Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Hak Rakyat Tidak Semata Seribu Juta Facebookers

8 November 2009 – 6:48 pm

Saya cukup terkejut ketika melihat judul berita dari detik.com dari sindikasi di situs ini tentang komentar Komisi III DPR. Bahasanya mengandung konotasi penantangan sekaligus mempertontonkan kekonyolan. Lagi-lagi berbicara dengan jargon “Hak Rakyat”. Pertanyaan paling besar yang muncul di benak saya seketika itu juga adalah apakah mereka lupa bahwa DPR itu singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat? Facebook hanya sarana melampiaskan segala rasa dan emosi yang tak terbendung melihat kenyataan yang sedang berlangsung. Benar sekali bahwa itu adalah hak rakyat. Tidak ada sesiapa yang boleh menghalangi itu.

Tanggapan seperti itu menunjukkan betapa mereka tidak paham posisi dan fungsi mereka, lupa tentang apa itu DPR sejatinya, bahkan lupa apa kalimat panjang dari singkatan DPR yang sebenarnya. Seandainya mereka paham, justru di DPR itulah hak rakyat sebenarnya disuarakan, digemakan, dan digaungkan. Jika begini kenyataannya, DPR tidak berarti apa-apa, lalu apa makna sebenarnya dari kepanjangan DPR yang “Dewan Perwakilan Rakyat” itu. Tidak adakah hak rakyat di sana? Bukan tempatnyakah?

Seharusnya, sejak awal mereka sudah paham apa fungsi mereka ketika berada di dalam gedung itu (baca: lingkaran itu). Lebih dari itu, tanpa harus menjadi wakil rakyat pun, setiap warga negara seyogyanya paham bahwa Dewan Perwakilan Rakyat artinya tempat suara dan aspirasi mereka ditampung, dipelajari, dan disalurkan sebagaimana mestinya. Sangat sayang sekali kalau kita memiliki lembaga yang secara prinsip sudah jelas posisi dan fungsinya, rakyat yang seharusnya menyuarakan aspirasi, mengajukan pertanyaan dan tuntutan, meminta kejelasan, justru menyuarakannya di tempat lain.

Perasaan saya menjadi sedikit tenang dan agak nyaman ketika sudah benar-benar membuka tautan berita di atas dengan sempurna dan membaca komentar bahwa gerakan ekstraparlemen itu akan dijadikan sarana introspeksi. Hati kecil saya berkata, “Syukurlah kalau begitu.” Minimal, saya berharap mereka mau merenungi apa makna yang terkandung di dalam kepanjangan DPR ini; tulus dan sebenar-benarnya.

Atau, apa perlu kita buat aturan penyebutan Dewan Perwakilan Rakyat tidak boleh disingkat, hehehe. Ya, walaupun Anda mungkin pesimis akan terjadinya perubahan mental dan paradigma orang-orang yang bekerja di gedung itu, setidaknya bisa dijadikan alat untuk terus mengingatkan akan posisi dan fungsi DPR yang sebenarnya. Istilah lain yang pernah dikemukakan oleh Rieke Dyah Pitaloka kemarin itu bahwa menjadi anggota DPR itu berarti sedang bekerja di dalam rumah kaca yang disaksikan oleh jutaan rakyat.

Mana nih, Mbak? Tidak kedengaran suaranya! Mudah-mudahan kolosal yang sedang berlangsung di negri ini segera selesai. Rakyat yang perduli sudah tidak sabar menanti akhir cerita yang sesungguhnya.

Tags: , , ,

Post a Comment


To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker