Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Dapatkan Cash Back 10% Dari Biaya Pendaftaran Bagi Pendaftar Yang Mengajak Satu Orang Lainnya Sebagai Peserta. Berlaku Kelipatannya.

Kematian.. Kematian

15 February 2009 – 2:51 pm

Hari ini aku seperti dikelilingi oleh kematian. Baru saja malam melepas gelapnya, di sebelah Barat Laut dari rumahku terdengar suara cukup keras. Tepatnya dari masjid yang tidak jauh. Suara itu diawali dengan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Orang meninggal dunia, pikirku. Agak aneh saja rasanya pengumuman itu cukup lama menyebut nama. Mungkin banyak orang yang meninggal. Aku tidak bisa mendengar jelas karena terhalang bunyi motor yang hilir mudik. Geliat pagi yang lazim.

Tak berselang lama, terdengar suara orang-orang bertahlilan. Suasana khidmat yang dahulu biasa aku rasakan saat berada di tengah-tengah acara ini dapat aku bayangkan. Memang, di kampung sekitar aku tinggal ini, orang-orang tampaknya masih menjaga tradisi baik yang sudah berlangsung sejak lama itu. Berkumpul sama-sama, membaca ayat-ayat suci, berzikir, dan berdoa untuk kebaikan si mayit.

Suatu kali, seseorang yang sedang duduk di sampingku bertanya, “Bang, kalau si mayit dulunya seorang koruptor, kira-kira sampai ngga ya pahalanya?”

“Wah, kalau untuk itu saya tidak mengerti. Urusan Tuhan. Mungkin Nabi sendiri pun tidak akan menjawabnya.”

Lihat saja, tengah hari ini, ibu-ibu lewat di depan rumahku berbondong-bondong menuju suatu tempat. Penuh semangat, diiringi tawa dan obrolan bahasa Betwai yang kental. Tidak lama kemudian terdengarlah suara alunan lagu dari syair-syair pujian kepada Nabi Saw, ajakan-ajakan luhur, dan budi pekerti. Kadang-kadang, diiringkan pula lirik bahasa Indonesia seirama syairnya. Syahdu!

Apalagi akhir-akhir ini, kegiatan terasa semakin sering. Hampir hanya berselang hari, padahal biasanya seminggu sekali. Mungkin karena menjelang Pemilu. Hmm! Bisa jadi. Tiga puluh suara juga lumayan. Syukur-syukur setiap yang hadir bisa mengajak suaminya atau anaknya. Lebih lumayan.

Menjelang Ashar, lamat-lamat aku mendengar lagi sebuah pengumuman kematian, dari surau yang sangat dekat dari rumahku. Singkat. Lalu dilanjutkan dengan azan Ashar. Wah! Tampaknya Malaikat Izrail sedang sering mondar-mandir ke sekitar sini sejak tadi malam. Bisa jadi, sejak sore ia sudah mengamati daftar ajal. Pas sekali, untuk hari ini tidak usah bolak-balik jauh-jauh. Cukup sekali jalan saja beberapa tugas dapat dilaksanakan. Pastinya, tidak ada kemacetan.

Kematian.. kematian.. kematian..

Momok yang menakutkan. Dokter yang selalu unggul di atas dokter paling mahir sekalipun. Mungkin kita sadar akan kenyataan itu, tapi pada saat yang sama menjadi bagian yang paling dilupakan. Entah karena memang tidak peduli, atau hanya dengan melupakannya kita merasa dapat menemukan jalan keluar untuk mengatasi kengerian dan akibat lain yang disebabkannya: kehilangan, kesedihan, dan penyesalan. Cara satu-satunya untuk menyatakan kekalahan, kepasrahan, dan ketidakberdayaan.

Waktu pun bergulir seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Di sini, gerimis mulai turun perlahan. Orang-orang sudah menggunakan payung. Suara kendaraan hilir-mudik semakin semarak. Pulang kerja, pikirku. Aku sendiri masih duduk di ruang tengah rumah kontrakan ini. Pintu rumah sengaja kubuka lebar-lebar. Sambil mengetik, aku perhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Angin kencang menyapu daun-daun yang bertebaran di halaman, memetik irama sengit dahan-dahan yang bergoyang.

Sekitar pukul 9.30 malam, aku keluar rumah. Perut lapar mendesak-desak minta segera diisi. Tidak jauh terdengar suara lagu-lagu dinyanyikan. Dangdut pula. Entah ada acara apa. Tidak ada panggung. Aku heran. Di depan gang tertancap bendera kuning. Bukan bendera partai. Itu sudah biasa, apalagi menjelang pemilu seperti ini. Beragam warna dan corak terpajang di sana-sini. Semrawut. Semaunya. Bertolak belakang dari cita-cita yang keluar dari mulut para pengusungnya. Bahkan, kemarin ada yang roboh karena tiangnya hanya diikat dengan satu tali, sementara angin semakin kencang belakangan ini. Untung jalan lagi sepi. Untung pula abang pemilik warung berbaik hati. Dia mengikatkan kembali tiang itu sehingga benderanya kembali berkibar. Kalau saya? Bisa jadi sudah saya buang saja.

Bukan, bendera kuning ini bukan bendera partai, tapi bendera kematian. Beginilah yang biasa aku dapat, bagaimana kehidupan kota mewartakan diri yang sesungguhnya. Padahal, orang-orang yang biasa aku perhatikan di sekitar lokasi ini berasal dari desa-desa yang jauh. Orang kampung. Dan, kota telah melibas mereka ke dalam jati diri yang menjadi khasnya. Individualisme. Tidak peduli. Penuh basa-basi dan kepura-puraan. Ada kematian dan dangdutan di lokasi yang sama sekaligus, bukan sesuatu yang tabu.

Ah! Warung langgananku tutup lagi. Aku memutar haluan, mengiringi arah bendera. Artinya, aku menuju ke arah suara lagu-lagu yang terus berdendang dengan asiknya. Masih 100 meter lagi aku akan sampai ke arah keramaian itu. Sayangnya aku tidak berminat. Rasa lapar sudah tidak kuat kutahan. Warung ini lebih dekat. Iseng aku bertanya sebelum membeli makanan. Barangkali ada keanehan lain dari kehidupan kota. Siapa tahu, pada zaman edan ini kematian sudah harus diiringi dengan dangdutan. Biar tak hilang nuansa religiusnya, diadakanlah tahlilan terlebih dahulu.

Siapa tahu aja, karena tidak akan ada yang aneh di kota. Semua bisa terjadi. Di kota, orang meminta ampun terhadap dosa-dosa dengan berjoget dan menari-nari, itu biasa. Kakinya maju dan mundur berirama. Pinggangnya sedikit-sedikit berlenggok ke kiri dan ke kanan. Mulutnya memuji dan memohon keagungan Tuhan, tapi di matanya puluhan juta upah manggung sudah terbayang. Orang belajar tafsir diselingi musik syahdu juga biasa. Bahkan, orang mengumandangkan Allahu Akbar sambil berlari-lari bawa pentungan juga biasa.

“Bang, ini ada orang kematian atau…,” tanya saya kepada pemilik warung.
“Di sebelah situ orang kematian. Dekat lapangan. Masih bujangan.”
“Oh, tapi ini kok dangdutan? Saya pikir ada pertunjukan.”
“Pertunjukan juga iya,” katanya sambil menunjuk ke arah yang sama.

Saya hanya manggut-manggut.
“Biasanya sih yang begitu bukan orang Islam,” katanya melanjutkan.
“Terus, ini?”

Dia hanya menyeringai sambil terus melayani para pembeli lainnya.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Gooyang, Mang. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Yihhaaa! Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Wuo ooo! Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.
!!!???!!!???

Tags: , , ,

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker