Saturday, 21 May 2005 | 858 views
Tenang aja pak, tidak usah takut. Paling-paling kalau tertangkap cuman dihukum 5 tahun aja kok. Itu pun baru ancaman loh bukan putusan yang mengikat. Coba bapak pikirkan, apa bedanya sih 5 tahun–atau bahkan 10 tahun juga–dengan masa sekolah saya di sini. Sudah 10 tahun di sini betul-betul tidak terasa, tapi apa keuntungan yang saya dapatkan?! Makanya pak, kalau ada kesempatan nilep duit negara ya tilep aja.. banyak orang juga berpikiran sama hanya kesempatannya saja yang berbeda.[@more@]
Begitulah ilustrasiku hari ini tentang Negri Buram. Disebut punya bentuk sih iya.. tapi bentuk yang seperti apa? banyak orang juga akan bingung menjelaskannya. Pancasila cuman hapalan SD dan nyanyian upacara. Retorika kebajikan dan moral tak henti-hentinya berdenyut di setiap sendi. Andai berupa kertas-kertas tertulis, bisa jadi sudah mencapai ketinggian langit. Tapi kebajikan dan moral hanyalah jualan yang paling laku untuk membeli suara dan suara-suara itulah yang mengangkat kedudukan seseorang. Layaknya barang dagangan yang lain, setelah terbeli memang tak ada urusannya lagi dengan penjual. Mau dibuang, mau diinjak-injak, mau dijadikan poster dan spanduk, mau dijadikan wallpaper, atau mau dijadikan barang antik dalam lemari kaca. Terserah..!!
Negri Buram ini hanya berupa sketsa dasar yang bisa berubah-ubah sesuai dengan siapa yang menanganinya. Tidak jauh berbeda dengan bentuk manusia-manusia dalam mengkondisikan keimanannya. Ada yang merasa Tuhannya hidup dalam dirinya sehingga mengaku Tuhan. Ada yang meyakini Tuhannya di dalam dirinya sehingga merasa menjadi orang yang paling berwenang dalam menentukan keyakinan dan kemauan orang lain, memvonis pendapat, menetapkan tersangka agama, bahkan melegalkan darah. Ada yang mengkondisikan Tuhannya sebagai Maha Pengampun sehingga dengan jumawa tampil ke depan umum merampok, merampas, dan mencuri hak orang lain. Dan sebagainya dan sebagainya.
Saking buramnya negri ini hingga kita sendiri tidak tahu pasti entah seperti apa bentuknya yang sebenarnya. Seperti lingkaran hutan kah? Tidak persis juga. Di Hutan sudah jelas siapa kuat dia menang, siapa licik dia tokoh. Negri ini? Memang ada persisnya juga seperti itu tapi lagi-lagi tidak pasti.. sketsanya Buram! Seperti lingkaran Bermuda? Persis juga, ada pengusaha, ada penguasa dan ada preman. Seperti lingkaran setan? mungkin iya pada sisi sama-sama buram. Kita tidak tahu lingkaran setan itu seperti apa. Dan buramnya negri ini juga seperti itu, kita tidak tahu persis. Tapi Negri ini masih ada garis-garis sketsa. Itu bedanya. Mungkin yang paling buruk, negri ini memang sengaja buram karena setan-setan sedang berubah wujud dalam bentuknya seperti sekarang. Sehingga sengaja untuk membuat kita semakin bingung dengan buramnya negri ini sama bingungnya dengan kita ketika melihat buramnya wajah-wajah itu, apakah manusia ataukah setan?! Bingung dan juga menakutkan.
Mungkin ini baru awal penampakan..!
Posted in Ocehan | 1 Comment »