Ramadhan Kita: Lailatul Qadar dalam Perbincangan Ulama
9 September 2009 – 11:02 pm · diperbarui: 11 Sep 2009
Ada apa sebenarnya pada Lailatul Qadar sehingga begitu agungnya? Itulah pertanyaan yang pertama kali muncul dalam pikiran saya, apalagi selama ini malam-malam Ramadhan yang kita lewati tampak sama saja. Paling tidak, secara fisik demikianlah nyatanya. Tidak ada yang aneh atau ada peristiwa yang menghebohkan sehingga bisa menarik perhatian kita. Lalu, ada apa sebenarnya pada Lailatul Qadar? Kemudian apa ciri-cirinya? Kapan terjadinya? Pada malam Ramadhan keberapa? Begitulah akhirnya pertanyaan demi pertanyaan muncul silih berganti.
Saya pun merasa tidak mampu untuk mengungkap hakikat yang sebenarnya. Akhirnya, tidak ada yang lebih mudah selain mengutip perbincangan para ulama tentang masalah ini. Sebelum itu, ada satu poin penting yang saya pikir perlu untuk kita cermati. Apa pun yang sebenarnya ada pada malam yang agung itu, satu fondasi penting di dalam hati kita sebagai muslim bahwa kita menerima itu karena kita beriman. Kita percaya dan yakin. Oleh karena itu, sehebat dan seagung apa jua yang terkandung pada Lailatul Qadar, semuanya bermuara kepada keimanan kita kepada Allah, dan Dia telah berfirman bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Seperti apa keagungan itu hendak kita gambarkan, seluar biasa apa kita paparkan, pada intinya malam itu lebih baik dari seribu bulan. Titik.
Namun, sebagai manusia, maka wajar kita bertanya-tanya dan terdorong untuk mengetahui lebih banyak mengenai maksud lebih baik itu dan karena apa. Paling pertama yang bisa kita temukan kenapa malam tersebut sangat agung disebutkan langsung dalam ayat pertama surat al-Qadar bahwa pada malam itulah diturunkan al-Qur`an. Lalu, para ulama pun mempunyai pendapat yang beragam mengenai hal itu. Jika kita terjemahkan ayat itu, sebenarnya bermakna begini: “Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam keagungan,” yaitu menggunakan pronomina. Para penafsir al-Qur`an seluruhnya sepakat bahwa kata ganti itu ketiga itu maksudnya adalah al-Qur`an. Demikian disebutkan oleh al-Razi di dalam tafsirnya. Al-Alusi menerangkan bahwa kata ‘sepakat’ di sini dengan tidak menganggap pendapat selain itu karena lemah.
Maksud al-Alusi di sini bahwa klaim Ijma’ itu merupakan bentuk perluasan karena sebenarnya ada pendapat yang menyebutkan bahwa kata ganti itu kembali kepada Surat. Misalnya, disebutkan oleh Ibnu Athiah bahwa sekelompok penafsir menerangkan maknanya begini: “Kami menurunkan Surat ini (yang menyampaikan) tentang Lailatul Qadar dan kagungannya.” Apabila Surat itu sendiri adalah bagian dari al-Qur`an, maka kata ganti bisa ditujukan kepada al-Qur`an sebagai bentuk penunjukkan kehebatan dan kemuliaan. Kita perhatikan struktur bahasanya, penafsiran ini juga bisa dibenarkan. Maka, kata “fi” pada ayat ini tidak menunjukkan makna tempat atau waktu, tetapi komplementer kata kerja yang bermakna “tentang”. Hanya, penafsiran ini tidak sejalan dengan pendapat pertama yang bertumpu pada riwayat (atsar) dan merupakan pendapat utama para penafsir.
[Insya Allah, saya berniat menuliskan tentang rahasia-rahasia bahasa pada surat ini jika ada kesempatan. Dengan itu, kita bisa menelusuri makna-makna yang tidak sebatas terjemahan atau penafsiran. Syaikh Mutawalli Sya’rawi menyebutnya sebagai khawathir, yaitu sesuatu yang terlintas dalam pikiran hasil dari perenungan terhadap ayat-ayat ditopang dengan konsep ilmiah dalam penelusuran. Sebenarnya penelusuran ini identik dengan kritik sastra, yaitu menggunakan berbagai perangkat yang tersedia, khususnya konsep-konsep bahasa. Sayangnya, kita tabu untuk menyebutnya kritik sastra, karena objek telaah adalah al-Qur`an yang merupakan wahyu Tuhan, bukan karya.]
Kemudian, mereka berbeda pendapat pada bagaimana al-Qur`an itu diturunkan pada Lailatul Qadar. Pangkal perbedaan ini muncul karena telah diketahui bahwa al-Qur`an jelas diturunkan secara berangsur-angsur. Pertama, al-Sya’bi menafsirkan maksud penurunan di sini adalah permulaan diturunkan, yaitu pada Lailatul Qadar, dikuatkan dengan fakta bahwa pengutusan Muhammad itu berlangsung pada bulan Ramadhan. Kedua, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa al-Qur`an diturunkan sekaligus pada Lailatul Qadar ke langit dunia dahulu, baru kemudian diturunkan berangsur-angsur ke dunia manusia. (lihat Tanwir al-Miqbas, 2:149).
Pendapat pertama lebih mudah dan logis, tetapi ada sedikit persoalan dengan apa yang sudah masyhur selama ini bahwa Al-Qur`an diturunkan pertama kali pada malam 17 Ramadhan. Itulah yang kita peringati selama ini sebagai malam Nuzulul Qur`an. Dengan demikian, ini menjadi sesuai dengan sebagian sahabat dan ulama yang menyebutkan Lailatul Qadar adalah malam 17 Ramadhan.
Namun, tampak banyak penafsir mengikuti pendapat kedua di samping sebagian yang lain mencoba untuk menyatukan kedua pendapat itu. al-Biqa`i di dalam buku tafsirnya “Nazhm al-Durar”, misalnya, menyebutkan bahwa pada malam agung itu al-Qur`an seluruhnya diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Bait al-Izzah dari langit dunia persis susunannya seperti yang kita kenal sekarang, dan demikianlah (yakni, pada Lailatul Qadar atau Ramadhan) diturunkan pertama kali ke langit dunia. Di antara ulama penafsir yang mengikuti pendapat kedua ini adalah al-Nisaburi: Tafsir al-Nisaburi 7:371, al-Samarqandi, Bahrul Ulum 4:425, Muqatil bin Sulaiman 4:227, Izzuddin bin Abdussalam 8:70; al-Khazin, Lubab al-Ta`wil fi Ma’ani al-Tanzil 6:289; Abu Bakar al-Jaza`iri, Aysar al-Tafasir 4:418; al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil 8:482.
Beberapa ulama yang mendukung pendapat pertama adalah Ibrahim al-Qaththan, Taysir al-Tafsir 3:443; Sayyid Thantawi (Syaikh Azhar), al-Tafsir al-Wasith 1:4545; al-Sa’di, Taysir al-Karim al-Rahman 1:931. Begitupun, sebagian tetap mengemukakan pendapat yang kedua.
Sementara itu, sebagian besar ulama menyebutkan kedua pendapat itu begitu saja tanpa mengunggulkan pendapat atas pendapat yang lain. Silahkan lihat penjelasan Ibnu Adil, al-Lubab fi Ulumil Kitab 16:404, al-Mawirdi, al-Nukat wal Uyun 4:440, al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, 7:314; Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib 17:123; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim 8:441; Ibnu Jarir al-Thabari, Jami’ul Bayan 24:532; Abu Hayyan al-Tauhidi, al-Bahrul al-Muhith 11:5; As’ad Haumad, Aysar al-Tafasir 1:6003; dan Ibnu Athiah, al-Muharrar al-Wajiz 7:48.
Sebelum meneruskan pengutipan pendapat pada masalah lainnya, sejenak saya merenungi keterangan-keterangan ini. Saya merasa ada sesuatu yang lebih dari semata diturunkannya al-Qur`an pada Lailatul Qadar berkaitan dengan keagungannya yang dimaksud. Tidak kita pungkiri bahwa al-Qur`an sangat mulia, wahyu Allah, berisi petunjuk, berbagai penjelasan terhadap petunjuk dan pembeda antara hak dan batil (misalnya, lihat QS al-Baqarah 2: 185). Kitab suci ini merupakan pintu pertama dalam meniti jalan kepada Allah. Maka, dengan kemuliaan dan keagungannya, waktu diturunkan pun otomatis merupakan waktu yang agung. Waktu yang dimaksud itu adalah Lailatul Qadar.
Jadi, pada sisi ini kita simpulkan saja secara ringkas bahwa Allah menyandingkan antara sesuatu yang mulia, waktu yang mulia, diturunkan kepada yang mulia, diemban oleh yang mulia, dari Yang Mahamulia, untuk siapa saja yang ingin menjadi mulia.
Lalu, apakah sesuatu yang lebih itu? Para ulama menyebutkan bahwa ‘Lailah Mubarakah’ malam yang penuh keberkahan yang disebutkan dalam Surat al-Dukhan adalah Lailatul Qadar. Pada ayat itu, Allah Swt. juga menerangkan bahwa Dia menurunkan al-Qur`an. Pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa pada malam itu ditetapkan setiap perkara.
Tags: Lailatul Qadar, malam agung, puasa, Ramadhan











