Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Renungan Merdeka: Mimpi Pertiwi

19 August 2009 – 12:55 am

Jangan buyarkan mimpi pertiwi. Manusia merdeka. Sebagai pribadi, warga negara, dan bagian dari bangsa, saya merasa tidak ada anugerah yang lebih besar daripada kemerdekaan. Saya sangat bersyukur bahwa saya dilahirkan merdeka, di tempat yang merdeka, dan dalam kondisi yang merdeka. Tidak terbayang bagaimana seandainya dilahirkan pada masa sebelum tahun 1945 dengan segala hiruk-pikuk, kekacauan, kegelisahan, dan desing peluru yang setiap saat mengancam.

Hari ini, 17 Agustus 2009, tepat 64 tahun sudah kita merdeka sejak proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Maka, setiap ruang dan wilayah penuh dengan merah putih, kegembiraan, dan acara-acara yang sebagian besar tentu sudah biasa kita temukan sebelumnya. Gegap gempita pekik merdeka. Entah dalam makna dan perasaan yang seperti apa. Tengah hari saya sengaja duduk di pinggir jalan, di sebuah kursi milik penjual air isi ulang yang tetap buka. Saya tahu mereka harus tetap bekerja karena itulah satu-satunya cara agar mereka bisa tetap makan dan hidup.

Beberapa saat kemudian, satu orang pemulung lewat sambil menenteng besi pengait khasnya dan karung plastik yang dipanggul enteng di punggungnya. Lima menit kemudian satu pemulung lagi lewat. Tidak jauh di belakangnya seorang tukang sampah yang sudah cukup berumur menarik gerobaknya. Perlahan saya tatap wajah mereka. Biasa.. sebagaimana biasa saya lihat setiap hari. Kerut panas dipanggang terik dan pancaran butiran keringat yang sesekali diseka. Saya yakin, mereka juga pasti memahami makna merdeka dan oleh karenanya bisa melakukan aktivitasnya tanpa merasa khawatir. Tidak mengikuti keramaian formal yang dilakukan oleh banyak penduduk di negri ini sama sekali tentu saja tidak mengurangi arti merdeka.

Terbersit dalam benak saya rasa syukur yang mendalam. Alhamdulillah terucap. Selain terlahir merdeka, hidup merdeka, ternyata saya masih lebih nyaman hidup dari mereka yang baru saja lewat di depan saya ini. Pada hari ini pun saya bisa berjalan santai melihat banyak acara di beberapa tempat lingkungan RW di mana saya tinggal, sementara mereka harus mengukur jalan dengan tetesan keringat demi meneruskan hidup. Ada pertanyaan tentang merdeka muncul dalam hati saya ketika melihat itu, sementara di jalan raya mobil-mobil mewah hilir-mudik walaupun tidak seramai biasanya.

Nanti saja! Begitulah cara saya memendam pertanyaan itu untuk tidak merecoki pikiran. Minimal, apa pun kesusahan yang menimpa sebagian orang di negri ini, makna merdeka yang paling mendasar tetap ada dan benar adanya. Pada sisi lain, satu pengandaian datang mengganti pertanyaan itu. Ah! Nanti saja! Alhamdulillah saya merdeka, hidup merdeka, dan di tempat yang merdeka. Apa lagi? Terbayang bagaimana seandainya saya terlahir di Palestina. Oh, ya Tuhan!

Tentu, sungguh sulit hidup dan menderitanya kakek, nenek, datu, dan moyang dahulu. Entah bagaimana senyatanya mereka harus menjalani hidup dan toh saya terlahir juga sebagai keturunan mereka. Sungguh sesuatu yang tidak terbayangkan. Sekarang saya menikmati kesulitan mereka, mendiami tanah yang dengan darah dan air mata mereka pertahankan, mengukur tanah warisan 100.. 200.. 300.. meter hingga ukuran hektar, memikirkan uang, mengeruk isi bumi negri ini melahirkan gempa dan longsor, membuka lahan dengan membakar hutan serampangan berakibat banjir, kabut asap, dan kekeringan. Ya begitulah nyatanya, setelah 350 tahun lebih mereka jaga dan kemudian mereka lestarikan.

Beberapa yang masih hidup mungkin menyesali kelakukan anak penerus ini. Maafkan saya. Hari ini saya benar-benar harus merenungi semua itu. Mengalami macet di Jakarta saja sudah saya rasakan. Benar-benar tidak nyaman, membuat kesal, pusing, dan kadang bisa membuat kami berantam. Entah bagaimana dengan perasaan kalian tempo itu ketika tentara-tentara berwajah dingin dan seram yang menyesaki jalan dan setiap lorong yang biasa kalian lewati. Kejam dan tidak segan-segan memukulmu dengan senjata, menendangmu dengan sepatu laras, menusukmu dengan bayonet, bahkan menembakmu tanpa perasaan kecuali kebanggaan dan kemenangan.

Suatu kali saya mendengarkan cerita bagaimana Ratu Zaleha, putri Muhammad Seman bin Pangeran Antasari, terlahir dalam kondisi perang. Sejak kecil diasuh keluar-masuk hutan belantara. Menurut cerita orang-orang tua, sejak itulah dikenal istilah Pukung, yaitu metode menidurkan anak kecil dengan cara dimasukkan ke dalam kain yang diikat dengan tali secara bergantung. Biasa disebut juga ayunan. Dalam membuat pukung bagi Ratu Zaleha ini digunakan rotan sebagai tali ayunannya. Setiap kali ada serangan Belanda yang terus mengejar para pejuang, maka dengan mudah menyelematkan sang bayi dengan cara langsung memotong rotan dan segera membawa lari.

Dahulu juga, selagi kecil saya masih melihat sebuah bangunan unik semacam rumah di kampung kelahiran saya. Letaknya di antara pohon-pohon hutan yang masih tinggi. Tinggi bangunan itu mencapai seratus meter, berbentuk persegi empat dengan lebar sisi sekitar empat meter. Menurut kisah, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat pemantauan yang dari puncaknya kita bisa melihat ke segala penjuru. Jika sang petugas memberi isyarat ada musuh, seluruh pejuang langsung siaga, sementara para perempuan membereskan barang. Paling pertama yang dilakukan adalah menyelematkan sang bayi ini.

Hingga dewasa, Ratu Zaleha juga turut serta berjuang dan melanjutkan perjuangan nenek moyangnya melawan penjajah Belanda, sampai akhirnya beliau berhasil ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke wilayah Bogor. Saya tidak bermaksud menceritakan sejarah Ratu Zaleha secara khusus, melainkan hanya ingin memberikan gambaran begitu susahnya lahir dan hidup pada masa penjajahan. Maka, bukankah suatu anugerah yang besar bahwa saya dan kita pada masa sekarang lahir dan hidup secara merdeka, tanpa kekhawatiran atau takut akan bahaya yang mengancam setiap saat.

Hari ini saya lihat ibu separuh baya menggendong anaknya dengan tawa riang, gembira, dan suka cita. Acara demi acara berlangsung seru. Semua gembira. Saya juga gembira. Kita merdeka. Kita bisa melakukan ini semua tanpa ada rasa ketakutan sedikit pun. Saya juga dahulu pasti pernah digendong oleh ibu saya. Tentu, tanpa kesulitan dan rasa takut, tapi entah seperti apa nenek menggendong dan merawat ibu saya dahulu.

Barangkali hanya sebagian kecil yang mau merenungkan semua itu, sementara sebagian besar yang lain memperingati hari kemerdekaan ini dalam bentuk formalitasnya belaka lalu tidak perduli apa-apa setelah itu. Padahal, ada satu pertanyaan besar yang patut untuk kita ajukan kepada diri masing-masing: apa tanggung jawab kita terhadap kemerdekaan ini? Apakah kita benar-benar telah merdeka? Merdeka dari Belanda, Inggris, dan Jepang tentu saja benar.

Dengan proklamasi yang dinyatakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia, kita merdeka. Namun, harus diingat bahwa perjuangan yang penuh dengan pertumpahan darah masih terus berlanjut hingga tahun 1949. Dalam istilah lain, dengan proklamasi, secara ‘de jure’ kita merdeka, tetapi secara ‘de facto’ peluru dan meriam terus mengancam. Bukan hal yang mudah untuk mencapai semua itu. Hitunglah berapa pahlawan dari berbagai daerah yang mampu kita hapalkan. Itu pada umumnya baru tokoh dan pemimpin perjuangan, sementara yang telah gugur demi kemerdekaan ini bisa jadi lebih dari jutaan nyawa hingga tidak terhitung jumlahnya.

Kita telah merdeka sejak 64 tahun yang lalu. Merdeka dari Belanda, Inggris, dan Jepang. Lalu, apa gunanya kemerdekaan ini bagi kita? Peringatan demi peringatan dan dangdutan? Pertanyaan pertama yang sangat penting: apakah kita benar-benar merdeka sebagai manusia. Atau bahkan bisa jadi dari penjajahan pun kita belum sepenuhnya merdeka? Hanya istilah penjajah kita ganti seperti kebiasaan kita mengganti istilah penjarahan dengan investasi, perbudakan dengan tenaga kerja, upeti dengan pajak, munafik dengan ‘lip service’, dan ragam sebutan lainnya. Lalu kita cari alasan agar tampak legal dan terasa membahagiakan.

Tidak usah jauh-jauh. Pasal 33 UUD 1945 itu yang sebagian kalimatnya menyatakan bahwa “seluruh kekayaan alam beserta isinya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” juga sudah 64 tahun usianya. Apakah selama 64 tahun satu ini saja dari sekian banyak pasal UUD itu benar-benar sudah terlaksana? Apakah sistem, aturan, kebijakan, perilaku, cara pandang, tata kelola, sifat, hingga setiap dengus nafas kita mencerminkan itu, atau selama ini kita hanya ingin menikmati merdeka untuk diri sendiri? Ingin merdeka untuk diri sendiri silahkan, tapi jangan jarah milik orang lain atau milik bersama.

Runutlah semua yang saya sebutkan itu satu per satu, dan renungkan baik-baik. Tanyalah nurani masing-masing. Apakah kita telah merdeka, sementara kakek nenek tua terhuyung-huyung di lanting terayun gelombang tongkang pengangkut bata bara. Sementara, anak-anak kecil yang pulang sekolah tampak semakin kusam, pakaianya penuh dengan debu terpaan truk-truk dan foso itu. Sementara, pejuang-pejuang yang tersisa menikmati usia senja menempati gubuk reot dari rotan dan bambu beratap rumbia. Bahkan, ada saja uang veterannya yang tidak seberapa itu ‘ditilap’ petugas. Jalan-jalan rusak berantakan. Sungai-sungai tercemar. Sumber-sumber air di pegunungan dikuasai perusahaan asing pula. Kita memang merdeka dan kita bangga, tetapi apakah semua ini merupakan bagian dari merdeka? Ingat, kita merdeka, bukan hanya kau dan koncomu!

Apakah kita benar-benar telah menjadi manusia merdeka? Merdeka dari diri kita sendiri dengan segala kedustaan yang kita buat-buat dalam hidup ini. Kita bangga pernah jalan ke Hongkong, ke Australia, ke Amerika, naik haji sepuluh kali, punya mobil, rumah mewah, perusahaan, dan seterusnya. Sebagai bagian dari komunitas masyarakat kita senang punya gedung mewah, tempat wisata, panggung hiburan, dan sebagainya. Bosan sudah saya menyebutkan satu per satu. Silahkan, kalau mau. Kita bangga akan semua itu tanpa bertanya apa manfaat semua itu kecuali perasaan senang, bahagia, dan bangga yang tetap saja membutuhkan orang lain untuk mendengar atau mengetahuinya agar benar-benar terasa dan terasa benar-benar?

Apa perlu saya ajukan pertanyaan tambahan: apa hubungannya semua itu dengan merdeka? Apa hubungannya semua itu dengan kemerdekaan negara ini? Adakah ia menjadikan negara ini semakin maju? Adakah ia mengurangi jerit kelaparan anak-anak kolong jembatan? Adakah ia menyeka peluh para pemulung? Adakah ia mengurangi derita pengamen jalanan? Adakah ia menyingkirkan para pemalak di bis-bis kota ketika keluar dari terminal keberangkatan? Adakah ia membuka celah cahaya agar anak-anak kecil itu tersenyum tanpa harus menggoyang botol plastik berisi kerikil sembari duduk di pintu angkot? Adakah semua itu ada kaitannya dengan semua ini meskipun tidak secara langsung?

Lalu, apakah tidak boleh? Tidak, saya tidak bermaksud bahwa semua itu tidak boleh. Itu juga merupakan salah satu makna merdeka di mana kita bisa melakukan sesuatu tanpa rasa takut dan tanpa ancaman. Ketika di bandara, misalnya, Anda sudah tidak lagi was-was yang sewaktu-waktu harus cepat bertindak ketika mendengar teriakan, “Belanda! Belanda!”

Saya tidak bermaksud semua itu tidak boleh. Hanya saya menyayangkan bahwa hal-hal itu telah menjadi bagian dari mental bawah sadar yang mengantarkan kita kepada kedangkalan sikap, hedonisme, ’serah gue’, mental instan, tidak perduli, tidak mau tahu, ‘emang gue pikirin’, ‘asal gue senang’ yang kemudian mengantarkan kepada sikap dan perilaku negatif yang tidak pernah kita akui, atau minimal kita sadari, negatif. Karena begitu prosesnya di dalam mental dan bersifat kolektif hingga seringkali lekat kata budaya, padahal bukanlah bagian dari budaya.

Setelah kita menjalani semua itu, lalu mati dan tidak terjadi apa-apa lagi. Benar, itu pandangan kita yang masih hidup. Dalam pandangan kita yang masih hidup, mereka yang telah mati tidak merasakan apa-apa, tidak bergerak, tidak berkata-kata, tidak bisa memberi tanggapan dan komentar, tidak punya kemampuan, dan hanya diam dalam sepi. Iya, itu pandangan kita yang hidup. Apa yang mereka rasakan tidak bisa saya ceritakan, karena saya juga tidak punya pengalaman mati.

Ah! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya para pendahulu bermental seperti saya ini yang jadi penerus merdeka. Sekolah pun sibuk dengan pertanyaan apakah nanti mudah dapat pekerjaan. Pintar atau tidak itu persoalan lain. Asal lulus, jadi dah! Ijazah di tangan adalah modal. Hari-harinya memencet tut papan ketik dan tombol huruf di ponsel. Bagaimana jadinya kalau setiap prajurit dahulu bertanya-tanya digajih berapa dan setiap kali menembak tentara Belanda akan mendapat bonus apa.

Maka, saya tidak heran menjumpai ada Mat Ali yang berasal dari Aceh sebagai seorang pejuang di pedalaman Barito, Kalimantan Tengah. Nama aslinya kemungkinan besar adalah Muhammad Ali, dikenal sebagai ahli meriam. Mat Ali menjadi salah seorang pahlawan yang gugur ketika mempertahankan benteng Lalutong Tor. Dia bersama tiga orang rekan yang bertugas di pertahanan terakhir tewas setelah benteng itu sendiri hancur digempur oleh Belanda dari tiga penjuru. Serangan ini merupakan aksi balas dendam Belanda setelah peristiwa tenggelamnya kapal Onrust, Desember 1859.

Entah seperti apa jika dahulu mereka juga mengenal libur atau hari kejepit nasional. Apa yang terjadi kiranya para pasukan juga berpikir atau merasa perlu ‘refreshing’. Entah apa yang terjadi seandainya ada pejuang dahulu, ketika pasukan penjajah menyerang, berkata, “Komandan, saya kan lagi cuti!” Kita merdeka. Terlahir merdeka. Hidup merdeka. Terima kasih, para pejuang! Terima kasih, para pahlawan! Kalian tidak bermental seperti kami.

Para pejuang itulah yang sebenarnya merdeka. Kita memang merdeka. Ya, merdeka dari penjajah, dengan darah dan tangis mereka. Kita merdeka warisan, belum tentu merdeka sebenarnya. Merdeka dari penjajahan dan ego. Maka, belum tentu kita manusia merdeka. Karena itu, tetaplah pada merdeka dan untuk merdeka. Jangan buyarkan mimpi pertiwi. Manusia merdeka. Seutuhnya!

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker