Tidak Ada Kiamat Tahun 2012: [1] Dari Ruang Sastra Seni
7 December 2009 – 6:30 pm
Suatu kali seorang kawan menuliskan sesuatu yang mengandung angka ini di status facebook. Saya berpikir keras untuk mencari tahu ada apakah gerangan yang berkaitan dengan angka ini. Namun saya hanya bingung alias ‘tidak nyambung’. Saya juga tidak terpikir tentang informasi yang pernah disampaikan oleh Teteh di Warsun langganan beberapa waktu lalu bahwa dukun terkenal negri ini menyampaikan ramalan kiamat tahun 2012.
Saya tidak ambil pusing dengan rasa penasaran tentang 2012 dan juga tidak pernah tahu kehebohan yang sedang berlangsung di luar sana, sampai pada hari Rabu, 2 Desember 2009, Saudari Aya di kantor menunjukkan kepada saya sebuah DVD yang judulnya 2012 dan menawarkan kepada saya untuk menontonnya. Hal itu pun berlangsung secara tidak sengaja, yakni bukan karena kami sedang membicarakan tentang kiamat atau ramalan 2012, juga tidak ngobrol soal film tersebut. Saat itu, saya belum juga menyadari tentang kehebohan. Saya pikir itu adalah film sebagaimana film-film lainnya.
Baru pada hari ini, ketika merapikan arsip-arsip milis karena harddisk yang sudah sesak, saya benar-benar tersadar mengenai kehebohan ini dengan segala kondisi yang mengiringinya. Saya pun teringat perbincangan beberapa waktu yang sudah lebih dari sebulan lalu dengan Teteh dan Abang di Warsun langganan saya ketika mereka memulai topik tentang ramalan sang dukun. Singkat kata, saya hanya berkomentar bahwa tidak ada kiamat tahun 2012.
Ingatan itu pun kembali sekarang setelah terjawab tanpa saya kehendaki tentang teka-teki 2012 yang saya biarkan begitu saja berlalu. Rupa-rupanya, kehebohan itu tidak semata ramalan sang dukun, tetapi muncul pula film yang mengisyaratkan akhir dunia tahun 2012. Sayang sekali, saya sudah beberapa tahun terakhir ini tidak begitu berhasrat untuk menonton film, bahkan televisi, lebih lagi gosip-gosip. Meskipun demikian, seringkali pula hal-hal itu hadir di depan saya tanpa terhindarkan karena barangkali begitu ramainya kehebohan pada satu sisi dan tersedianya berbagai media pada banyak tempat dan waktu secara mudah pada sisi lain.
Sebelumnya saya ingin bercerita hal lain yang barangkali juga sebuah kebetulan dan baru saya sadari ketika menulis bagian ini. Pada malam Jumat, 4 Desember 2009, pukul 01.00, saya berangkat ke Ciputat dan tiba sekitar pukul 01.50 pagi. Sela-sela waktu menjelang subuh, saya menonton tayangan yang cukup menarik. Temanya seputar taman di Amerika pada masa sekarang yang pada masa lalu merupakan simbol kekuasaan, kekayaan, dan ambisi.
Selain membicarakan taman-taman yang merupakan kejayaan Amerika era 30, 40, dan 50-an, acara ini juga mengulas tentang upaya pemeliharaan taman lama agar tetap utuh dan beberapa orang era modern yang ingin menghidupkan kembali kejayaan era-era itu, termasuk beberapa tokoh penghuni Hollywood yang salah satunya adalah Roland Emmerich. Beda dari taman-taman lain, taman milik Roland ini bersifat eksklusif karena ia harus menjaga privacy kolega dan para selebritas yang tidak jarang menginap di sana.
Saya memang tidak bermaksud berbicara tentang taman yang dalam acara itu disebutkan sebagai sebuah kesadaran yang hilang dari manusia modern. Kaitannya di sini bahwa saya tiba-tiba teringat suatu hal lain yang terjadi dalam waktu yang berdekatan tanpa saya secara sadar berusaha mencari-cari informasi tentang 2012 dan segala kaitannya. Pertanyaan yang muncul dalam benak saya hanya “O, bukankah dia sutradara film 2012 ini?”
Jadi, rupanya status kawan saya yang mengaitkan sesuatu dengan 2012 atau kehebohan kiamat ini berasal dari sebuah film. Untuk masyarakat Indonesia, kita tidak perlu heran. Hal seperti itu biasa terjadi. Sebuah film, novel, puisi, atau karya lainnya bisa menjadi kehebohan sosial, sejarah, politik, bahkan fatwa. Fenomena ini bisa kita jadikan tolok ukur sederhana sejauh mana kematangan pemahaman masyarakat umum terhadap sebuah karya. Kehebohan yang terjadi di negri ini belum tentu terjadi di negri asalnya. Maksudnya kehebohan dalam bentuk atau kontek yang sama.
Kita memang tidak bisa begitu saja menilai bahwa kesadaran sastra dan seni kita belum matang, karena buktinya salah seorang anggota milis berkomentar bahwa dia baru menyadari kehebohan ini justru setelah dia keluar dari bioskop. Sebelumnya dan ketika menonton, apa yang ia rasakan tidak berbeda dengan film-film lainnya seperti Star Wars, Batman, atau Harry Potter. Imaginasi yang divisualkan dengan apik, dikompilasi dalam skenario yang rapi, dan didukung teknologi canggih, menghasilkan efek yang memukau dan mampu menjerat perasaan. Saya berkata dalam hati, bisa jadi Angling Darma pun tidak akan kalah heboh jika diolah dengan teknik dan teknologi sepadan.
Fiksi Adalah Ladang Bagi Para Pendusta
Dalam konteks ini, salah satu buku penting yang dapat membantu pemahaman kita terhadap karya adalah “Kebenaran dan Dusta dalam Sastra” yang ditulis oleh Radar Panca Dahana (saya lupa penerbitnya karena dalam kardus. Buku ini sendiri saya beli pada tahun 2002). Buku yang tidak kalah penting adalah kumpulan esai yang ditulis oleh Sunaryono Basuki Ks, diberi judul “Sastra Kita Numpang Nampang” dan diterbitkan oleh Jurnal Prasi bekerja sama dengan Penerbit Pinus.
Meskipun dua buku ini lebih menekankan pembicaraan sastra, dalam pandangan saya prinsip-prinsip umum antara seni dan sastra tidak jauh berbeda. Sastra itu sendiri merupakan bagian dari seni. Hanya alatnya yang berbeda dari seni bentuk lain dan pada jenis tertentu justru masih saling terkait seperti film. Maka, tidak aneh kalau film bisa diangkat dari novel dan sebaliknya pun bisa dilakukan.
Ringkasnya dalam bagian ini bisa saya simpulkan dengan meminjam istilah Pak Sunaryono Basuki bahwa dunia fiksi memang ladang bagi para pendusta. Itu sah-sah saja. Justru hal itu seringkali membuatnya lebih menarik dan kita pun pada dasarnya sudah siap untuk menerima itu. Inti kisah yang paling penting adalah ada masalah, ada tempat, ada pelaku. Jika semua itu telah ada, kita pun tidak lagi mempersoalkan apakah kisah itu masuk akal atau tidak.
Masalah, tempat, dan pelaku (juga boleh ditambahkan waktu), adalah unsur utama kisah. Maka unsur seni, apa pun jenisnya, adalah uslub (style) yang merupakan bentuk, ‘athifah (emosi), khayal (imajinasi), dan fikrah (gagasan) yang disebut sebagai materi seni oleh Abdul Hamid Hasan dalam bukunya “Al-Ushul al-Fanniyah Lil Adab” (Dasar-dasar Teknis Sastra, 6). Kemudian dikutip oleh Prof. Sayyid Iraqi dalam kuliahnya di Universitas Al-Azhar tahun 1998, dengan mengecualikan musik yang dimungkinkan tidak mengandung unsur gagasan.
Dari sebuah buku karya Aart van Zoest yang diterjemahkan oleh Manoekmi Sardjoe, Intermassa, 1990, dan diberi judul “Fiksi dan Nonfiksi Dalam Kajian Semiotik”, Zoest menulis bahwa seseorang yang membaca teks fiksi sebenarnya secara sadar bersiap untuk ‘dimanipulasi’ oleh penulis teks fiksi tersebut. Namun karena kesadaran itulah, di sini sebetulnya tidak terjadi manipulasi.
Kalau kita membaca sebuah koran sensasional dan mengira apa yang kita baca itu benar, tetapi ternyata itu hanyalah rekaan wartawannya, kita benar-benar telah dimanipulasi. Namun, dalam menghadapi sebuah cerita pendek, novel, atau sandiwara radio, kita sudah punya ancang-ancang bahwa yang akan kita baca adalah karya fiksi. Demikian tulis Pak Sunaryono pada esainya yang berjudul “Antara Fiksi dan Nonfiksi” (Sastra Kita Numpang Nampang, 123).
Masih menurut Zoest dalam kutipan yang lain, penulis fiksi tidak terikat dengan persyaratan kebenaran eksternal. Lebih ideal lagi, dalam segi apa pun fiksi tidak perlu memikirkan pembatasan hukum. Sensor atas fiksi adalah absurd. Selanjutnya dikatakan pula, oknum-oknum yang memang ada di dalam kenyataan bila disebut dalam fiksi menjadi fiktif sehingga namanya tidak tercemar.
Bagian paling penting yang termuat dalam esai Pak Sunaryono Basuki ini, dan saya sendiri masih terus terpikir akan hal ini sejak masa-masa Sekolah Menengah Pertama dulu setiap kali membaca novel, adalah apa perlunya dan apa relevansinya kalimat yang sering kita jumpai pada setiap lembaran awal novel: “Cerita ini hanya fiksi belaka. Bila ada nama-nama orang atau tempat yang kebetulan sama dengan nama tokoh dalam cerita ini, hanyalah kebetulan saja!”
Dapat dibayangkan bila setiap pemilik nama, baik nama orang maupun nama tempat, menganggap bahwa nama yang dipakai di dalam sebuah karya fiksi adalah namanya. Pengarang akan mengalami kesulitan, apalagi jika sang empunya nama sampai melakukan penuntutan karena namanya dicemarkan oleh sebuah fiksi. (Sastra Kita Numpang Nampang, 124).
Sebuah karya fiksi terpaksa tetap menyampaikan kalimat di atas bahwa kita sering menganggap karya fiksi sebagai sebuah potret dari kenyataan sehingga kita lantas mengira apa yang disebutkan dalam karya fiksi sama dengan apa yang benar-benar ada, ungkap Sunaryono. Kita juga tentu masih ingat kasus yang pernah terjadi di negri ini tentang reaksi terhadap puisi “Kandang Ayam” beberapa waktu lalu. Alasan ini juga mungkin kita gunakan untuk menafsirkan kehebohan yang terjadi di luar bingkai sebuah karya seperti yang terjadi pada film 2012 ini, dan juga pada banyak kasus lainnya.
Kemungkinan lain, hal itu disebabkan oleh ‘kesadaran dimanipulasi’ yang telah siap dalam diri kita sehingga membuat sebuah karya justru tidak ada manipulasi, sebagaimana diungkap oleh Zoest. Saya tambahkan bahwa kesadaran terhadap manipulasi ini bukan sebuah kesadaran yang utuh, tetapi dibauri oleh faktor lain yang boleh jadi berupa keingintahuan tentang sesuatu, rasa penasaran, mencoba untuk melihat sisi lain, atau bahkan terkait pula dengan kondisi psikologis, latar belakang, dan pengetahuan sang pembaca. Apa yang tersaji pun turut serta mengurai banyak hal yang ada pada dirinya sehingga terasa benar-benar nyata. Termasuk di sini, turut larut bersama kehebohan yang sedang berlangsung.
Risalah Sastra Seni
Saya memang tidak bermaksud untuk berbicara tentang kritik berdasarkan respons “reader-response criticism” yang tentu akan membawa kita kepada berbagai istilah terkait yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, sudah menjadi istilah yang sangat teknis, sementara di sini saya hanya ingin meminjam prinsip-prinsip umum yang bisa digunakan untuk menafsirkan fenomena dari sebuah film. Sebenarnya, sudut ini juga tidak kalah penting. Meskipun Derrida bukan kritikus dari aliran ini, penegasannya bahwa pembacaan adalah proses ‘pengalihan’ (penafsiran) jelas mendorong untuk memerhatikan respons pembaca dan menelitinya.
Pada sisi lain, saya sangat ingin memberikan tanda kutip pada pernyataan di atas bahwa fiksi adalah ladang bagi para pendusta, tapi urung teringat akan pernyataan kawan saya, Taufik Damas, bahwa justru pemberian tanda kutip seringkali gagal.
Meskipun demikian, di sini saya juga tidak bermaksud untuk mengajak masuk ke dunia Dekonstruktivisme yang terkenal dengan salah satu semboyannya “Tidak ada ‘kenyataan’ di luar teks”, seolah-olah ingin menepis ‘ladang para pendusta’, padahal menegaskannya, karena justru fiksi dan dusta (fiction and untruth) adalah ciri khas utama susastra menurut kaum Dekonstruktivisme.
Derrida memang pernah mengatakan, “Kita membentuk kesadaran terhadap diri dan alam melalui pencapaian kita terhadap gerak dinamis perbedaan dalam bahasa (differance) tanpa kebutuhan terhadap ‘kenyataan’ di luar teks atau konstruksi final mutlak di dalamnya yang seringkali menentukan (yakni, membatasi) proses dan pengaruhnya.”
Itu, yakni tidak ada referensi eksternal atau konstruksi internal, artinya, sebagaimana komentar Sallis, “Derrida mengajukan kepada kita bentuk bahasa yang selalu membutuhkan kesempurnaan dan kebersatuan tanpa akhir, tanpa sumber, tanpa tujuan, tidak tetap pada satu titik dan tidak diam selama-lamanya.”
…Derrida offers a non-full, non-unitary, open-ended-without-origin-or-goal, never-to-be-at-rest version of language. (Sallis J. Ed.: Deconstruction and Philosophy, 1987, p. 12)
Apa pun perdebatan seputar itu, Dekonstruktivisme pertama-tama adalah pandangan filosofis terhadap bahasa. Ala kulli hal, pembicaraan pun akan semakin melebar. Padahal, pada intinya saya hanya bermaksud bahwa pernyataan di atas itu semata-mata untuk menegaskan kembali makna fiksi yang sejatinya: ladang bagi para pendusta.
Dalam hemat saya, justru perbincangan lama yang diangkat oleh J.J. Rossoue lebih relevan dengan konteks ini. Perdebatan yang selanjutnya langsung atau tidak langsung turut berpengaruh dalam kemunculan dua aliran besar seni yang kita kenal dengan “Seni Untuk Seni” dan “Seni Untuk Kehidupan”. Relevansinya terletak pada apakah sebuah karya mesti memuat hal-hal yang bersifat mendidik, diisi pesan-pesan moral ataukah semata-mata sebuah karya sebagaimana adanya yang pada dasarnya adalah hiburan. J.J. Rossoue menegaskan bahwa para penonton teater itu berangkat ke gedung-gedung teater semata-mata bertujuan menikmati hiburan, bukan untuk menerima pesan-pesan atau materi pendidikan.
Dr. Mandur dalam bukunya “Fi al-Masrah al-Misri al-Muashir” tidak sepenuhnya membantah pernyataan Rossoue ini, bahkan saya merasa ia turut menegaskannya dengan mencoba mengesampingkan polemik yang terjadi. Dia menyatakan bahwa hal itu telah menjadi dasar dari seni yang tidak terbantahkan. Pertanyaan setelah itu adalah apakah seni mungkin untuk turut berperan dalam pendidikan dan perbaikan? (Dr. Mandur, Fi al-Masrah al-Misri al-Muashir, 41—44). Dengan kata lain, Dr. Mandur sebenarnya ingin menyampaikan, meskipun hiburan, tidak berarti karya menjadi hampa pesan, tanpa kredo.
Minimal, sebuah karya menampilkan kemungkinan-kemungkinan yang diangkat dari atau ditujukan kepada kehidupan manusia dari sudut pandang sang kreator. Para penonton atau pembaca dapat menerimanya sebagai sebuah gambaran kemungkinan, baik terkait dengan kehidupan personal maupun dengan kehidupan manusia universal. Secara tidak langsung, ia menjadi jalan untuk menyadari dan memahami kehidupan, seluk-beluk dan misterinya, dan bekal menghadapinya.
Sampai di sinilah bingkai seni. Apakah yang disajikan itu benar-benar terjadi atau tidak, itu sudah bukan lagi menjadi bagiannya; sudah diserahkan sepenuhnya kepada pembaca atau penonton dengan segala kesan yang menyertainya. Bahkan, berangkat dari konsep yang diuraikan oleh Prof. Dr. Izzuddin Ismail dalam kuliahnya di Institute of Arabic Studies and Research dengan tema “Dialektika Kreasi dan Posisi Kritik”, seorang kreator pun terhadap karyanya sendiri berada pada posisi yang sama dengan pembaca setelah ia menyelesaikan dan menyajikannya kepada publik. Dalam kutipan yang saya ringkas, diungkapkan oleh Breskman, “… yakni ia pada akhirnya melewati dirinya sendiri.” (Joseph Margolis: Emergence and Creativity – in Mitias, 1985, 13).
Pemaparan ini lebih spesifik termuat dalam pembicaraan yang berkaitan dengan dialektika kreasi pada seorang kreator dalam konteks dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sifat futuristik yang lahir dari suatu kesadaran tinggi terhadap realitas kekinian, berkaitan dengan dorongan dan pengalaman dialektis masa lalu yang kuat, menyajikan suatu kemungkinan demi masa depan yang lebih baik, sang kreator dengan ketajaman pada apa yang ia sajikan kemudian mendapatkan sematan sebagai sang visioner.
Pada film 2012 ini, bagian paling penting yang ingin disampaikan sebenarnya bukanlah kejadian dahsyat itu benar-benar akan terjadi. Ini adalah sebuah film, sebuah karya, yaitu dunia rekaan untuk menghadirkan suatu kemungkinan. Pada prinsipnya tidak keluar dari koridor apa yang disebut oleh Sunaryono Basuki sebagai ladang para pendusta. Dalam karya, peristiwa itu merupakan bagian penting yang biasa disebut klimaks agar serentatan pesan yang dihujamkan dari jalinan kisah membangunkan kesadaran manusia terhadap banyak hal yang terkait dengan peristiwa puncak. Maka, sentakan-sentakan yang ia antarkan ke dalam benak dan kesan mampu bertahan hingga beberapa waktu, bahkan dalam tempo yang cukup lama.
Keluar dari bingkai sastra-seni walaupun tidak sepenuhnya benar-benar keluar, sang sutradara telah mendahului pesan utama dengan kesadaran personalnya sendiri di mana keperluan akan taman, serta perhatian terhadap lingkungan dan alam telah menjadi hal yang asing bagi masyarakat modern. Ia membangun sebuah taman di Hollywood yang dalam komentarnya menyatakan ingin mengembalikan kejayaan Hollywood era 30—50-an di mana kemampuan finansial, ambisi, dan prestis sosial dilambangkan dengan kemegahan taman. Inilah kaitannya dengan kisah kebetulan saya di atas meskipun itu hanya salah satu dari kemungkinan banyak pesan yang ingin disampaikannya.
Itu juga menunjukkan bahwa sang kreator berproses secara sadar dengan realitasnya, baik berkenaan dengan dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan, apalagi mengingat Amerika Serikat merupakan negara penyumbang gas rumah kaca (disusul Cina dan India) dan polutan terbesar di dunia dan mengonsumsi sepertiga sumberdaya alam di seluruh bumi, sementara pada saat yang sama negara tersebut selalu menolak untuk menandatangani Protokol Kyoto.
Ada proses dialektis yang melahirkan karya memukau, didukung oleh ketepatan konteks dan kesadaran kekinian realitas masyarakat, di samping hal-hal yang bersifat teknis, lalu pada akhirnya memunculkan kehebohan yang mampu melewati dirinya sendiri merambah banyak ruang dalam diri dan kehidupan manusia.
Kebebasan Ekspresi dan Universalitas Karya
Fiksi sebagai ladang dusta tentu saja membutuhkan kemampuan spesifik dalam kreasi, imajinasi, dan olah emosi agar benar-benar nyata dan dapat diterima. Tidak ada batasan dalam hal ini selain kemampuan itu yang pada dasarnya bersifat individual dan subjektif, karena seni itu sendiri bersifat lintas waktu, tempat, ras, dan agama. Ekspresi pun harus bisa bebas, tanpa hambatan, tekanan, atau paksaan.
Prof. Dr. Sayyid Iraqi dalam kuliahnya di Universitas al-Azhar pada Sastra Perbandingan menyebutkan bahwa sifat ini (yakni umum dan universal) justru merupakan salah satu tolok ukur nilai dan keberhasilannya, selain kesahihan dorongan, sifat aktif dan efektif, keberlangsungan (bertahan, pengaruh, kesan), dan keluhurannya.
Meskipun demikian, tidak berarti seorang penulis fiksi atau pembuat karya bebas secara total untuk membentuk dunia rekaannya. Pada satu sisi, tidak semua materi atau emosi berada dalam satu posisi yang sama dari segi kelayakannya untuk seni. Sebagian ada yang dapat mengangkat nilai karya dan sebagian justru bisa menjatuhkannya ke tingkat yang rendah. Hal ini penting karena tidak terbantahkan bahwa salah satu parameter utama bagi nilai seni adalah keluhurannya, “Ia menjadi rendah karena mengusung emosi rendah dan luhur dengan keluhurannya.” (Muhammad Gunaimi Hilal, Kritik Sastra Modern: 399 dan 491).
Pada sisi lain, ia juga tentu saja harus memerhatikan setiap hal yang terkait dengan dunia realitas karena di sanalah ada kaitan pesan atau jalinan kisah yang ingin ia sajikan, khususnya pada aspek yang sudah erat ada dalam memori kolektif masyarakat atau objek-objek ilmiah, baik sifatnya paparan atau informasi yang mengikat jalinan kisah atau menjadi target pesan yang ingin disampaikan. Lebih-lebih jika kisah tersebut berangkat dari ruang sejarah. Setidaknya, karya tidak perlu menuai polemik dan protes di luar bingkainya sekalipun hal ini juga erat berkaitan dengan kematangan seni para penerimanya.
Karena itu, seorang penulis atau kreator mestilah mempersenjati diri dengan fakta-fakta, ketersediaan literatur, riset, dan kajian untuk objek yang berkaitan. Jika tidak, seumpama Langit Kresna Hariadi pun harus meminta maaf yang ia sampaikan dalam pengantar novelnya “Gajah Mada; Bergelut dalam Kemelut Takhta Angkara” (Tiga Serangkai Solo, 2006) karena kekeliruan pada buku pertama yang berjudul “Gajah Mada”.
Misalnya, tertulis dalam buku-buku sejarah bahwa pada saat pemberontakan Ra Kuti terjadi, Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara menyelamatkan Sri Jayanegara ke Bedander. Penulis terlanjur menulis ke Kudadu. Terbunuhnya Sri Jayanegara bukan pada saat pemberontakan terjadi, tetapi pada tahun 1328, sementara pemberontakan Ra Kuti terjadi tahun 1319. Ada selisih waktu 9 tahun. Hal lain yang juga dikemukakan adalah kematian Lembu Anabrang yang pada buku pertama disebutkan masih hidup saat pemberontakan Ra Kuti, padahal ia telah tewas dalam meredam pemberontakan Ranggalawe di Tuban.
Belajar dari pengalaman itu, buku kedua ditulis dengan lebih berhati-hati dan diperkaya dengan kajian terhadap fakta sejarah. Dari sini kita juga bisa belajar bagaimana seorang penulis atau kreator pada umumnya mengolah sebuah karya. Kebebasan dan keleluasaan yang tidak begitu saja, tetapi adalah dengan tidak mengabaikan banyak aspek penting, internal maupun eksternal, sekalipun kebebasannya haruslah tetap terjamin.
Lalu, universalitas yang dimaksud tidak berarti setiap karya harus mengambil tema dan latar yang bersifat mendunia. Tidak sedikit karya yang demikian, tetapi pada akhirnya gagal; tanpa mengabaikan karya yang juga berhasil. Sebaliknya, cukup banyak karya yang berangkat dari tema atau latar lokal justru mendapat tempat secara luas. Kita bisa mengambil contoh apa yang berlangsung akhir-akhir ini. Laskar Pelangi, misalnya.
Berkaitan dengan hal ini, istilah Babe JJ. Kusni dalam banyak tulisan yang dikirim ke berbagai milis: “Berpijak di bumi merangkul dunia.” Jadi, universalitas sebenarnya lebih ditekankan pada pesan, nilai, dan emosinya. Hal itu juga sangat berperan dalam menentukan kemampuannya untuk menembus batas ruang dan waktu.
Secara sederhana, dari sini kita bisa mengukur kehebohan film 2012 ini. Temanya adalah kehancuran dunia, akhir dari sebuah kehidupan, atau dalam istilah yang lebih umum: kiamat. Sebuah tema yang universal; telah ada dalam kehidupan manusia dari berbagai dimensinya: waktu, tempat, dan keyakinan; terpendam jauh di alam bawah sadar yang sewaktu-waktu hadir ke permukaan dan kemunculannya pun selalu memicu misteri yang tidak pernah terjawab karena sudah mendapatkan ketetapan sebagai rahasia Tuhan. Sudut ini saja sudah lebih dari cukup untuk menyajikan ironi dan tragedi sekaligus: ironi dan tragedi kehidupan manusia.
Tema bersifat universal dan pada saat yang sama membangkitkan emosi universal, bertepatan dengan realitas kekinian di mana kehancuran dan akhir kehidupan mulai mengusik kesadaran manusia, perlahan menghiasi berbagai ruang kehidupan dalam skala luas, dipicu oleh banyak hal seperti bencana-bencana, krisis energi, pemberangusan hutan hingga jutaan hektar, kehancuran ekosistem, polusi yang mencapai taraf puncak, rusaknya lapisan ozon, emisi gas bumi, efek rumah kaca, mencairnya es di Kutub Utara hingga ratusan kilometer, pemanasan global, perubahan iklim. Istilah demi istilah muncul saling susul. Pertanyaan besar yang sebenarnya adalah apa sikap manusia untuk kehidupan selanjutnya?
Imajinasi Dalam Karya
Pengaruh film ini dapat kita lihat bagaimana orang-orang mulai membongkar berbagai literatur, informasi, dan hasil riset yang berkaitan dengan 2012. Pada banyak aspek, hal ini bisa membuka kesempatan. Katakan saja buku-buku yang selama ini hanya menghiasi rak-rak, atau apa saja bertema serupa. Bahkan, banyak hal kemudian dengan begitu saja terkait dengan 2012. Lebih dari itu, di negri ini fatwa pun keluar.
Salah satu yang mencuat adalah hasil ramalan suku Maya yang ditemukan pada sebuah prasasti dan berbagai objek studi tentang ramalan itu: pro dan kontra, pernyataan dan bantahan. Di samping itu, ada juga penelitian yang memperkirakan terjadinya badai Matahari sebagaimana keterangan Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana,
Fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.
Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, menjelaskan bahwa badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima, adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.
Ini adalah beberapa hal penting di luar bingkai seni. Pada dasarnya tidak ada informasi tentang kiamat, kecuali barangkali beberapa buku atau produk lain yang coba mengulas tema terkait, didukung dengan fakta-fakta objektif yang menggejala pada tahun-tahun belakangan ini. Demikian, tidak bisa kita salahkan pula anggapan bahwa pengaitannya dengan kiamat lebih berupa sensasi atau orientasi pasar. Arnold Matthew, dan Coleridge sebelumnya, pun kalau begitu harus sadar bahwa power of the moment dan power of the man saling berperan, sekarang ini, tidak lagi semata dalam kreasi sastra seni.
Dari dalam bingkai seni, justru ini menjadi salah satu parameter keberhasilan sang kreator dalam olah imajinasi dan ketepatan dalam menentukan klimaks dari rajutan kisah yang saling bertaut satu sama lain. Ia tidak membuat-buatnya begitu saja, karena klimaks itu sendiri telah ada dalam kesadaran manusia.
Dengan mengesampingkan bentuk dan kekuatannya, kira-kira adakah perbedaan dengan Pygmalion yang mengimpikan wanita cantik, jujur dan setia, penuh cinta dan kasih sayang. Dia memahat kayu, membuat sebuah patung wanita tercantik, bersama dengan impian dan harapannya. Atas izin para dewa, patung itu pun menjelma menjadi perempuan yang sebenarnya. Persis pula dengan harapan dan impian. Mereka hidup dalam cinta dan kasih sayang. Sekembalinya dari kebun, pada suatu hari, betapa terkejut Pygmalion. Perempuannya ternyata berselingkuh dengan pemuda lain. Akhirnya, ia pun kembali kepada kehidupannya semula.
Dalam kritik sastra modern, imajinasi merupakan unsur penting dalam karya, baik apakah berbentuk interpretatif, produktif, atau generatif, khususnya setelah diposisikan oleh Immanuel Kant sebagai sumber kekuatan manusia. Sebelum itu, imajinasi dianggap tidak perlu, bahkan harus dijauhi karena tidak menghasilkan kecuali gagasan-gagasan yang hampa dan kekanak-kanakan. Arestoteles menyandingkannya dengan ilusi (fallacy) dan menyatakan penting kendali akal terhadapnya.
Berkat Kant, imajinasi semakin diperhatikan, dikembangkan secara luas oleh para penganut Romantisisme. Berbagai teori imajinasi muncul. Kajian terhadap jenis, pola, dan proses menjadi tema hangat. Dalam kesempatan ini, dua hal penting berkenaan dengan imajinasi yang ingin saya kemukakan di sini.
Pertama, disebutkan sebelumnya bahwa fiksi adalah ladang bagi para pendusta, imajinasi justru menegaskan keharusan dusta. Jika tidak, sebuah karya mungkin akan lebih tepat untuk disebut berita, reportase, dokumentasi, laporan, atau sebutan lainnya. Keharusan dusta itu bukanlah persoalan besar, karena justru di situ letak kekuatannya. Imajinasi justru berbahaya jika memasuki ruang lingkup kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK, anggota DPR, atau ruang kehidupan nyata lainnya.
Dengan imajinasi, seorang kreator yang ingin menggambarkan sebuah taman di Jakarta, misalnya, bisa saja mengambil jenis bunga dari Afrika atau Brazil, atau dari Planet Mars sekalipun. Ia juga bisa membuat tokoh cerita seorang laki-laki sangat sempurna, digemari oleh para wanita cantik hingga mengejarnya ke ujung dunia; atau seorang perempuan cantik tiada terkira, tinggal di Jakarta, menjadi rebutan semua laki-laki yang ada di dunia sehingga tidak ada lagi ruang kosong di Jakarta. Semuanya penuh sesak oleh ragam bentuk laki-laki: kurus, gemuk, ceking, tinggi, rendah, gundul, gondrong, putih, hitam, coklat, sawo mentah, sawo matang busuk, dan seterusnya.
Kedua, imajinasi tidak pernah bisa berangkat dari ruang kosong, tidak akan pernah berasal dari kata ‘tidak’ sendirian, bahkan pada bentuk yang kita sebut fantasi sekalipun. Pada saat yang sama, tidak ada ukuran yang dapat dijadikan bingkai untuk memetakan batas ruang dan lingkupnya, dan barangkali karena itu ia dijauhi sebelum era Kant: dianggap liar. Imajinasi benar-benar bebas sebebas kemampuan kreasi untuk menjangkaunya.
Dengan demikian, kita pun bisa memahami bahwa pada dasarnya unsur-unsur di luar konstruksi karya adalah bahan-bahan yang ditemukan, terhimpun, dan resap dalam ruang benak, perasaan, emosi, pengetahuan, pikiran, latar belakang, dan pengalaman subjektif; diambil, dikumpul, dibongkar pasang, dicampur aduk, ditapis, ditepis, ditambah, direka, disusun, dan diolah dengan ‘semaunya’ oleh kemampuan imajinasi. Kemudian, hasil akhir disajikan kepada publik.
Sementara itu, dari sisi imajinasi yang lain: bebas dan luas, bukan hal yang aneh bahwa kiamat terjadi, besok sekalipun. Seandainya ada yang lebih hebat, lebih seru, lebih emosional, dan lebih menggemparkan daripada apa yang ada dalam film 2012, Roland Emmerich pun mungkin saja akan menyajikannya.
Akhirnya, saya merasa judul tulisan ini menjadi tidak tepat karena saya pun ikut heboh bahwa kehancuran dan tragedi dahsyat dari kehidupan manusia itu rupanya telah terjadi. Kiamat memang benar-benar telah terjadi. 2012.
Tags: 2012, fiksi, film, karya seni, kiamat










