Sunday, 28 February 2010 | 62 views
Presiden itu baik. Orangnya ramah, tampan, dan berwibawa. Wakil Presiden juga baik. Sepanjang pengetahuan kami yang orang-orang kampung ini, para menteri juga baik. Para pejabat dan pegawai negri juga baik. Kami tahu orang-orang pasti akan berlomba untuk menjadi pejabat dan pegawai negri, karena pasti baik. Tidak mungkin orang berlomba untuk tidak baik. Mereka semua baik, dan juga benar.
Tidak mungkin rakyat memilih seseorang menjadi presiden kalau dia bukan orang baik. Kami tidak bisa membayangkan misalnya ada seorang preman pasar, badannya penuh tato, ada anting-anting di telinga atau hidungnya, gemar menegak minuman keras, lalu dipilih oleh rakyat jadi presiden atau wakil presiden, anggota dewan, atau dipilih menjadi pegawai negri. Itu rasanya tidak mungkin. Pada prinsipnya, pastilah mereka yang terpilih itu baik.
Kami pikir tidak cukup bijak untuk menuduh mereka, atau salah satu di antara mereka, hal yang bukan-bukan. Apa yang sedang menimpa kami tidak ada sangkut pautnya dengan kebijakan atau tindakan mereka yang tentu terhormat itu. Siapa bilang menteri kehutanan yang harus bertanggung jawab. Tidak penah menteri kehutanan, atau menteri lain, atau anggota dewan, atau pejabat, atau pegawai utusan datang ke sini untuk menyuruh membuat longsor, atau banjir, atau lumpur. Tidak. Itu pasti tidak benar. Kalau ada, itu gosip belaka.
Alamlah sebenarnya yang jahat. Alamlah yang busuk, tidak punya rasa perikemanusiaan. Alamlah yang kejam. Alamlah yang membuat kami terkejut, lalu menjerit, lalu menangis, lalu ia menebarkan bau busuk bangkai ke mana-mana, dan akhirnya membuat kami menderita. Alamlah yang sama sekali tidak punya belas kasihan. Alamlah yang tidak punya empati, tidak punya hati nurani, semaunya, berlaku kejam tanpa ampun. Sewenang-wenang.
Alamlah yang tidak pernah mau tahu siapa saja yang akan menjadi korbannya, tidak pernah bisa berhitung berapa rumah yang perlu ia luluh lantakkan, seberapa pedih jerit tangis yang akan ia dengarkan, berapa jumlah anak yang menjadi yatim dan piatu, istri kehilangan suami, dan kehilangan saudara. Tidak. Ia tidak butuh semua itu. Perangai alam memang bengis. Tidak ada baginya teori berhitung kerugian, tidak ada rumusan penderitaan, bahkan definisinya, bahkan maknanya, apalagi rasanya.
Baca selengkapnya »
Tags: alam, banjir, bencana, longsor, tsunami
Posted in Tatapan | No Comments »