Tuesday, 21 June 2005 | 2,086 views
Pada 27 Desember 1859, kapal perang ONRUST ditenggelamkan oleh pasukan Soerapati. Semua awak kapal yang berjumlah 50 orang tewas, termasuk Letnan Satu Infanteri/Gezaghebber Marabahan Bengert dan Komandan Onrust Letnan Satu Laut JCH van de Velde.[@more@]
Pembahasan tidak dapat segera dilakukan oleh Belanda. Angkatan Laut Hindia Belanda sibuk dalam Perang Bone (Celebes) ke-2 yang berlangsung pada 1858-1860. Dendam Belanda dilampiaskan setelah 17 bulan, dimulai dengan Ekspedisi Montalat yang pertama.
Berikut terjemahan ringkas catatan yang dibuat anggota ekspedisi JMCE Le Rutte, seorang perwira kesehatan yang bertugas menangani korban tewas, luka dan sakit yang kemudian dibukukan dan diterbitkan.
Catatan sangat terperinci melaporkan setiap kejadian dan pengalaman setiap hari selama ekspedisi untuk melumpuhkan benteng pertahanan Antasari-Soerapati sekitar perairan Sungai Montalat, yang berdiri dengan kukuhnya di Gunung Tongka menghadap Sungai Teweh di hulu Sungai Barito. Lokasi yang jauhnya sekitar 300 tiga ratus kilometer dari Banjarmasin. Di puncak benteng, dengan megah berkibar bendera Kuning.
Dalam bagian Pengantar buku yang berjudul Expeditie tegen de Versterking van Pengeran Antasari, gelegen aan de Montalat River, ia bercerita. "Selama bermukim di mandala-perang di wilayah selatan dan timur Borneo, saya mendapat kehormatan untuk setia dalam beberapa penjelajahan. Di antaranya ke Tanah Laut (10-24 Desember 1859) di bawah pimpinan Mayor GM Verspyck, Kampung Balaih (3-10 Maret 1860) di bawah Kapten WB Graas, Kampung Ambawang (3-10 Maret 1860) dan kubu pertahanan Batumandi, Pirenging (Paringin) dan Kasambe (Kusambi) apda 7-17 Oktober 1860. Dalam pertempuran ini, saya berkesempatan mengamati perilaku si prajurit dalam berbagai situasi. Tetapi, tidak ada yang melebihi Ekspedisi Montalat, yang lebih berbahaya, lebih mencekam dan lebih berpenderitaan, yang habis-habisan menguras ketahanan dan pengorbanan di prajurit. Yang saya tulis ini apa adanya, apa yang telah saya lihat dan saya alami. Tidak melebih-lebihkan, tidak membesar-besarkan, apalagi menonjolkan diri saya sendiri."
Beberapa Catatan Penting
Kekuatan Benteng Gunung Tongka. Pada 28 Maret 1861, seorang anak buah Soerapati tertangkap dalam tugasnya untuk membunuh seorang kepala kampung di daerah Tamiang Layang. Dari tawanan ini diketahui, telah sejak dua bulan Antasari membangun sebuah benteng pertahanan yang kuat; jumlah pasukan tetap, persenjataan termasuk yang dijarah dari kapal Onrust, logistik yang selalu cukup.
Di benteng ini tinggal pula sejumlah pemimpin penting. Di antaranya: Pangeran Antasari, keturunan dari Pangeran Muhammad dan yang berhak atas tahta Kerajaan Banjarmasin setelah Pengeran Hidayat diasingkan. Pangeran Antasari disertai tiga putra dan delapan putrinya; Pembakal Melingkan, pimpinan dari daerah Kurau; Gusti Umar; Gusti Laun; Tumenggung Mangkusari; Tumenggung Genteng; Haji Matarip yang membunuh Nacestleur –komandan Marabahan– pada 13 Januari 1849. Bertahun-tahun lalu, ketika diminta untuk menyerahkan Haji Matarip, Tumenggung Soerapati melaporkan bahwa ulama ini telah meninggal; Tumenggung Toendan; Tumenggung Taib yang bermuka dua dalam peristiwa Onrust; Beberapa pemimpin rendahan, di antaranya Wangkang –orang pertama yang memulai pembantaian di kapal Onrust. Ayah Wangkang, pembakal Kendet yang dikenakan hukuman gantung oleh pengusaha Belanda pada Maret 1825 di Banjarmasin. Wangkang bersumpah di bawah kitab suci Alquran untuk membalas dendam kematian ayahnya itu.
Di Benteng Gunung Tongka ini pula tempat berhimpun dan bersembunyi pemuka perlawanan. Benteng Gunung Tongka ini memang kuat dan strategis lokasinya.
Rencana Penyerangan Mayor Verspyck
Informasi pembangunan Benteng Gunung Tongka menjadi dasar rencana ekspedisi Montalat. Dalam strategi Mayor Verspyck, pengempungan dilakukan dari tiga arah:
1. Dari utara, pasukan Kutai yang berkekuatan 2.000 orang dipimpin Sultan Kutai, bersama Asisten Residen Dharmen dan Letnan A de Brauw
2. Dari selatan -Banjarmasin, Marabahan- kapal-kapal perang Celebes, Boni, Mengkatip dan kapal uap Kapitein van OS memudiki Sungai Barito didukung oleh pasukan orang Bakumpai berkekuatan 350 orang.
3. Kedua pasukan tersebut bergerak atas berita dari pasukan yang mengambil jalan pintas melalui darat dari Tamiang Layang ke barat menuju Buntok.
Di bawah pimpinan Mayor Infanteri CA Schuak yang tiba di Benteng Tamiang Layang pada 8 Mei 1861, ekspedisi ini diperkuat 568 orang. Dengan perincian; 142 anggota pasukan militer, pasukan pendukung yang terdiri atas 224 orang Dayak Sihung dan 176 orang dari Dayak Patai, 26 tahanan/perantaian dan pekerja paksa.
Pasukan pendukung yang diberi upah f 25 (setali atau 25 sen) per hari, berstatus noncombatant, bukan pasukan tempur. Mereka tidak diberikan bedil, tetapi masing-masing membawa sendiri senjata tradisional. Tugas pasukan pendukung ini adalah pemandu, pemikul barang, melayani ambulans, perintas jalan di hutan lebat dan belukar.
Sementara militer pasukan combatant terdiri atas perwira Belanda dengan orang-orang Jawa sebagai soldadu. Juga ada pasukan belakang dari orang-orang Bugis dengan tugas untuk -setelah direbut- membumihanguskan semua kubu dan rumah di sekitarnya. Juga membabat pohon buah-buahan, merusak pehumaan dengan terlebih dahulu mengumpulkan bahan logistik yang tertinggal seperti bahan makanan, ternak dan lainnya untuk menambah sisa persediaan.
Perjalanan kembali pasukan Verspyek ini direncanakan melalui sungai di tempat perjanjian dengan Kapal Perang Boni.
Gagal
Ekspedisi pertama ini gagal, dalam arti tidak mencapai tujuan/objective yakni menaklukkan Benteng Gunung Tongka dan menangkap Pangeran Antasari serta pemimpin perlawanan lainnya.
Faktor yang menggagalkan itu ialah: penghadangan dan penyergapan oleh pasukan Antasari sepanjang perjalanan siang dan malam; pembelotan di antara pasukan pendukung yang bergabung dengan Antasari; tertawannya sejumlah kuli pasukan pendukung. Tawanan ini dipekerjajan di ladang atau dijual dengan harga f 60 (60 gulden) tiap orang, sebagian besar berhasil lolos dan kembali ke pasukan Mayor Schuak; luas dan berbahayanya medan yang ditempuh seperti hutan, belukar, sungai, lumpur, jebakan; kapal perang tidak berani mudik terlalu jauh, sebab belum mengetahui kedalaman alur sungai yang dapat dilayari, pasang surut yang belum dipelajari, di beberapa bagian tertentu di sungai ditebarkan gelombang dan cabang berdaun sebagai barikade yang membahayakan; anggota pasukan yang tewas, terluka, sakit dan kelelahan menjadi beban; logistik yakni kehabisan bahan makanan karena tenggelam dibawa pembelot, membusuk; untuk menghindarkan lebih banyak korban.
Kerugian militer Mayor Schuak adalah tujuh orang tewas, 20 luka-luka, tujuh meninggal karena kelelahan dan satu orang meninggal. Sedangkan dari sebanyak 19 orang, yakni 11 orang Dayak Sihung tewas dan delapan dari Dayak Patai luka-luka. Namun tidak diketahui angka kerugian Pangeran Antasari.
Faktor kegagalan ekspedisi pertama ini tentu diperhitungkan dalam ekspedisi berikutnya. Belanda bertekad untuk menaklukkan Benteng Gunung Tongka dan mendapatkan Pangeran Antasari, hidup atau mati.
Pasukan Antasari meninggalkan Benteng Gunung Tongka. Sementara Pasukan Sultan Kutai dan Pasukan Bakumpai tidak diperlukan dalam ekspedisi ke-3 ini.
Menerima berita bahwa benteng pertahanannya akan diserang lagi, pada 5 November 1861 Pangeran Antasari menghimpun 24 pemimpin perlawanan dan 760 pengikut. Tidak seorang pun meninggalkan banteng apabila diserang dan yang mengabaikan larangan ini dihukum mati.
Serangan Belanda dilakukan pada 8 November 1861. Tumenggung Macan-Alas, pendamping Pangeran Antasari yang berani, ketika membidikkan bedilnya kepada Komandan Van Vloten, ia juga tertembak di kepala hingga terlempar ke dalam benteng.
Seorang Bakumpai yang dudu
k di belakang Antasari, tewas terkena peluru menyasar (ricochet). Namun sebelum mengenainya, peluru menyerempet di leher Antasari yang menyebabkan luka dan berdarah. Luka tembak yang dialami Van Vloten, akhirnya membawa ajal bagi komandan ekspedisi itu.
Menjelang malam beberapa orang dayak anak buah Soerapati melihat pasukan Belanda tidak mundur dan tetap bertahan mengepung. Orang-orang Dayak itu khawatir akan digempur kembali esok harinya. Ketika malam waktu memasak, mereka berusaha lari dengan memanjat pagar keliling. Yang lain mengira, pemanjat pagar itu penduduk dari ekspedisi yang menyerbu. Kepanikan pun terjadi. Semuanya lari menuju Kampung Tumbu. Ke kampung ini, beberapa hari sebelum penyerangan pasukan Van Vloten, Antasari mengungsikan perempuan.
Esok harinya 9 November 1861, benteng yang kosong itu dimusnahkan setelah senjata dan logistik yang tertinggal diamankan.
Tetapi Antasari tidak pernah tertanggap. Setelah meninggal karena sakit, perlawanan masih dilanjutkan oleh keturunannya Pengeran Muhammad Seman dan Wanita-Pahlawan Ratu Jaleha. Pangeran Antasari diberi anugerah gelar Pahlawan Nasional Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 27 Maret 1968 No 06/tki/Tahun 1968
Semua yang ditulis dalam buku Sejarah Nasional, yang direkam dalam Ensiklopedia Indonesia tentang pertempuran dan perlawanan Perang Banjar yang pertama di Indonesia selama 47 tahun. Dibanding dengan perlawanan serupa yang terjadi di daerah lain seperti Perang Saparua, Perang Palembang, Perang Paderi, Perang Jawa, Perang Ambon dan lainnya, Perang Banjar hanya ditulis beberapa baris. Di antaranya pada 1636 yakni kedatangan pertama Belanda di Banjarmasin; 1859-1863 terjadi Perang Banjarmasin; 1900-1905 Perlawanan Kalimantan Selatan berakhir.
Oleh : M Suriansyah Ideham
Wakil Ketua Lembaga Budaya Banjar Kalsel, tinggal di Banjarmasin
Posted in Arsip | No Comments »