebanyakan booting lewat DVD. Kepingan DVD pun menjadi bermasalah. Saya membayangkan Manager HP sekarang sedang tertawa terbahak-bahak melihat proses demi proses ini, sambil berkata sinis: Rasain Loe! Emang enak!












ha.. ha.. ha.. gile bener..
masa sih sampe segitunya.. masalahnya saya baru baca ini setelah melakukan hal yang sama seperti mas lakukan.. gila ya.. ini aja masih sementara nunggu sejam untuk 139 MB driver VGA ATI RADEON ACER for XP. Mungkin Solusinya Hapuskan aja tuh partisi D2D oem, vista memang oke, tapi pilih mana, korbankan ruang HD 30-an GB untuk Vista atau 3 GB.untuk XP
Kalo alokasi partisinya kembali seperti semula (size-nya) untuk drive C pasti ada skrip *.ini atau apalah yang perlu diubah..
Saya pada akhirnya bisa melakukan partisi dengan baik. Itulah kerja keras melakukan perubahan GUID di BCD dan lakukan ‘apply’ ke partisi yang dibuat manual. Sekarang sudah siap image-nya, baik Vista sendiri maupun untuk WinXP.
Hanya heran aja jadinya dengan banyak fasilitas yang mudah, tetapi justru yang sulit dipilih oleh HP. Di Vista kita mengenal teknik deployment dengan WIM. Sebenarnya akan menjadi mudah seandainya mereka tidak perlu buat otomatis partisi factory begitu.
Setahu saya, apply menggunakan imagex tidak mengubah partisi sama sekali. Malah sekarang saya sedang implementasikan di WinXP. Tapi belum sampai pada tahap full OS-nya, hanya beberapa folder di System32.
Tahu deh apakah nanti bisa berhasil kalau ‘boot’ dengan WIM yang ‘capture’ terhadap Full OS XP dengan BOOTMGR. Terbayang menggunakan NTLDR saja, tetapi menjadi masalah karena WIM tidak bisa di-mounting ke drive, tetapi ke folder.
bos. bantuin saya donk..
saya dapet problem yang sama,
saya pake hp dv2718us built in vista home premium, dan saya abis downgrade ke xp.. nah skg pengen balik lagi pake vista home premium bawaan, tapi ketika saya coba tekan F11 (untuk recovery) ko ga bisa ya.. yang ada dia tetap masuk ke windows xp.
masalahnya lagi skg saya belum sempat recovery ke DVD, jadi apa yg mesti saya lakukan skg?
tolong bantuannya ya bos..
thx..
Jujur saya katakan, ini agak susah. Ada beberapa cara untuk melihat drive tersembunyi:
(1) Booting menggunakan media milik Vista, yaitu BCD dengan BootMGR. Untuk mengedit BCD, gunakan aplikasi BCDedit yang pada dasarnya berjalan di Vista, tetapi bisa dimanipulasi untuk berjalan di XP. Sewaktu install, ia akan gagal. Ambil berkas-berkasnya saja.
(2) Gunakan Utilities yang menggunakan Vista Live. Saya punya, sekitar 130 MB. Sayang sekarang saya sedang berada di Kalimantan dan seminggu lagi baru ke Jakarta. Maksud saya, koneksinya itu lho hehehe..
(3) Ini agak lebih rumit: Cari tool yang bisa membaca hidden drive (mungkin OS sekalian seperti Linux), saling berkas *.WIM dari drive tersebut. Dari XP, kita bisa membuka berkas WIM dengan menginstall WimFilter driver dan tool GImageX. Namun, tetap saja kita harus menggunakan XP/Vista dari CD/DVD, kemudian apply *.WIM tersebut ke drive sistem (drive C pada umumnya).
alhamdulillah gak samapi ke pengadilan mas, gara2 curhat dan menceritakan tentang keluhan penyakit seorang PRITA harus kena pasal, pidana dan perdata!!! beginikah hukum di indonesia??? sykur alhamdulillah, apapun masalah yg terjadi sama mas moga ada hikahnya, amin.
Benar juga sih.. bisa jadi bedanya, karena untuk komputer dan aplikasi, rata-rata kan dari luar yang cukup tahu dan sadar mana keluhan dan mana penghinaan, sementara Prita berhadapan dengan RS lokal meskipun berlabel internasional, yang sebagian besar lebih berorientasi gengsi.
Kalau kita sadar, keluhan atau kritikan justru jadi senjata agar menjadi lebih baik, ya kan?
Kasihan Prita, udah sakit terus berobat, dapat layanan kurang memuaskan sehingga akhirnya mengeluh, eh dituntut.
Kalau tahu diri sih, RS begitu, dan pegawainya pun, merasa malu. Masuk dalam catatan sejarah dan memori masyarakat yang tidak terlupakan..