Catatan Perjalanan: Jumat yang Hitam
31 October 2009 – 7:19 pmHitam sekali rasanya hari ini. Dimulai sebuah berita hitam sejak malam yang berlanjut hingga pagi. Perjalanan hari ini pun tidak kurang hitamnya. Kecelakaan melintas pagi dan malam di depan mata. Perut lapar sepanjang hari. Mataku sayu bersama kantuk yang tertahan di antara kaca-kaca mobil penuh debu yang pekat melekat. Jangan ragukan lagi panas terik yang membakar. Macet tetap setia menemani. Desakan penumpang semakin menambah rusuh perasaanku yang sudah kusut.
Namun kuteruskan juga langkah. Semangat. Gadis itu dengan lembut berkata, “Sabar.” Ya, aku memang harus melatih diri untuk bersabar. Tapi bagaimanapun, hari ini harus kuberi warna. Dahulu, ketika kerusuhan di Banjarmasin merebak dan menelan korban jiwa, mereka menyebutnya Jumat Kelabu. Semoga tidak berlebihan, hari ini kusebut saja dengan Jumat yang Hitam.
Kabar hitam pertama sejak malam aku dapatkan dari kejauhan. Laptop Acer itu hilang dari ruangan. Terali besi jendela kamarnya dicungkil maling dengan linggis. Aku menyarankan kepada adikku untuk melapor polisi dan membuat pengumuman. Memang belum tentu mudah bagi setiap orang, tetapi minimal ia bisa menjadi catatan yang akan terus tersimpan bahwa siapa saja yang tahu, melihat, atau bahkan membeli dan menggunakan Acer Emachine dengan nomor serial LNX440C005913B2D462200, ia harus tahu bahwa laptop itu adalah hasil curian.
Lokasi kehilangan barang adalah Banjarbaru, Kal-Sel. Kalaupun sang pencuri merobek atau menghapus tulisan serial yang ada di bagian bawah laptop, nomor ini pasti tetap akan tertulis pada bagian Setup BIOS. Nomor ini tidak akan berubah kecuali dilakukan oleh seorang yang ahli assembly dan mencoba melakukan hack terhadap ROM BIOS, kemudian melakukan flashing ROM BIOS dengan Image baru hasil otak-atiknya.
Aku tidak terpikir ada hitam lagi selanjutnya untuk hari ini. Tidak ada pula ide atau kesan terhadap sebuah berita. Itu hal buruk yang sering menimpa. Hanya kali ini ia menimpaku. Perjalanan hari ini pun aku mulai tanpa muatan apa-apa. Sesuatu yang memang harus terjadi, terjadilah. Sekalipun kita tahu takdir yang akan terjadi, seandainya bisa demikian, belum tentu pula kita mampu menghindarinya, apalagi melawannya. Bukankah sudah terbukti secara empirik, takdir yang diberikan kepada kita wewenang penuh untuk mengaturnya, tetap saja kita tidak bisa mengaturnya dengan baik dan menghindari akibatnya. Apalagi, kesombongan dan keserakahan manusia turut pula menjadi faktor penentu bagaimana ia seharusnya terjadi.
Lihatlah kita yang diajarkan sejak lama bahwa penggundulan hutan berakibat erosi dan hilangnya daya serap tanah. Pada musim hujan, banjir biasa karena kelebihan air hingga banjir bandang siap mengancam; pada musim kemarau, kekeringan pun melanda. Lucu sekali. Para pelaku justru orang-orang yang terbiasa menyimpan uangnya di bank, tetapi tidak pernah terpikir bahwa air pun perlu ditabung dalam batang-batang pohon dan hijau dedaunan. Dengan proses fotosintesis, oksigen berdaur ulang untuk dilemparkan ke udara setelah pembakaran yang terjadi terhadap zat karbon yang diserap. Maka, matahari pun tidak perlu menyengatkan panas yang berlebihan. Seharusnya mereka itu tidak pantas menyandang ijazah SD sekalipun, karena ada satu materi yang tidak pernah lulus. Memalukan!
Aku keluar rumah sambil menyunggingkan senyum kepada pohon mangga yang besar dan rindang. Panas terik sudah terasa dari rasa angin yang berhembus. Tetapi, pohon ini memberikan keteduhan tersendiri, selain tentu saja udara yang kuhirup lewat dengusan nafas penuh dengan oksigen murni dan segar. Lumayan buat bekal di perjalanan yang sudah pasti penuh debu dan kering. Beberapa hari yang lalu pemilik memanen buahnya yang juga besar dan manis. Tulisan ini pun kubuat sambil menyantap buahnya yang manis dan berisi. Aku melangkah tanpa kesan apa-apa. Kabar hitam seperti itu sudah biasa terjadi. Tidak ada perasaan bahwa akan ada hitam selanjutnya yang menghiasai perjalanan ini. Dugaanku meleset. Meskipun demikian, aku bersyukur bisa melangkah dengan tenang dan tanpa prasangka apa-apa terhadap Tuhan.
Hari ini adalah Jumat. Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 11.25 WIB. Aku turun dari mobil angkutan dan mencari masjid terdekat. Lalu… aku menyimak isi khutbah yang disampaikan. Sang pengkhutbah masih muda. Gayanya santai. Dari gelarnya dapat aku simpulkan bahwa ia seorang sarjana ilmu sosial. Khutbahnya sendiri sangat bagus, fokus pada satu tema dan tidak lari kemana-mana. Ia berbicara tentang dunia setan. Setelah mengutarakan makna setan, definisinya, dan jenisnya yang umum, ia pun mengutip penjelasan Khalifah Umar bin Khattab tentang nama-nama setan dan tugasnya masing-masing. Ia jelaskan satu per satu. Setan Jalitun yang bertugas di pasar-pasar dan selalu menggoba manusia yang masuk ke pasar untuk melakukan penipuan dan perilaku buruk lainnya.
Lalu, ada setan yang khusus mendampingi para pemimpin untuk memengaruhi kebijakan, disebut dengan setan Sultan; setan Afaf yang membujuk manusia untuk mengonsumsi minuman keras dan narkoba; setan yang turut serta membumbui berita bohong dan gosip. Di sini khatib menyinggung tentang siaran televisi dan media yang menjadikan gosip sebagai konsumsi umum. Menurutnya, hampir 50% dari semua itu adalah kebohongan, khususnya berita gosip dan infotainment, penuh dengan dramatisasi yang buruk demi sensasi, dan merupakan pengikut setia setan Masut. Setan Jasim yang spesialis menghancurkan rumah tangga dan menyalakan api permusuhan di antara anggota keluarga.
Setan Walhan yang sudah saya kenal betul, hahaha… ini dia penggoda manusia agar ibadahnya rusak, termasuk juga mereka yang sering ragu dalam ibadahnya (biasa disebut mengidap penyakit waswas atau waswis) seolah-olah tidak pas aja bacaannya dan selalu diulang-ulang. Hanya seingat saya, beberapa kitab menyebutkan Walhan ini sebagai setan wudhu. Kemudian Murrah yang menggoda dengan musik dan membuat manusia lalai; dan dua setan lagi yang tidak sempat saya ingat dengan baik karena sang khatib pun terburu-buru, takut terlalu lama sehingga akan membuat pendengar tidak nyaman dan penyampaian menjadi tidak efektif.
Setelah melewati perjalanan sepanjang hari, aku pun tersadar. Bukankah tema khutbah ini juga sedang berbicara tentang dunia hitam?! Warna putih yang sedang mengulas tentang warna hitam dalam kehidupan. Saya meneruskan perjalanan. Tampaknya hitam yang mewarnai tiada berhenti sampai di sini. Seandainya saya tahu, ada isyarat, atau perasaan yang aneh-aneh, belum tentu pula saya bisa menghindarinya. Bus angkotan kota yang saya tumpangi terus menunggu. Terasa agak lama karena penumpang masih sedikit. Saya maklum. Panas dan gerah pun saya lawan sampai bus ini kemudian bergerak, perlahan keluar dari terminal lalu tersendat di sebuah persimpangan. Waduh.. hitam apa lagi ini. Awalnya, aku pikir hanya kendala yang diakibatkan kemacetan sehingga sopir yang sudah berusia uzur itu menginjak rem secara mendadak.
Bus penuh dengan penumpang. Di perempatan, anak-anak SMA berseragam naik. Macet sudah tidak terkira. Hingga, tiba-tiba mobil ini berhenti mendadak lagi. Di depan kami rupanya telah terjadi tabrakan yang tidak berakibat korban jiwa. Untung saja sopir sigap dan bus angkutan kota ini bisa ia kuasai. Namun, mesinnya mati lagi. Aku coba ingat kembali ini yang keberapa kali. Beberapa orang harus turun untuk membantu mendorong. Perjalanan pun dilanjutkan. Mobil tidak bisa berjalan lebih cepat dari biasanya. Sopir tampak sangat berusaha untuk mengatur jalannya bus sebaik mungkin; jangan sampai terjadi lagi kejadian berhenti tiba-tiba. Sayang, hilir mudik kendaraan di jalan tidak banyak membantunya. Sepeda motor yang berlalu lalang tanpa aturan, menyelip dan memotong di depan, seringkali membuatnya mendengus, bahkan berteriak keras. Perjalanan masih normal. Namun…
Ah, seandainya aku tahu apa yang sebenarnya akan terjadi…. Seandainya Laius ada di sini, bisa jadi ia mencibir padaku dan berbisik tidak ada gunanya melawan takdir meskipun sudah kauketahui. Sepanjang perjalanan ia pun coba mengoceh tentang cerita lama di seputar Thebes, Delphi, Davlia, dan Corinth. Kehidupan bahagia bersama Jokasta yang coba ia pertahankan justru hancur berantakan. Tragis, di tangan anak sendiri yang juga coba melawan takdir. Oedipus akhirnya tahu ia bukanlah putra Polybus dan Merope dari kerajaan Corinth. Ia mencari tahu siapa ayah ibu kandungnya. Ia datang ke tempat yang dahulu pernah didatangi oleh ayahnya. Sang Peramal yang berbicara atas nama Apollo tidak memberi tahu identitas sang ayah. Ia justru menyampaikan takdir bahwa ia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya.
Oedipus kalut. Ia melarikan diri dari Corinth dan pergi sejauh-jauhnya. Nuraninya tidak terima. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia membunuh ayah dan mengawini ibunya sendiri. Juru bicara Apollo di Delphi itu pula yang telah membuat Laius gelisah dan kalut, dengan cerita takdir yang sama. Ia lebih memilih tidak punya anak daripada kehidupan hitam mewarnai kebahagiannya bersama Jokasta. Oedipus yang harusnya mati sejak dilahirkan ternyata mendapat tempat di Corinth karena sang gembala tidak tega membuang anak yang tidak berdosa. Kini Oedipus mengalami kekalutan yang sama. Dalam benaknya, Polybus dan Merope telah merawatnya sejak kecil. Ia lupa pencariannya semula. Terkekang dalam bentangan takdir masa depan yang hitam.
Tanda sadar, pilihannya menjauh dari orang tuanya demi menghindari takdir hitam itu justru semakin mendekatkannya kepada kenyataan takdir hitam yang sebenarnya. Dalam pengembaraan itu, arah yang ia pikir akan menjauh dari kediaman orang tua justru membuatnya semakin dekat ke kerajaan Thebes, tempat orang tua kandungnya. Di sebuah pertigaan jalan, ia berpapasan dengan kereta kuda. Terjadi pertikaian karena Oedipus tidak mau mengalah untuk memberikan jalan lewat. Mereka berkelahi. Oedipus berhasil membunuh sang penumpang yang tidak diketahuinya adalah raja Thebes, ayahnya sendiri. Begitulah takdir hitam yang ingin dihindarinya justru terjadi ketika ia menolaknya.
Aku tersadar sebelum Oedipus lebih dahulu sampai ke gerbang Thebes dan mencoba peruntungan nasib di depan Sphinx. Ia harus mampu menjawab pertanyaan filosofis yang cerdik. Siapa tahu ia berhasil menggantikan raja yang telah tiada dan kawin dengan permaisuri, janda sang raja. Kisahnya terbang bersama hembusan angin panas yang masuk lewat sisi jendela. Butiran keringat menyentuh bibir. Mobil yang aku tumpangi kembali mogok, seingatku untuk yang keempat kali. Beberapa orang turun untuk mendorong hingga mesin bisa hidup kembali. Termasuk seorang pemuda berbaju loreng yang terdengar di telingaku berasal dari Kalimantan Tengah saat ia menjawab pertanyaan ibu setengah baya di sampingnya. Tadi, ia pula yang membentak anak-anak SMA yang ribut dengan omong kosong sesamanya pada saat semua orang sedang mengalami ketegangan.
Perutku terasa lapar. Mulutku kering. Dengan agak sempoyongan, aku berusaha bertahan. Kami tidak mungkin terus bersama bus ini. Pintu tol sudah dekat, tingga beberapa ratus meter lagi. Aku duduk sebentar untuk menarik nafas dan menjaga keseimbangan; lalu memutuskan untuk berjalan.Tidak berapa lama menunggu, aku sudah berada di bus lain sesuai dengan arah yang kutuju, sementara penumpang yang lain dengan tujuannya masing-masing. Jika kuukur-ukur perjalananku hari ini, seharusnya aku marah. Namun pada sisi lain, aku kasihan terhadap sopir bus yang malang itu. Sudah berumur pula. Begitulah kehidupan ibukota membuatnya susah payah untuk bertahan hidup.
Sesampai di kantor, aku beristirahat sejenak. Selain berbincang-bincang dengan teman-teman sekadarnya. Aku terlambat, tetapi ada acara lain dan tidak berapa lama acara pun dimulai. Ada kue-kue enak bersusun rapi di atas meja. Perutku lapar, tapi perhatianku sedang entah di mana. Bahkan, ada nasi bungkus yang ditawarkan oleh Pak Taufik kepadaku tidak sempat aku makan. Mungkin aku masih panik dan kalut karena kejadian-kejadian yang menimpaku sepanjang perjalanan. Pikiranku masih menerawang untuk mencari tahu kok bisa-bisanya peristiwa demi peristiwa seperti itu terjadi hari ini. Ya bisa lah…
Di kantor pun kulihat banyak warna hitam. Ada laptop dengan Windows XP yang diserang penyakit BOTD (biasa disingkat pula dengan Blue Screen) sehingga tidak bisa dipergunakan dan tidak cukup waktu luang untuk melihat penyebabnya lebih jauh. Infocus pun turut serta menjadi hitam. Kehilangan sinyal dari laptopku sehingga tidak bisa menampilkan apa yang diinginkan. Untung saja masih ada solusi sehingga acara bisa berjalan. Tapi, rencana menayangkan design template dari laptopku gagal. Waktu pun semakin sempit.
Diskusi dimulai. Serius dan santai. Aku menjadi pendengar yang baik, apalagi diskusinya penuh dengan pembelajaran yang sangat bermanfaat. Aku suka gaya Pak Ihsan Ali Fauzi berbicara. Tegas, jelas, dan runtut. Ia mengajak kita untuk menyusun sistem berpikir dan fokus dalam suatu sistematika yang jelas, sehingga topik yang sedang dibicarakan terarah. Perutku lapar. Aku melangkah ke dekat meja dan mengambil beberapa potong kue. Nikmatnya. Pukul 19.00 diskusi berakhir. Aku masih ingin kue, tapi… just kidding
Aku langsung pulang. Ikut Husni hingga ke gerbang. Perjalanan pulang masih juga diwarnai hitam. Gelap.. memang sudah masuk waktu malam. Dari kejauhan sudah tampak batang hidung kemacetan, bahkan di depan pintu tol yang sebentar lagi akan kami masuki. Sayup terdengar pengumuman agar para pengendara berhati-hati karena ada kecelakaan di sekitar Ampera. Hitam apa lagi ini? Bus merangkak perlahan, tetapi tidak kehilangan identitasnya sebagai angkutan kota. Merayap sambil coba menikungi celah kosong di sisi kiri dan kadang ke kanan. Aku mengintip lewat jendela. Tampak di tengah badan jalan tol beberapa kamera sedang meliput peristiwa.
Kapan aku sampai ke rumah? Bus benar-benar merangkak, bahkan ketika sudah keluar dari tol yang penuh sesak. Sepanjang perjalanan aku benar-benar ditemani oleh kemacetan yang tidak kenal kasihan. Malam semakin hitam. Mataku berkunang-kunang, tapi aku bertahan. Beberapa kali aku tarik nafas panjang dan teratur. Sempat terpikir untuk turun dan mencoba peruntungan dengan Busway. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 20.05. Mobil-mobil dan kendaraan bermotor yang penuh sesak membuatku urung. Beberapa kali kulihat jalur khusus busway juga penuh. Mobil-mobil hanya merayap, dan terhenti. Bus-bus Transjakarta juga mengalami kemacetan.
Begitu pekatnya hariku ini hingga akhirnya pukul 21.45 aku pun tiba di rumah dengan selamat dan keringat. Tapi, perutku lapar. Warung-warung sudah tutup. Perutku hanya kuberi roti kering malkist yang sempat kubeli di pertokoan. Kebetulan masih buka. Sesempatnya kupergunakan waktu. Sopir pun mau menunggu. Uniknya, hingga aku akhiri tulisan ini, Sabtu, pukul 18.10, perutku belum juga terisi nasi sebutir pun. Meskipun hitam, Alhamdulillah aku masih tetap bertahan dan terus kuat untuk bertahan. Tanpa prasangka dan tanpa perasaan apa-apa.
Tags: Diskusi, Hitam, Jenis Setan, Jumat, laptop, Macet, Oedipus, Serial Number, takdir


