Aman ngeBlog _mestinya_ ngeBlog Aman *** Peace is Worth Everything We Pay.

Indowebmaker Web Design

Archive for the ‘Intermezzo’ Category

Apa Tugas Utama Anggota Dewan dan Para Caleg?

Tuesday, 26 August 2008 | 1,045 views

Sudah sejak dua minggu ini saya, Mbak Yayat, dan Mbak Henny berencana ingin bertemu dengan Indra J. Piliang. Hal ini tidak lain karena ada naskah beliau yang masuk ke meja redaksi dan sedang dalam proses review. Kebetulan naskah tersebut berbicara tentang Semiotika, dan saya yang bertugas melakukan review-nya. Namun, hingga kini rencana tersebut belum juga terlaksana. Barangkali ini disebabkan kesibukan Indra J. Piliang yang semakin meningkat, apalagi ketika menjelang Pemilu 2009. Selain itu, tim editorial juga sedang mengalami load naskah yang cukup banyak sehingga beberapa proses menjadi lamban penyelesaiannya.
Baca selengkapnya »

Berbagai Macam Pancasila

Friday, 18 March 2005 | 1,397 views

Pancasilo (padang)
(lambang-2 dalam pancasila)

ciek: Bintang Basagi Limo
duo: Rantai pangikek kudo
tigo: pohon baringin gadang tampek kito bacinto
ampek: kapalo banteng angek garang
limo: padi jo kapeh tampek kito mancari sasuok nasi.

tambahan:
Anam: Naiak haji apabilo mampu….

Tigo prinsip urang awak dirantau:

Ciek: indak buliah mancilok kacuali tapaso
duo: orang mudo, indak ganjo,indak gayo
tigo: dilarang baranciak kacuali suko samo suko…
Baca selengkapnya »

Tags: , , , ,

Rekonsiliasi dengan Korban 1965

Saturday, 2 October 2004 | 1,428 views

Oleh Salahuddin Wahid

SAAT berusia 10 tahun, saya melihat sebuah foto di ruang kerja ayah saya, yang menunjukkan gambar seorang lelaki dengan mata tertutup berdiri menghadapi beberapa orang yang mengacungkan senjata. Saya bertanya siapa lelaki itu dan apa yang sedang dialaminya. Ayah menjawab, lelaki itu anggota PKI yang terlibat pemberontakan di Madiun (1948).
[@more@]
Menurut beliau, pemberontakan itu membunuh banyak kiai di sekitar Madiun, banyak di antaranya yang punya hubungan darah dengan kami. Jawaban ayah saya tentang pembunuhan oleh anggota PKI terhadap keluarga kami langsung saya percaya dan sangat membekas di dalam diri saya dan tidak mungkin saya lupakan sampai kapan pun. Saya yakin banyak sekali orang yang berpendapat sama dengan saya.

Kini telah terbit banyak buku yang membantah apa yang saya yakini itu. Menurut para penulis buku itu, peristiwa (bukan pemberontakan) Madiun adalah buah persengketaan antara TNI dan laskar-laskar revolusi lainnya. Dan juga merupakan konflik internal Angkatan Darat. Penulis buku-buku itu berpendapat bahwa PKI hanya menjadi kambing hitam dan korban perang dingin. Yang dipersalahkan adalah mereka yang antikomunis dan memanipulasi peristiwa itu lalu menyebutnya sebagai pemberontakan.

Ada tiga buku yang saya punya. Pertama berjudul PKI Korban Perang Dingin (Sejarah Peristiwa Madiun) yang berisi kumpulan tulisan yaitu tulisan DN Aidit berjudul Menggugat Peristiwa Madiun, tulisan Suar Suroso berjudul PKI, Korban Pertama Perang Dingin, tulisan Jacques Leclerc tentang Amir Syarifudin dan tulisan Musso berjudul Jalan Baru.

Buku kedua berjudul Negara Madiun? (Kesaksian Soemarsono, Pelaku Perjuangan). Hasil diskusi panjang Arief Budiman dengan Soemarsono itu ditambah kajian yang dilakukannya lalu dikembangkan dan ditulis oleh Hersriawan, yang pernah menjadi tapol di Pulau Buru. Buku ketiga berjudul Peristiwa Madiun 1948. Kudeta atau Konflik Internal Tentara yang ditulis oleh David Charles Anderson.

Amat sulit untuk mengubah opini orang yang yakin bahwa PKI terlibat dalam pemberontakan Madiun. Tetapi warga masyarakat yang masih berusia muda cenderung untuk mempercayai isi buku-buku di atas. Bagi mereka PKI adalah korban Orde Baru yang mereka ketahui sebagai pemerintahan otoriter yang korup.

TANGGAL 1 Oktober 1965 pagi, kami sekeluarga mendengarkan dengan saksama pengumuman radio dari Dewan Revolusi. Reaksi spontan kami sekeluarga: di belakang Dewan Revolusi adalah PKI. Kami punya reaksi itu karena selama beberapa tahun sebelumnya telah menyaksikan terjadinya “perang” antara PKI dan kawan-kawan melawan kekuatan politik lain yang meliputi kalangan Islam, agama lain, kelompok sosialis, TNI, dan lain lain. Kedua kekuatan yang bertentangan itu berusaha menarik Bung Karno ke arah kelompok mereka.

Keluarga serta kawan kami di Jawa Timur mengisahkan banyak peristiwa yang mencerminkan runcingnya pertentangan antara pihak PKI serta lawannya, yang sudah sampai di lapisan masyarakat paling bawah. Boleh dibilang tingkat pertentangannya sudah sampai pada puncaknya, tinggal menunggu meletus dalam konflik fisik terbuka yang meluas.

Reaksi spontan kami dalam menanggapi gempa bumi politik saat itu sama dengan reaksi puluhan juta orang lain. Apa yang terjadi saat itu tentu tidak mungkin dinilai dengan tatanan sosial politik pada saat ini. Kini setelah 39 tahun berlalu, saya merasa reaksi spontan kami itu adalah wajar dan sesuai dengan pengalaman dan tatanan sosial politik waktu itu. Tentu saja, bersikap menyatakan PKI terlibat G30S bukan berarti kami menyetujui tindakan pembunuhan terhadap sekian banyak orang yang dituduh sebagai anggota PKI.

Pada tahun 1969 terbit tulisan Arnold C Brackman, Cornell Paper: Communist Collapse in Indonesia yang mengemukakan pendapat bahwa G30S bukan kudeta PKI tetapi merupakan konflik internal Angkatan Darat. Saya punya buku berjudul G 30 S, Sejarah Yang Digelapkan, Tangan Berdarah CIA dan Rejim Soeharto karya Harsutejo. Buku yang lain berjudul Membongkar Jaringan CIA karya Yoshiro Mushasi, yang menggali kemungkinan peran CIA dalam penggulingan Soekarno. Buku ketiga berjudul Kudeta Angkatan Darat karya Geoffrey B Robinson. Masih banyak lagi buku lain dengan opini yang sama.

Menanggapi tuntutan untuk melakukan penulisan kembali sejarah Indonesia yang dianggap mengandung banyak pemalsuan, dibentuklah tim untuk melakukan tugas itu yang dipimpin oleh Dr Taufik Abdullah. Tetapi tampaknya tidak mudah bagi tim itu untuk menuliskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam peristiwa G30S. Ada semacam kabut tebal yang menyelimutinya hingga sulit untuk mengungkap kebenaran. Versi manapun yang diakui atau dianggap benar, pasti tidak akan diterima dan menimbulkan reaksi keras dari pihak yang berlawanan.

Masalah utama peristiwa G30S adalah pembunuhan dalam jumlah amat besar terhadap siapa pun yang dianggap sebagai anggota PKI dan onder-bouwnya, yang dilakukan tanpa melalui proses hukum. Beberapa buku mengungkap bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh sebagian warga masyarakat atas perintah sejumlah aparat tentara yang dilakukan di berbagai tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. Tampaknya saat itu paradigma TNI menganggap komunis sebagai musuh bangsa. Paradigma itu tentu merupakan hasil perjalanan kesejarahan TNI sejak awal kemerdekaan. Tetapi pembunuhan massal itu bukan implementasi yang tepat dari paradigma TNI itu dipandang dari perspektif kemanusiaan, walaupun perspektif politik dan militer mungkin bisa dianggap tepat.

Di Jawa Timur banyak warga NU dan Ansor ikut terlibat dalam pembunuhan itu. Mereka terlibat kekejaman itu karena tidak dapat menghindar dari instruksi tentara dan juga karena merasakan suasana peperangan yang hidup di dalam masyarakat. Suasana semacam itu terbangun akibat konflik fisik yang mereka alami selama beberapa tahun terakhir, yang tentu bernuansa membunuh atau dibunuh dari pada dibunuh. Tetapi perlu disadari bahwa kalau kita memahami suasana sosial saat itu tidak berarti kita menyetujui tindakan itu.

BEBERAPA tahun terakhir terjadi gejala menarik dan positif. Sejumlah anak muda NU yang tergabung dalam Syarikat memulai langkah awal untuk bisa mewujudkan rekonsiliasi sosial dengan keluarga korban peristiwa 1965. Mereka melakukan silaturrahim dengan keluarga mantan tapol di berbagai tempat. Mereka juga menerbitkan buletin RUAS yang khusus membahas materi yang berkaitan dengan upaya rekonsiliasi. Tetapi langkah anak muda NU itu tampaknya belum mendapatkan tanggapan positif dari mayoritas warga NU.

Kita sadar bahwa rekonsiliasi dengan korban pelanggaran HAM yang berat masa lalu harus segera dilakukan. Tapi kita juga tahu bahwa tidak mudah untuk melakukannya. UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) ternyata tidak mudah untuk melakukannya. UU KKR ternyata tidak memuaskan karena lebih memihak kepada pelaku pelanggaran. Perlu kita ketahui bahwa rekonsiliasi itu tidak hanya antara pelaku dengan korban dan keluarga, tetapi juga antara masyarakat secara umum dengan korban dan keluarga. Yang pertama bernuansa hukum dan yang kedua lebih bernuansa sosial. Jenis yang kedua itulah yang ingin dilakukan oleh kalangan muda NU yang tergabung dalam Syarikat itu bisa dilakukan tanpa dikaitkan dengan UU KKR. Masing-masing bisa berjalan sendiri dan saling mendukung.

Di dalam kalangan NU-terutama generasi tua-tidak mungkin untuk mengubah perspesi tentang keterlibatan PKI dalam peristiwa Madiun dan peristiwa G30S. Wajar kalau mereka masih belum bisa melupakan pengalaman buruk dengan PKI. Kecurigaan terhadap PKI juga masih cukup tinggi. Kondisi itu tidak mendukung upaya rekonsiliasi dengan korban G30S dan keluarganya yang ingin dilakukan oleh kalangan muda NU. Mantan tapol dan keluarganya berjumlah amat besar, demikian pula warga NU. Jadi terwujudnya rekonsiliasi antara kedua komunitas itu akan memberi dampak positif bagi kehidupan bangsa di masa mendatang.

Rekonsiliasi itu membutuhkan kesediaan semua pihak untuk melakukannya. Membutuhkan ketulusan, kejujuran dan keterbukaan, menghendaki hilangnya prasangka didalam diri masing-masing. Juga membutuhkan kesabaran, kesungguhan, dan kerja keras. Serta membutuhkan waktu yang amat panjang. Makin cepat dilakukan, makin baik.

Sudah saatnya NU-jama’ah dan jami’yah-mempertimbangkan bagaimana sebaiknya menyikapi masalah rekonsiliasi sosial warga NU dengan mantan tapol dan keluarganya. Sudah cukup jauh jarak waktu dengan tahun 1965 sehingga tidak terlalu sulit bagi NU untuk mengambil sikap yang tepat. Dalam posisi sebagai Presiden, Gus Dur telah membuka jalan dengan meminta maaf kepada korban dan keluarga mereka. Kegiatan kalangan muda NU dalam Syarikat adalah langkah awal bagi tujuan mulia yang merupakan sumbangsih besar NU yang kesekiankalinya bagi bangsa.

Salahuddin Wahid Mantan Ketua Tanfidziyah PBNU

Sumber : Kompas

Postingan Lucu.. Tulisan yang Biasanya Ada di Truk atau Angkot

Sunday, 26 September 2004 | 2,629 views

Postingan Lucu Nih! tulisan blakang bis/truk Message: Message: kalo lo suka merhatiin kaca belakang bis atau bagian belakang truk, pasti ada tulisan-tulisan yang lucu dan kadang rada garing..[@more@]
- Star Stir Stor
- Pa, Kapan Mama Pulang
- Itukan Perasaanmu Saja
- Patas Serba Salah
- Demi Nyai
- Roda-roda gila
- Aku Pergi Karena Tugas
- Tuh Dia Patas 54
- Faforite (nulisnya pake F bukan pake V)
- Bukan Pria Biasa
- Artis
- Memory
- Optimis
- Kutunggu Jandamu
- Gadis Pantura
- P 6 pilan 1/3 Dis (Penampilan Seperti Gadis)
- Ber 217 an (Berdua Satu Tujuan)
- BOEDOET
- KAPAL
- PENERBANGAN

kalo ada lagi lo tambah jangan lupa!!!!

(:VaL-DoS:)
-Kanan Langsung
-Kiri Hati2…….. (kebalikan rambu LL)
-Terus Nabrak….. (:Kalo lg Over Load:)

1nul:
>Jiwasraya—>metromini 604
>Gadis Desa (ada gambar cewe bohay n
montog)—>truk daerah yg lagi di Jakarta.:

~no”Mmy”~
b 2 1 7an
(bedua satu tujuan…yaiksss!!!)

DOni
- Kang Aku Malu…
- Maju Lancar
- Pah, Mamah Rela..
- Kunanti Jandamu..

Princess:
1 yg gw inget mati “KASIH ITU TIDAK
CEMBURU”…. ada di kopaja yg mlintas sudirman !

Galih: huahuahua ngehe baru mo nulis aja udah
mo ngakak.

1. Metromini 74 tulisannya THE ME IS THREE
(demi istri jek!!! huahahaha)
2. Kopaja, gw lupa nomer brapa, ada gambar
cewe bohai tulisannya “PERAWAN MAGETAN”
3. Mikrolet kijang taun jebot gitu tulisannya “Raga
Tua”.

4. Metromini gw lupa nomernya ada gambar
cowo
mas2 dr samping tulisannya “PRIA ACUH”

GALUH: bwahahhaha.. kocak abiss
yg baru gw liat 3 hari yang lalu di truk yg melintas
di tol pancoran : “JANGAN AMBIL SUAMIKU”

BERI JALAN ORANG CINA

Tuesday, 21 September 2004 | 1,143 views

Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Sumber: Editor, 21 April 1990

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah.

Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau

mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena

memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti

nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan.

Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa

lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara

harta dan nata.

[@more@]
Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg

di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan

orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan

dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa?

Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan

akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal

dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan

kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh

melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk

pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk

AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak

akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan,

namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit

umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan

kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi

eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif

yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu

sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau,

karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha

berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.

Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab

kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata

tidak membawa keberuntungan.

Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan

hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya

sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan

si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak

faktor kemiskinan. Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi

kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.

Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan

bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun

mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka,

dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka:

bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari

kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi

intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah

’sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya.

Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor

usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu

dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan

akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan

hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak

rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa

dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam

alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat

diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.

Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh ‘posisi

kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu

dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka.

Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang

hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan

kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti

saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas

maupun mayoritas. Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan

kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi

tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?

Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana

orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan

masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal

mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari

campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina,

karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan

upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk

tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang

mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan

kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya

mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus

dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan

cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua

bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang

ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan

apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga

harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus

dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina

sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala

rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari

orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan

kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang

mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini

berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan

yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah makan atau

belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya

kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh

mengganggu keserasian hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada

dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus

dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga ‘keanehan’

suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara

pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit

etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian

sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena

stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus
melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan
orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan

“menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan dan

argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada

keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang

sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan

kehadiran mereka. Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu

kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan

keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang

harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin. Mengapakah hal itu

menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair

dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong

timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan
pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak.

* Selamat Berdiskusi *

* Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok *
* Untuk bergabung : budaya_tionghua-subscribe@yahoogroups.com *

Cerita Orang-Orang Bodoh dan "Pelupa" [1]

Thursday, 26 August 2004 | 525 views

“Omongan orang bodoh bukti paling tepat menunjukkan kebodohannya” hal. 28-30

Salah satu tanda orang “bodoh”, kecil telinganya dan juga dikenal dari cara berjalan dan keraguannya. Dan omongan orang bodoh adalah bukti paling kuat atas kebodohannya.

Abu al-Qasim Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, dia berkata: “Sampai kepadaku bahwa al-Mahdi ketika selesai dari pembangunan ‘IsaBaz’, dia berkunjung bersama rombongan kecil untuk melihat, maka di sana orang-orang pun disuruh keluar. Tersisa dua orang yang terlepas dari perhatian para pembantu. al-Mahdi sempat melihat salah seorang yang nampaknya bingung dan tidak berakal (bego). al-Mahdi menyapa: “siapa kamu?” Dia menjawab: “saya.. saya.. saya..” al-Mahdi: “Sial kamu.. siapa kamu?” Dia menjawab: “Tidak tahu.” al-Mahdi: “Apakah kamu ada keperluan?” Dia menjawab “Tidak.. Tidak..” al-Mahdi: “Keluarkan dia.. semoga Allah mengeluarkan dia.” Didorong bahunya sehingga keluar. al-Mahdi lalu memerintahkan salah seorang pembantunya, “kuntit dia dan cari tahu tentangnya dan pekerjaannya, aku kira dia seorang penenun.” Pembantu itu pun keluar mengikutinya.

Kemudian dia melihat satu orang lagi dan mengajaknya bicara. Orang itu menjawab dengan tegas, lancar dan berani. al-Mahdi: “Siapa kamu?” Dia: “Aku seorang lelaki dari para laki-laki pendukungmu.” al-Mahdi: “Apa yang membuatmu datang kemari?” Dia: “Saya datang untuk melihat bangunan yang indah ini dan menikmatinya. Saya perbanyak doa buat Amirul Mu’minin semoga panjang umur, murah rezeki, mendapatkan kemuliaan dan keselamatan.” al-Mahdi: “apakah kamu ada keperluan?” Dia: “Ya.. aku meminang gadis anak pamanku, tapi ayahnya menolak dan berkata kepadaku, kamu tidak punya uang, orang-orang membutuhkan uang. Padahal saya sangat mencintainya.” al-Mahdi: Saya perintahkan untuk memberimu 50.000 dirham.” Dia: “Allah jadikan aku tebusanmu. Kamu menyambung tali, kau kuatkan ikatan, dan kau memberi, kau besarkan pemberian. Semoga Allah menjadikan sisa umurmu lebih panjang dari sebelumnya, Hari-hari terakhirmu lebih baik dari awalnya. Dan memberikan kenikmatan dengan nikmat yang Ia berikan dan kau berikan kenikmatan pada rakyat dengan kenikmatanmu.” al-Mahdi mempercepat lagi pemberiannya dan mengarahkan pembantu khususnya dan berkata: “cari tahu pekerjaanya, aku kira dia seorang penulis (sekretaris).”

Selang waktu, Utusan pertama datang dan melaporkan bahwa dia adalah seorang penenun dan utusan kedua melaporkan bahwa dia adalah seorang penulis. al-Mahdi berkomentar: “memang nampak perbedaan berbicara dengan tembok (text aslinya, walau saya kira salah cetak, mungkin kata yang benar berarti penenun), dan penulis.


Personal Blogs

cool hit counter

Free PageRank Checker