Pembangkit Listrik Tenaga Kabut (PLTK)
29 September 2009 – 9:19 pm
Hari ini saya mendengar kabar bahwa di Jakarta sedang terjadi pemadaman listrik. Rata-rata informasi yang muncul di facebook kawan-kawan berkenaan dengan hal ini. Saya tersenyum membaca informasi itu. Baru sekali dua kali listrik padam. Mungkinkah terbayang di benak mereka bagaimana rasanya jika berada di lokasi saya berada sekarang. Di sini, Muara Teweh, pemadaman listrik sudah sangat biasa. orang-orang di sini pun dipaksa untuk menjadi biasa dan menganggap itu baisa. Entah sudah berapa tahun belakangan ini PLN tidak jelas juntrungnya di kabupaten ini. Salah seorang penduduk pernah berkomentar kepada saya begini: pemadaman listrik tempoe dahulu masih lebih bagus daripada sistem pemadaman yang berlangsung sekarang.
Sistem bergantian memang tetap dipertahankan, tetapi tidak ada standar yang jelas atau pemberitahuan lebih dahulu. Pemadaman dilakukan semau-maunya. Demikian juga bagaimana mereka menyalakannya. Informasi miring yang sudah sangat umum di masyarakat sini: PLN sedang bermanja. Mereka melakukan itu dengan harapan mendapat subsidi dari Pemda. Lalu, ketika menyalakannya, mereka seolah sengaja membuat nyala kejut lalu padam lagi. Maksudnya sangat jelas, tegangan naik seketika. Pernah saya saksikan sendiri, listrik menyala sehabis padam selama lima menit sebelum padam kembali. Pernah pula nyala kejut saja, sehingga menaikkan tegangan.
Para penghuni beberapa rumah yang sudah berpengalaman menerima tagihan mahal berteriak agar mematikan sekring dan tidak menyalakannya hingga listrik PLN sudah benar-benar menyala. Masing-masing seringkali mengeluarkan sumpah serapah terhadap PLN, sebagian mengomel, dan sebagian lagi bercerita tentang kebobrokan PLN, bahkan para pegawainya, disertai dengan lirih kepasrahan terhadap layanan PLN yang selalu melakukan pemadaman tanpa pola ini. Untungnya, rumah adik yang biasa menjadi tempat kami berkumpul jika sedang turun ke kota memang selalu mematikan sekring dan mengganti salurannya dengan saluran listrik mesin. Jadi, apabila otak culas PLN untuk menaikkan tegangan dengan nyala kejut ini, hal itu tidak akan berpengaruh pada alat pencatat pemakaian karena memang sedang tidak ada arus listrik.
Gelap gulita sudah menjadi citra kota, layaknya kembali ke zaman purbakala. Selama mudik ini saya benar-benar merasa di dalam gelap. Malam memang sudah gelap, siang hari pun gelap akibar kabut asap yang turun ke bumi. Entah dari mana datangnya kabut ini. Kebakaran hutan? Ah itu kan kata orang-orang pintar di kota. Sejak dahulu, para nenek moyang saya juga biasa membakar hutan. Caranya pun masih saya hapal meskipun tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah apalagi di universitas. Toh tidak ada kabut asap. Kenapa baru sekarang kabut asap ini muncul? Ataukah teknik pembakaran yang dilakukan oleh para nenek moyang, yang juga masih dilakukan oleh orang-orang di pedalaman, secara teori membuat asap tersimpan dalam atmosfir bumi untuk kemudian turun menyelimuti angkasa pada waktu sekarang agar bisa dinikmati oleh anak cucu mereka?
Hal itu sangat mungkin. Bukankah mereka ini yang dituduh oleh orang-orang kota sebagai manusia primitif sehingga mereka tidak tahu kalau teknik pembakaran yang mereka lakukan berakibat seperti itu. Dalam berladang, mereka pun melakukannya berpindah-pindah. Setiap kali membuka lahan, maka pembakaran pun dilakukan. Mereka hanya menggunakan logika sederhana: lahan kedua dibuka, pepohonan dan komponen hutan di lahan pertama tentulah sudah tumbuh. Karena itu, luas lahan pun yang dibuka pun terbatas. Ya, karena mereka primitif, mana tahu soal akan ada akibat kabut asap. Mereka melakukannya tidak seperti orang-orang pintar, atau bisa jadi sebenarnya manusia sok pintar, di kota yang sekali membuka lahan ribuan hektar dan bangga karena tidak melakukannya secara berpindah-pindah.
Namun, pagi ini saya berpikir lain. Terbayang kalau kabut asap ini sebenarnya memuat pesan para nenek moyang agar bisa dimanfaatkan. Muncul pula pemikiran bahwa bisa jadi ada kaitannya dengan pemadaman listrik oleh PLN beberapa tahun belakangan ini. Maka, terketuklah hati untuk membuat sebuah pembangkit listrik bertenaga kabut. Idenya sudah ada. Beberapa alat dasar sudah saya buat. Hanya satu kekurangan yang belum teratasi, yaitu dana.
Dana yang dibutuhkan sangat besar. Konsepnya berdasarkan pada bagaimana kita bisa menghimpun kabut asap yang sedang menyelimuti berbagai wilayah di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, ke suatu area bertekanan tinggi. Kemudian kita bisa memancing energi dari kabut-kabut asap yang sudah dibentuk ke dalam gumpalan-gumpalan ala cumulo nimbus yang kemudian dapat melemparkan elektron dalam skala besar.
Mungkin saya harus bertanya dahulu ke perusahaan-perusahaan tambang batu bara yang sedang ramai-ramainya di wilayah ini. Entah bertanya dengan pemilik sahamnya, bisa juga bertanya dahulu kepada para sopir truk yang keluar masuk dan melintasi jalan dengan kecepatan tinggi, tanpa perduli jalan-jalan yang sudah rusak atau sedang di kawasan banyak anak. Ajukan proposal untuk bantuan atau tarik pungutan pada setiap truk yang melintas. Boleh juga jika mereka bersedia menyumbang peralatan atau tenaga karyawan. Siapa tahu ada manfaatnya dalam rangka menghimpun kabut asap ini ke suatu tempat yang kita jadikan sentral pembangkit.
Lalu, saya juga merasa harus bertanya-tanya kepada perusahaan-perusahaan kelapa sawit. Kira-kira dalam setahun mereka bisa menyumbangkan kabut asap berapa kubik. Maksud saya, menyisihkan dana untuk membangun pembangkit listrik tenaga kabut ini. Tidak kalah penting adalah perusahaan kayu yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun di wilayah ini. Untuk jenis perusahaan yang satu ini barangkali kita tidak mengajukan proposal dana, tetapi proposal kerja sama yang menguntungkan semua pihak yang beruntung. Kata orang kota, istilahnya win-win solution. Ibarat iklan Pertamina: “kita untung, bangsa untung”. Kira-kira begitu bunyinya yang pernah saya dengar. Kalau lanjutannya yang pernah diucapkan oleh kawan saya: “rakyat buntung”, saya sudah pasti masih ingat.
Nah, pokok pikiran yang tertuang dalam kontrak kerja sama ini tentu saja bermuara pada sistem pengaturan penebangan kayu secara periodik dan volume penebangan secara berkala. Jadi, mereka jangan sampai menebang semuanya sekaligus. Harus ada sisa buat para pengusaha kelapa sawit dan tambang batu bara untuk kemudian dibakar terlebih dahulu. Jika tidak, upaya pembangunan pembangkit listrik tenaga kabut ini akan sia-sia karena akan tidak ada lagi suplai kabut. Jangan lupa pula dalam kontrak kerja sama ini dibuat klausul yang intinya menyisakan area hutan untuk para penambang emas, bijih besi, dan aneka tambang lainnya. Dengan demikian, setiap tahun kita sudah pasti akan selalu punya stok kabut asap hingga beberapa puluh tahun yang akan datang.
Langkah selanjutnya, saya mungkin harus melakukan audiensi dengan para anggota dewan yang maunya terhormat, juga dengan kepala daerah dan jajarannya. Setidaknya, kalau hal itu bisa dilakukan dan menguntungkan beberapa pihak, syukur-syukur semua pihak, para pemegang kebijakan sudah menyiapkan tim survey, bahkan kalau perlu sudah siap pula pimpro dan segala hitungan-hitungannya.
Kalau hal ini benar-benar bisa direalisasikan, maka Kalimantan sudah tidak akan pernah mengalami pemadaman listrik lagi pada tahun-tahun yang akan datang. Kabut asap berlimpah ruah begini, kenapa tidak dimanfaatkan saja. Ya ngga?! BwWwWeEeeeEeeRrrRRRrrRRrRR!!!
Tags: gelap, kabut asap, listrik, pemadaman, PLN











idenya benar2 cemerlang, kalau berhasil, maka ini proyek pertama barangkali dimuka bumi. salut.
Harusnya memang begitu, Pak. Minimal idenya dulu walaupun maksudnya agak ngasal dan lebihnya adalah kesal. Namun, bisa jadi juga dapat terealisasi sehingga negara tetangga tidak perlu membalas kiriman asap dengan menglaim berbagai karya milik Indonesia.