Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Hah! Jadi Mazhab Asy’ari Itu Bid’ah Ya?

21 August 2009 – 2:54 pm · diperbarui: 22 Dec 2009

Kalau dahulu saya lebih menahan diri dan membatasi anggapan pada perselisihan sebagai sesuatu yang biasa berlangsung di jalan-jalan umum, kali ini rasanya sudah tidak mungkin, karena ternyata memang secara tidak sengaja sudah tiga hingga empat buku yang terang-terangan menuduh, menuding, dan menyebut bahwa mazhab Asy’ari itu salah, bahkan sesat. Buku yang terakhir membantah pendapat Imam al-Syathibi dan menyebut penyimpangan-penyimpangannya, dan bahkan menyebut mazhab Asy’ari sebagai mazhab paling rusak, menyamakannya dengan Jahamiyah.

Persoalan-persoalan teologis ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Karena itu, pada awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk mendiskusikan atau membicarakannya. Namun, melihat tudingan dan tuduhan seperti itu, jujur saja, membuat hati panas. Apalagi, ketika membaca argumentasinya, isinya lebih banyak hanya membolak-balik pernyataan ‘pihak lawan’, dikutip secara tidak konprehensif dan cenderung keliru memahami maksudnya, pemahaman yang keliru itu kemudian dituduhkan sebagai pendapat ‘pihak lawan’, lalu dikonfrontasikan dengan ayat, hadis, atau pendapat ulama salaf.

Kemarin secara tidak sengaja saya terbaca sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi, yang mengafirkan Imam al-Bushiri karena qasidah Burdahnya. Berikutnya, salah seorang ulama Wahabi juga melakukan hal yang sama. Nah, buku yang saya baca terakhir ini memaparkan tentang pelanggaran-pelanggaran Imam al-Syathibi. Pola pembahasan dan model argumentasinya kurang lebih sama.

Imam al-Bushiri dikafirkan karena di antara bait syairnya menyatakan:
Wahai Makhluk Termulia (yakni, Nabi), tidak ada bagi tempat berlindung (berkeluh kesah, dan bergantung) selain Engkau ketika terjadi peristiwa yang dahsyat.

Mereka menyatakan bahwa kandungan bait puisi ini mengandung kesyirikan, karena sudah jelas dalam ayat bahwa satu-satunya termpat mengadu, tempat berlindung, hanya Allah Swt.

Begitulah cara mereka memahaminya, lalu mengkonfrontasikannya dengan ayat-ayat. Apakah benar pemahaman seperti itu yang dimaksud oleh Imam al-Bushiri? Tidak, itu adalah pemahaman Wahabi dan para ulama mazhabnya yang dituduhkan kepada Imam al-Bushiri. Dalam memahami itu, mereka sama sekali mengabaikan banyak perangkat yang sudah berabad-abad ada dalam khazanah Islam. Tidak ada istilah Ilmu Balaghah, tidak ada istilah Ilmu Nahwu, tidak ada tadhmin, tidak perlu memerhatikan bahwa itu adalah bait puisi.

Saya sekarang tidak punya cukup waktu untuk membahas kandungan puisi itu. Secara ringkas saja, mudah-mudahan para pengikut Salafi dan Wahabi, ketika membaca bait puisi ini, bisa mengingat kembali hadis Syafa’at pada hari kiamat ketika mereka kebingungan, di tengah kondisi yang panas, keringat membanjir, lalu datang kepada Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, alaihimussalam, untuk meminta bantuan atas kondisi yang sangat sulit ini.

Namun, para nabi itu saling lempar, karena masing-masing merasa punya kesalahan juga di dunia dan mereka merasa pasti akan dituntut pertanggungjawaban. Akhirnya, datanglah manusia-manusia Padang Mahsyar itu kepada Nabi Muhammad Saw. Ternyata Nabi Muhammad peduli dan siap membantu kesulitan itu. Dalam ajaran agama Islam dikenal dengan SYAFA’AT. (Hadis riwayat Anas bin Malik, seingat saya)

Itulah makna kandungan puisi itu. Seandainya saja para ulama yang menyebut Imam Bushiri itu syirik kandungan puisinya ini adalah orang-orang yang memahami sastra, membaca puisinya dengan perangkat sastra, tidak semata-mata kaidah gramatikal yang abstrak dan beku! Namun, mau apa lagi? Begitulah yang mereka tuduhkan di dalam buku-buku itu. Seandainya mereka orang Indonesia, bisa jadi kita akan mereka sebut manusia tolol karena menyatakan ada nyiur melambai, karena sama sekali tidak pernah ada nyiur melambai. Justru yang ada adalah nyiur bergoyang-goyang meliuk kiri-kanan ditiup angin.

Sebenarnya berkenaan dengan puisi Imam Bushiri itu, saya ingin menuliskan artikel tersendiri. Mudah-mudahan nanti sempat dan ada waktu. Temanya jauh-jauh hari sudah siap: Takfirisasi Terhadap Para Sastrawan Karena Puisinya, karena memang sudah sejak lama kasus ini ada.

Jika pada kasus di atas, para ulama Wahabi ini berada pada sikap ‘mengabaikan Nabi’, yakni mengkonfrontasikannya dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa hanya kepada Allah, dan hanya Allah yang Mahamampu; pada kasus yang kedua justru sebaliknya. Itulah yang dikemukakan pada buku yang baru saja saya baca ini.

Judul bukunya: al-I’lam bi mukhalafat al-Muwafaqat wa al-I’tisham, ditulis oleh Nahir bin Hamd, cetakan Maktabah Al-Rusyd, Riyadh. Judul buku ini secara literal bermakna “Pemberitahuan Atas Penyimpangan-Penyimpangan al-Muwafaqat dan al-I’tisham”. al-Muwafaqat dan al-I’tisham adalah karya Imam al-Syathibi.

Tidak berpanjang lebar. Buku tersebut memaparkan penyimpangan Imam al-Syathibi dan menuduhnya sebagai pengikut mazhab bid’ah. Maksudnya sudah jelas, mazhab tersebut adalah mazhab Asy’ari. Ini adalah mazhab teologis Ahlussunnah Waljamaah, yang dianut oleh Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Suyuthi, Imam al-Ghazali, Imam Fakhruddin al-Razi, Izzuddin Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiq al-Id, Ibnu Shalah, al-Syahrasytani, Imam al-Haramain al-Juwaini, al-Qadhi Husein, al-Baqillani, al-Khattabi, dan seterusnya. Jadi, mereka ini adalah pengikut mazhab bid’ah; menurut buku dan mazhab Salafi pada umumnya.

Setelah membacanya, saya pun panas. Tapi, tidak ada argumentasi yang signifikan untuk dijawab, kecuali pola-pola yang sama: kutip sana-sini, pemahamannya begini, karena pemahaman begitu maka salah, lalu dikonfrontasikan dengan ‘pihak lawan’ yang berseberangan seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, tanpa melakukan penelusuran terhadap pendapat-pendapat secara konfrehensif, alih-alih mencari akar perselisihan dan menganalisis kondisi objektif apa yang berlangsung dari masa ke masa dalam perdebatan teologis.

Imam Syathibi menyimpang. Pendapat-pendapatnya dalam masalah teologis adalah sama dengan Asy’ariyah, pengikut mazhab bid’ah, bahkan sama dengan pendapat Jahamiyah dan Mu’tazilah, khususnya dalam masalah Asma dan Shifat. Saya heran! Sepanjang saya belajar Ilmu Tauhid (INGAT, Ilmu Tauhid dan jangan samakan dengan Tauhid itu sendiri), justru para teolog Asy’ari ini habis-habisan berbantah-bantahan dengan golongan Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Jahamiyah. Berabad-abad lamanya. Lalu muncul ulama pada abad ke-14 H. dan menyebutkan bahwa pendapat Asy’ari itu sama dengan pendapat Mu’tazilah?!

Sebaiknya saya tidak berpanjang lebar pada pembahasan masalah apa saja yang diperselisihkan itu.

Salah satu yang ingin saya kutip, berkenaan dengan masalah di atas, bahwa mazhab Asy’ari ini pada salah satu pendapatnya tentang masalah mutasyabihat mengacu kepada pendapat Salaf. Oleh kaum salafi, maksud para teolog Ays’ariyah itu adalah al-tafwidh, yaitu menyerahkan maknanya kepada Allah. Di sini kaum Salafi Wahabi menafsirkan pendapat tersebut, setidaknya dalam buku itu, bahwa mazhab Asy’ari (termasuk Imam Syathibi yang sedang menjadi objek pembahasan dalam buku itu) menyerahkan hakikat makna ayat-ayat mutasyabihat itu kepada Allah dan kita tidak mengetahuinya.

Begitu saja buku itu menyebutkan dan melekatkan penafsirannya sendiri kepada mazhab Asy’ari. Lalu sibuk mendiskusikan kalimat itu, menghadap-hadapkannya dengan pendapat-pendapat, dan sampai pada kesimpulan bahwa penganut mazhab Asy’ariyah mengabaikan Rasulullah Saw, menuding beliau tidak paham apa yang disampaikan, menuduh Jibril yang menyampaikan wahyu juga tidak paham, juga para sahabat dan tabi’in yang menerima ayat-ayat itu pada masa selanjutnya.

Tentu saja saya geleng-geleng kepala. Karena tidak ingin berbantah-bantahan terlalu jauh dan agar tidak terlalu berpanjang lebar, saya ringkas begini saja: Selama belajar Ilmu Tauhid kepada para ustad, ustad dari ustad mereka, dan seterusnya: semuanya mendasarkan kepada dua penggagas formulasi prinsip-prinsip teologis yang berabad-abad lamanya dikenal sebagai Paham Ahlussunnah Waljamaah, yaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. Tidak pernah saya diajarkan pemaknaan al-tafwidh sebagaimana makna yang dipahami oleh kaum Salafi Wahabi di atas yang lalu dituduhkan sebagai pemahaman kita.

Pendapat pertama adalah ‘al-tafwidh’ itu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tentang maksud yang sebenarnya dari ayat-ayat mutasyabihat itu, tanpa kita melekatkan makna lahiriyah yang lazim pada perilaku makhluk. Kita mengetahui makna Istawa, nazala, yad, wajh dan seterusnya tanpa menanyakan apa dan bagaimana. Bukankah ini pendapat ulama salaf seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan seterusnya. Menanyakan apa dan bagaimana adalah bid’ah, bukankan begitu?

Pendapat kedua adalah takwil, yaitu menakwilkan kata-kata yang mutasyabihat itu sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa kepada makna yang sesuai dan layak bagi Allah. Inilah yang diformulasikan oleh Imam al-Maturidi. Ini pula yang menjadi titik perselisihan dengan pendapat Imam Ibnu Taimiyah yang tidak menerima takwil. Harap diketahui bahwa Ibnu Taimiyah adalah satu-satunya ulama yang tidak mengakui ada majaz dalam bahasa (kebetulan ini masalah ini adalah Bahast ‘tugas penelitian’ saya ketika masih tingkat I pascasarjana Al-Azhar).

Pendapat kedua ini menguat pada masa-masa akhir (mutaakhkhirin: mulai sekitar abad ke-6 H.), karena memang desakan kondisi. Selain Mu’tazilah yang sejak awal mendasarkan pendapatnya pada rasio dan logika semakin menguat setelah munculnya karya al-Qadhi Abdul Jabbar (lupa saya judulnya, bukunya ada 16 jilid), pada masa ini pula menguatnya konsep-konsep, pemikiran, dan aliran filsafat.

Ibnu Taimiyah muncul pada fase yang bisa kita sebut sebagai antitesa, setelah fase tesa dan sintesa, pada konflik ini dan beliau ingin memotong ringkas saja semua itu agar segera dikembalikan kepada konsep awal. Bukan sesuatu yang mudah. Perselisihan ini sudah mengakar berabad-abad. Kita bisa melihat bagaimana al-Ghazali membantah ‘mati-matian’ dalam masalah teologis ini. Sebelumnya Imam Abu Bakar al-Baqillani, bahkan sebelumnya al-Khattabi sampai datang ke negri di mana al-Rummani menetap hanya untuk membantah pendapat teologisnya yang Mu’tazilah.

Selain itu, Ibnu Taimiyah muncul pada kondisi di mana memang Islam membutuhkan perhatian yang lebih serius pada banyak hal. Negara terpecah menjadi negri-negri kecil ditambah serangan Mongolia, sementara di Andalusia dan Maroko yang berada di bawah kekuasaan al-Murabithin para pengikut mazhab fikih saling ‘berantem’.

Jadi, apakah benar Imam al-Syathibi menyimpang? Apakah mazhab Asy’ari itu bid’ah? Tinjaulah kembali keseluruhan buku-buku teologis itu dan buatlah kesimpulan. Jika tidak paham, bertanyalah kepada ahlinya. Karena, kata shalat saja sah dipahami sebagai doa, lalu apakah memang doa yang dimaksud dalam kitab-kitab fikih itu?

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker