Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Syair Sore Ini Betapa Mengharukan

3 June 2009 – 7:03 pm

Sore ini, saya benar-benar dilanda perasaan haru. Sayup-sayup dari masjid terdengar nyanyian syair pujian yang lirih dan menyayat, menjelang Magrib. Syair yang isinya juga pengakuan terhadap dosa dan permohonan ampun. Sebenarnya apa yang membuat saya terharu lebih dari itu saja. Puisi-puisi yang dinyanyikan ini membongkar kenangan 20 tahun yang lalu. Memampangkan senyum dan tangis yang pernah saya lewati dalam kehidupan ini.

Waktu itu adalah tahun-tahun pertama di Pondok Pesantren Al-Falah. Jauh dari orang tua pada saat usia baru 11 tahun. Sebenarnya itu adalah hal yang biasa karena sejak TK saya sudah dilatih untuk bisa bertahan meskipun jauh dari orang tua. Bedanya, sewaktu TK saya badung. Ketika kawan-kawan sedang asik bernyanyi, bertepuk tangan, sambil berbaris, dan kadang-kadang ada acara angkat kursi ke atas meja segala bagi yang laki-laki, saya biasa nongkrong di atas pohon yang ada di halaman TK, sampai-sampai guru kebingungan mencari dan saya hanya tertawa melihatnya kebingungan mencari-cari.


TK Kenanga namanya, tidak terlalu jauh dari tempat tinggal keluarga. Ujung-ujungnya, saya hanya bertahan tiga bulan di TK, dijemput lagi oleh ayah dan langsung masuk SD pada usia empat tahun. Biasa, namanya masuk SD percobaan. Sama saja, kerjanya berantam dan ‘ngerjain’ anak orang. Saya masih ingat ketika ada orang tua murid yang tidak terima anaknya diejek dan dipermainkan, saya dikejar dengan parang. Untungnya, kata Mama, saya masih cukup cerdik waktu itu dan berlari ke bawah kolong sekolahan yang sempit sehingga pengejar yang sudah besar badannya itu tidak bisa masuk.

Sekitar tahun 1980—1983, ayah dan mama bertugas di sebuah kecamatan yang lumayan jauh ibukota kabupaten. Waktu itu hanya ada transportasi sungai dan ditempuh selama empat jam perjalanan. Kami menempati rumah dinas SD yang kecil dan berhantu, hehehe. Ayah mengajar di SD yang terletak tepat di samping rumah, sementara mama mengajar di SD Inpres yang cukup jauh dan harus melewati belantara dengan kondisi jalan setapak yang sering becek, dipenuhi potongan-potongan kayu silih melintang. Saya mengetahui kondisi jalan ini karena sering mencari mama dan mengejar hingga ke SD Inpres.

Barangkali kenangan-kenangan seperti itu yang mampu membuat saya benar-benar menangis ketika mendengar surat terakhir Eva Yuliandri, salah seorang korban pesawat milik TNI yang jatuh beberapa waktu lalu. Di antara lorong kota yang penuh ketidakpedulian, ambisi, dan kepentingan sesaat masih ada, bahkan banyak, orang yang memilih hati nuraninya secara bebas, jujur, dan tulus. Semoga Allah Swt. menempatkan Eva Yuliandri di posisi paling mulia di sisi-Nya. Saya yakin, di antara hiruk-pikuk kehidupan ini masih ada dan banyak lagi orang yang sepertinya. Hanya, mereka tidak mendapatkan tempat dan perhatian yang layak. Sebagaimana dahulu, saya juga pernah membaca surat Nona Noni yang benar-benar membuat saya terharu. Dia memilih berada jauh di pedalaman Sulawesi untuk berjuang demi bangsa dan kemanusiaan. Jauh dari omong kosong kebanyakan manusia kota yang sering kita dengar sehari-hari.

Muara Lahei, ibukota Kecamatan Lahei, tempat masa kecil ketika ayah dan mama sama-sama menjadi guru SD di sana, akhirnya bisa saya kunjungi lagi setelah lebih dari 25 tahun sejak meninggalkannya. Tepat pada bulan puasa tahun lalu, 27 Ramadhan 1429 H, kecamatan ini merupakan tujuan terakhir dalam kegiatan safari Ramadhan yang dilaksanakan oleh MUI bekerja sama dengan PHBI, DMI, dan Depag Kabupaten. Saya kaku dan diam menahan segala emosi yang ada di dalam diri mencengkram semua kenangan masa lalu. Sayang sekali kami harus pulang menjelang tengah malam. Akibatnya, beberapa hari kemudian saya ditelpon oleh Nenek (Julak) Siti, salah satu keluarga di antara banyak keluarga lain yang menetap di sana. Kenapa saya tidak mampir? Maafkan saya, Nek. Tidak sempat karena datang menjelang buka puasa dan lalu pulang tengah malam. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa datang kembali karena sarana transportasi sekarang tidak sesulit 25 tahun yang lalu. Hanya mungkin Pak Bupati harus memerhatikan perbaikan jalan yang rusak parah.

Sejak pindah ke ibukota kabupaten, saya tidak pernah lagi datang ke desa ini, apalagi setelah masuk Pondok yang jaraknya sangat jauh. Pertama kali memasuki pondok untuk mendaftarkan diri, diantar oleh ayah dan mama, teringat bagaimana Pengasuh Pondok, yaitu almarhum KH. Ahmad Qushashi (wafat Maret 2008), mengatakan kepada orang tua, bahwa sebenarnya saya belum cukup umur karena baru berusia 11 tahun. Namun, saya diberi keringanan karena datang dari tempat yang sangat jauh sehingga beliau kasihan sudah mengeluarkan banyak biaya, waktu, dan tenaga, lalu tidak mendapatkan apa-apa. Saya ditanya tentang banyak hal yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, apakah nanti sudah bisa melakukannya. Ayah dan mama diminta oleh beliau untuk tidak terlalu mengingat-ingat atau merindukan. Percayakan saja. Demikian juga saya diminta apakah siap untuk berpisah jauh dari orang tua dan keluarga dan siap untuk tidak ‘mangganang’. Saya selalu menjawab ya dan siap.

Pada saat-saat itulah sayup-sayup lirih terdengar puisi ini dilantunkan dari mushalla yang tidak terlalu jauh dari kantor Pondok, tempat kami berada pada waktu itu. Isinya menggambarkan tentang perasaan berdosa dan salah kemudian bersama-sama dengan orang-orang yang bersalah lainnya datang mengadu kepada Rasulullah, dengan rasa sedih dan sesal. Di depan Tokoh Panutan itu mereka mengakui kesalahan, telah berlaku lalai, dan lupa sekian banyak nilai ajaran. Lalu atas segala kesalahan itu mereka bersama-sama memohon ampunan kepada Allah Swt. Waktu itu jelas saya tidak mengerti maknanya karena merupakan syair berbahasa Arab. Namun, suara lirih itu yang membuat hati bergetar.

Ketika sudah berada di Pondok, saya pun tahu syair-syair ini biasa dibaca antara azan dan iqamat shalat Zuhur dan Ashar. Setahun kemudian, puisi-puisi ini digantikan dengan puisi-puisi lainnya yang lebih bernuansa zikir. Sejak saat itu, saya hampir tidak pernah lagi mendengar puisi ini dilantunkan. Beberapa waktu, saya secara tidak terasa melantunkan puisi-puisi ini, begitu saja. Kadang sambil menyeduh kopi, sedang menyapu rumah, atau beberapa kondisi lainnya.

Sore ini menjelang Magrib, sayup-sayup saya mendengarkan puisi ini dilantunkan. Sontak saya langsung tertegun beberapa saat. Menyimak dengan rasa terharu yang luar biasa. Membayang di depan mata masa lalu yang sudah jauh pergi. Namun, kandungan makna puisi ini tetap terus terpatri. Menghiba kehinaan diri untuk mau mengakui betapa diri ini lemah dan penuh dengan dosa. Khususnya, ketika kini jiwa sudah semakin rapuh dan jauh.. jauh..

Yaa Sayyidi.. Yaa Rasulallah
Yaa Man lahu-l-jaahu ‘indallah
Innalmusii`ina qad jaauk
Lidz-dzanbi yastagfiruunallah

Wa maa kaanallahu mu’adzdzibahum wa anta fiihim

Tags: , , , ,

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker