Kayu Batara: Untuk Kanker Payudara, Kanker Rahim, Diabetes, dan Ginjal
13 December 2009 – 11:54 am · diperbarui: 1 Jan 2010
Sekitar dua minggu yang lalu, kayu Batara kiriman ayah tiba. Hanya ada lima bungkus. Dua bungkus sudah dipesan oleh seorang teman untuk putrinya yang ditakutkan mengalami gejala serupa dengan almarhumah ibunya. Sekarang saya simpan saja tiga bungkus yang sisa, barangkali ada lagi yang akan membutuhkannya.
Namanya cukup asing bagi saya, bahkan ini pertama kali saya mendengar pohon yang bernama Batara. Kata ayah, pohon ini kemungkinan hanya ada di rimba Kalimantan, lebih spesifik di kawasan Barito Utara. Nama-nama yang asing dan aneh itu bukan hal yang mengejutkan karena selama ini sudah sering hal seperti itu saya jumpai.
Misalnya, suatu kali saya sedang berada di kawasan Teweh Timur. Tepatnya di desa Benangin yang ternyata juga merupakan asal-muasal para leluhur saya dari garis ayah. Selama di sana saya sempat berjumpa dengan beberapa orang kakek saya dan para sepupu. Sebelum berangkat, ayah bercerita bahwa di sana ada sebuah pohon yang oleh orang-orang disebut dengan Sangserot. Pohon ini aneh. Setiap burung yang hinggap ke pohon itu tidak bisa terbang lagi. Mati di situ. Karenanya, di bawah pohon penuh bulu-bulu burung yang bertebaran.
Saya ingin mendapatkan kayu ini, tetapi gagal, karena lokasinya jauh dari desa Benangin dan terletak di atas perbukitan yang curam. Bukit ini bernama gunung Angah yang kebetulan juga dimiliki oleh keluarga. Hak kepemilikan masih dipegang oleh sepupu kakek. Sekarang ini, kawasan tersebut menjadi incaran perusahaan-perusahaan besar walaupun statusnya sudah dijadikan cagar alam oleh Pemerintah RI. Saya mendapatkan informasi itu dari adik saya, Adi Suwarman, yang suatu kali ‘ngotot’ ingin ke bukit Angah dalam rangka ziarah ke makam Malik Kertasari, leluhur saya yang pertama kali memeluk Islam.
Adik saya sendiri mendapatkan cerita dari kepala desa Benangin III dan kepala desa tersebut tetap teguh untuk tidak membiarkan kawasan itu dieksploitasi. Adik saya juga mengatakan bahwa kepala desa yang bernama Udin itu bisa jadi merupakan bagian keluarga pula karena dia tahu persis kisah-kisah para leluhur saya dan kawasan itu.
Ceritanya, adik saya bersama rombongan dari STPDN sekitar 5—7 orang bertujuan berkemah di sana. Karena medan yang sangat sulit dan sepeda motor sudah berkali-kali jungkir-balik, teman-temannya mengajak pulang. Namun, adik saya ‘ngotot’ untuk meneruskan perjalanan, dengan jalan kaki. Sambil bercerita-cerita dengan kepala desa yang menemani perjalanan, kepala desa itu pun berujar, “Itu makam keluargamu. Pantas saja dari tadi ‘ngotot’ untuk jalan terus.”
Puncak bukit Angah sendiri tidak bisa didaki. Sulit. Pohon Sangserot yang saya ceritakan itu tumbuh di atas sana. Hanya bulu-bulu burung yang banyak bertebaran di bawahnya.
Lain lagi dengan Batara. Saya benar-benar asing dengan pohon ini. Ramuan yang sampai kepada saya pun sudah dalam bentuk pecahan kayu sehingga sulit untuk bagi saya untuk membayangkan bentuknya. Konon, kata ayah, sepuluh tahun yang lalu, sampel kayu ini dibawa ke Jepang untuk diteliti dan rencananya akan dijadikan bahan obat yang bisa digunakan secara luas.
Sayangnya, pohon itu sendiri sangat sedikit dan sulit untuk mendapatkannya. Untuk mendapatkan itu, ayah sendiri meminta bantuan orang dayak di pedalaman. Tidak usahlah pohon yang memang sejak awal langka seperti Batara dan Sangserot ini, pohon-pohon obat lainnya pun sudah sulit didapatkan. Hutan rimba sudah mulai tandus. Saya menyaksikan sendiri semua itu, khususnya ketika saya berkesempatan ke pedalaman.
Perusahaan-perusahaan itu memang kurang ajar. Pohon-pohon besar yang mereka tebang dibawa dengan cara digelindingkan. Rel-relnya pun dibuat dari kayu-kayu itu pula yang disusun lurus berjejer hingga ke sungai, untuk dibawa lagi dengan cara dilarutkan dan dikendalikan oleh kapal-kapal. Ramuan yang sifatnya daun dan pohon jelas banyak yang mati karenanya. Dalam dunia yang semakin maju, semakin canggih pula cara mereka merusak.
Sekarang ini, perusahaan kayu ditambah dengan batu bara dan tambang. Jika sebelumnya pohon obat yang mati dan habis, sekarang akar obat pun banyak yang habis. Dahulu di atas saja, sekarang sudah sampai ke bawah-bawahnya. Puluhan tahun yang lalu, orang-orang asing itu berebut untuk mencatatkan paten pohon-pohon obat ini, sekarang peran mereka digantikan oleh perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh modal asing pula.
Jangan heran kalau sejenis Batara ini sangat sulit untuk didapatkan. Pasak bumi yang banyak saya bawa ke Jakarta untuk keperluan sendiri dan sebagian saya bagikan untuk kawan-kawan bisa saya dapatkan karena mengambil dari tanah milik sendiri. Padahal, besar sekali manfaat kayu-kayu ini dan selama ini orang-orang mampu berobat dengan cara yang sangat sederhana.
Cobalah Anda tanyakan kepada para ahli herbal di seluruh Indonesia, adakah di antara mereka yang mengenal nama pohon ini: Batara? Saya tidak yakin. Kegunaan kayu Batara ini jelas saya ungkapkan pada judul tulisan: untuk pengobatan kanker payudara, kanker rahim, diabetes, dan ginjal. Hanya bedanya dengan beberapa kayu lain, menggunakan kayu ini untuk pengobatan penyakit di atas ada pantangannya, yaitu tidak boleh memakan sambal (cabe) dan tidak mengonsumsi jeruk nipis dalam bentuk apa pun selama masa pengobatan. Sederhana saja, kan?
Cara penggunaannya sendiri sederhana. Satu bungkus ramuan direbus dengan air sebanyak enam gelas sampai mendidih. Ketika mendidih, harus langsung diangkat. Kemudian biarkan terendam sampai beberapa jam baru diminum. Lebih spesifik, ayah menjelaskan begini: sebaiknya direbus pada sore atau malam hari dengan enam gelas air. Ketika mendidih, langsung diangkat, dan dibiarkan. Kemudian diminum pada waktu pagi keesokan harinya. Lakukanlah hal yang sama selama enam hari untuk satu bungkusnya.
Di Muara Teweh, satu bungkusnya dihargai Rp50.000 sampai Rp100.000 yang disana lebih disebut sebagai syarat, yakni upah pencarian saja. Jangan dibayangkan bahwa di sana sendiri ada di toko-toko, di emperan, atau ada yang berjualan secara resmi. Cari saja, tidak akan ada, karena memang caranya untuk kayu-kayu yang sulit seperti ini kita memesan kepada orang dayak pedalaman yang kita kenal. Itulah salah satu keuntungan ayah, banyak kenal orang-orang dari pedalaman selain mengetahui jenis-jenis kayunya.
Beda halnya dengan jenis-jenis yang sudah umum, ayah biasa mengambil sendiri dan kebetulan tanahnya juga milik sendiri. Bahkan, mama rajin menanam beberapa jenis yang tampaknya sudah langka dan tidak mungkin diharap lagi untuk tumbuh sendiri. Sebut saja, misalnya, pohon Penawar Seribu dan Sankareho. Cangkokan Sankareho pernah ayah bawa ke UT sewaktu wisuda tahun lalu. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lebih jauh.
Karena itu, saya sendiri berkali-kali bilang kepada ayah agar tanah-tanah itu dibiarkan saja. Kalau toh rencananya ingin ditanami karet, saya yakin hal itu masih bisa diupayakan tanpa mematikan pohon-pohon itu. Namun, entahlah nantinya karena bagaimanapun ayah dan mama tentu punya hak penuh dan lebih tahu daripada saya apa yang seharusnya mereka lakukan.
Tags: Batara, Diabetes, Ginjal, Kanker, Pasak Bumi, Ramuan












