Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Dapatkan Cash Back 10% Dari Biaya Pendaftaran Bagi Pendaftar Yang Mengajak Satu Orang Lainnya Sebagai Peserta. Berlaku Kelipatannya.

Terdampar di Ciputat

28 November 2008 – 8:48 am

Perjalanan tanpa terkira membuatku terdampar di Ciputat. Sejak mengantar keluarga ke stasion Gambir, hujan sudah turun cukup deras walaupun titik-titik air tampak kecil. Namun, itu sudah cukup untuk membuat pakaianku basah. Kesialanku hari ini disebabkan faktor-faktor yang sama. Supir angkot yang mau enaknya sendiri. Sepanjang perjalanan aku coba mengerti alasannya. Sudah pasti, kejar setoran, mengisi BBM, dan mencari sesuap nasi. Jika protes, jawabannya pun sudah tergambar di dalam pikiranku, “Kalau mau cepat, naik taksi!”


Sudahlah. Aku tempuhi saja garis-garis takdir yang memang sudah begini adanya. Turun dari metro mini, naik angkot jurusan Parung. Kelakuannya sama, padahal penumpang sudah cukup penuh. Akhirnya, dari pukul 14.30 aku berangkat dari Gambir, baru pukul 16.00 aku tiba di UT untuk mengurus legalisasi 12 ijazah, 12 Akta IV, dan transkip nilai.

Nasib sial masih belum juga beranjak. Setiba di sana, penyerahan berkas sudah ditutup sejak setengah jam yang lalu. Uuuuh! Pikir punya pikir, pulang ke Bekasi betapa jauhnya, sedangkan aku harus kembali lagi ke sini esok pagi. Akhirnya aku coba kontak kawan-kawan yang tinggal di sekitar Parung, Ciputat, Lebak Bulus, untuk menginap malam ini.

Ada kawan yang tinggal di komplek kejaksaan. Aku angkat kaki ke Pasar Jum’at di bawah guyuran air hujan. Di sinilah kesialan semakin menjadi-jadi. Naik ojek menuju lokasi karena kawan itu baru saja pulang mengantar kawan yang lain ke stasion Gambir untuk berangkat ke Solo dalam rangka tugas memantau pemberangkatan haji.

Ojeknya tak bisa mencari lokasi, sementara ponselku sudah hampir tak bernyawa lagi. Bingung! Mau kontak, tidak bisa. Akhirnya aku diturunkan di depan Giant Bona, di jalan raya menuju Pondok Labu. Memang tidak asing, karena aku juga pernah merambah daerah ini beberapa waktu dulu. Namun, menuju ke rumah kawan itu, aku tak bisa.

Sampai akhirnya kawan ini dapat menemukanku di tempat itu. Rupanya, aku salah kira. Komplek kejaksaan dimaksud bukanlah yang terletak di Pasar Jum’at, Lebak Bulus, tetapi komplek kejaksaan Ciputat. Wow, betapa jauh sekali. Kasihan dia, tapi aku juga kasihan kan?! Ah, nasib memang. Entah sudah pukul berapa, kami tiba di rumahnya. Alhamdulillah aku dapat tempat untuk bermalam sehingga esok pagi aku bisa datang lebih pagi.

Keesokan hari, aku sudah tiba di UT pukul 07.00, pagi sekali. Pegawai dan para dosen pun belum ada yang datang. Kesalku muncul lagi, setelah membaca pengumuman bahwa hari ini kalangan rektorat ada rapat sehingga pengurusan baru bisa dilakukan pukul 14.00. Tidak ada jalan lain, aku harus menunggu. Toh, kalaupun pulang, bukan tidak mungkin ada aja lagi halangannya nanti.

Urusan selesai dan aku pulang dari UT sekitar pukul 15.30 dan tiba di rumah pukul 19.00 karena salah ambil jalur. Awalnya aku pikir bisa lebih cepat dengan naik Kopaja 20 ke arah Senen. Dugaanku salah. Di prapatan Ciputat aku tempuh jalan kaki saja untuk mengejar waktu akibat macet yang tak bisa diatasi lagi. Demikian pula sewaktu berada di kawasan Mampang, aku ambil langkah turun dari angkutan dan jalan kaki hingga ke halte busway terdekat.

Dengan tubuh yang lemas, tulang terasa sudah patah-patah, aku harus membeli air galon lagi karena sudah hampir habis. Setelah semua selesai, sesuai jadwal rutin, aku makan malam. Di sinilah keanehan terjadi. Badanku memang sudah letih, tapi masih bisa aku atasi. Sehabis makan malam, entah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing. Masih aku tahan. Sebentar kemudian, badanku tiba-tiba saja memanas mulai dari tengkuk hingga ke kepala.

Batok kepala menjadi berat. Terasa nyut-nyutan yang semakin lama makin kencang. Aku pamit dan segera pulang ke rumah. Barangkali ini hanya karena kurang istirahat. Rupanya di rumah serangan tiba-tiba ini semakin menjadi-jadi. Jantungku berdegub kencang. Setiap kali aku berubah posisi, kepalaku semakin berat.

Oh, ya Tuhan! Sudah sampaikah ajalku malam ini? Ampuni aku! Begitulah bisikan hatiku menahan rasa sakit yang tak terkira. Gelisah, rasanya. Beberapa kali aku pindah ruangan. Sakitnya semakin menjadi. Jantung semakin kencang berdetak dan kini seluruh tubuhku menjadi panas. Kulihat wajahku di cermin, merah membara dan mata yang juga merah.

Jangan-jangan ini alergi makanan. Peduli amat. Aku duduk lagi. Bikin kopi panas, tapi tak juga terminum hingga pagi, karena aku pikir-pikir, jantungku berdegub kencang. Ini tidak baik jika disubsidi dengan kopi. Aku minum larutan pasak bumi yang baru beberapa saat aku rendam. Tidak ada pengaruh apa-apa. Aku minum madu. Pusingku masih saja, sampai aku bangun pagi, rasa panas dan pusing sudah berkurang.

Namun, perutku lagi yang tidak beres. Kepalaku masih berat. Aku pikir, sebaiknya aku muntahkan saja semua isi perutku. Mual dan mules terasa begitu menyiksa. Aku perbanyak minum air putih. Barangkali perlu dinetralisasi dulu isi perut yang tak karuan. Tidak lama setelah itu, aku muntahkan semua yang bisa aku keluarkan.

Ketika mengetik tulisan ini, kepalaku masih saja berat. Sudahlah. Inilah nasib dan perjalanan yang harus aku tempuh beberapa hari ini. Takdir memang tidak akan pernah melepaskan cengkramannya. Aku pasrah, apa pun yang terjadi. Garis-garis takdir memang harus dilewati dengan tabah dan hati yang lapang, tanpa kurang usaha dan doa.

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker